Teknologi

Dilema Agen AI: Strategi Jangka Panjang Amazon dan JPMorgan

Dilema Agen AI: Strategi Jangka Panjang Amazon dan JPMorgan

Sejumlah nama besar di sektor perbankan dan ritel mulai menghadapi era agen pribadi kecerdasan buatan (AI) yang kian marak. Perusahaan seperti JPMorgan Chase, Charles Schwab, Amazon, Neiman Marcus, hingga Kohl’s mengambil langkah untuk memblokir agen AI seperti Meta Muse demi mengantisipasi konsumen yang mencari tingkat tabungan lebih baik, berbelanja diskon, hingga membatalkan langganan.

Pertentangan Akses dan Keamanan

Ketidakpastian mengenai masa depan lanskap bisnis mencuat seiring seruan legislator seperti Senator Mark Warner dan Senator Bernie Sanders untuk membuat regulasi bot. Langkah ini menyusul pernyataan CEO JPMorgan Chase, Jamie Dimon, yang menyebut bank tersebut saat ini menutup akses bagi agen AI eksternal yang beroperasi atas nama nasabah ritel dengan alasan risiko keamanan.

Sebaliknya, sebagian peritel justru menyambut tren ini. Walmart mengumumkan pembukaan akses bagi agen AI yang ingin digunakan oleh pelanggan, dengan menegaskan bahwa harga yang dilihat agen AI sama persis dengan yang dilihat manusia di situs mereka.

Audit baru dari Billions Network dan AmanTrue terhadap 51 peritel besar di Amerika Serikat menunjukkan hanya 11 yang memiliki posisi tegas terkait agen AI. Lima di antaranya, termasuk Amazon, Kohl’s, dan Neiman Marcus, secara eksplisit melakukan pembatasan, sementara 37 peritel lainnya memblokir agen belanja secara tidak sengaja melalui aturan bot lama yang ditujukan untuk pengikis data.

Michael Abbott, pemimpin perbankan global di konsultan Accenture, berpandangan bahwa bisnis yang memilih memblokir agen AI akan kesulitan menang dalam jangka panjang. Menurut riset Accenture, sebagian besar konsumen terbuka menggunakan asisten keuangan berbasis AI atau asisten di aplikasi perbankan utama mereka.

Di sisi lain, Michael Jabbara selaku kepala risiko dan kontrol ekosistem pembayaran di Visa, menyatakan bahwa risiko penipuan dari agen AI bersifat nyata dan berwujud. Konsumen dapat tertipu oleh agen palsu atau agen resmi yang bertindak di luar niat pengguna, sehingga isu utama berkisar pada kejelasan identitas dan perizinan agen tersebut.

Tantangan Infrastruktur dan Loyalitas Merek

Lonjakan penggunaan agen AI juga memunculkan kekhawatiran akan beban sistem atau yang disebut sebagai banjir agen. Pakar AI dari Wharton School, Ethan Mollick, menyoroti potensi serangan penolakan layanan legal terhadap departemen layanan pelanggan akibat jutaan permintaan yang dibuat agen secara simultan.

Menanggapi hal tersebut, Abbott menilai fenomena ini lebih merupakan tantangan infrastruktur ketimbang ancaman eksistensial. Solusinya bukanlah melakukan pemblokiran, melainkan membangun infrastruktur generasi berikutnya yang mampu mengautentikasi agen terpercaya dan mengelola interaksi antar-mesin.

Kendati demikian, Joseph Chalom selaku CEO SharpLink menduga para petahana akan tetap menutup akses untuk sementara waktu demi melindungi model bisnis mereka dari disrupsi. Agen AI dapat dengan mudah memindahkan dana menganggur dari rekening koran ke instrumen dengan imbal hasil jauh lebih tinggi, sehingga memangkas margin keuntungan perbankan.

Perubahan ini juga akan menguji loyalitas merek secara drastis karena agen AI tidak memiliki keterikatan emosional terhadap logo atau sejarah hubungan masa lalu. Menurut presiden perangkat lunak di FICO, Nikhil Behl, faktor pendorong loyalitas tradisional akan digantikan oleh parameter yang dapat dibaca oleh agen, seperti persetujuan yang konsisten, harga transparan, serta penyelesaian yang cepat.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *