Otomotif

VW Catat Kerugian Besar akibat Penurunan Nilai Porsche

VW Catat Kerugian Besar akibat Penurunan Nilai Porsche
Daftar Isi
  1. Volkswagen Terperosok akibat Penurunan Nilai Porsche
  2. Hyundai dan Toyota Alami Penurunan Penjualan
  3. Carvana Catatkan Kinerja Positif dan Kenaikan Harga BBM

Tiga raksasa otomotif dunia, yakni Volkswagen, Hyundai, dan Toyota, melaporkan penurunan kinerja keuangan serta penjualan pada kuartal ketiga tahun ini akibat ketatnya persaingan dan lesunya permintaan global. Di sisi lain, pengecer kendaraan asal Amerika Serikat, Carvana, justru mencatatkan lonjakan keuntungan signifikan pada periode yang sama.

Volkswagen Terperosok akibat Penurunan Nilai Porsche

Volkswagen Group mencatatkan kerugian operasional sebesar 6,6 miliar dolar AS pada kuartal ketiga. Hasil ini menjadi kinerja keuangan terburuk pabrikan asal Jerman tersebut dalam lebih dari satu dekade terakhir, dipicu oleh beban non-rutin sebesar 8,9 miliar dolar AS yang sebagian besar berasal dari penurunan nilai penurunan porsi kepemilikan sahamnya di Porsche.

Kerugian ini merupakan defisit kuartalan terbesar bagi Volkswagen sejak kuartal keempat tahun 2015 saat terjerat skandal emisi Dieselgate. Seperti dilaporkan Reuters, perwakilan perusahaan menyatakan hasil ini menegaskan perlunya percepatan perombakan model bisnis di tengah persaingan sengit di Tiongkok, tingginya tarif tahunan, dan kebutuhan investasi besar untuk transisi ke kendaraan listrik di Eropa.

Sebagai bagian dari langkah restrukturisasi, CEO Volkswagen Oliver Blume berencana memangkas hingga 100.000 pekerjaan di seluruh grup, termasuk merek Audi dan Porsche. Rencana penutupan hingga empat pabrik di Jerman juga memicu penolakan keras dari serikat pekerja yang berpotensi berujung pada aksi mogok kerja pada awal tahun depan.

Direktur Keuangan Volkswagen Arno Antlitz mengungkapkan bahwa margin imbal hasil operasional atas penjualan sebelum beban non-rutin hanya mencapai 3,8 persen dalam sembilan bulan pertama tahun ini. Angka tersebut dinilai tidak cukup untuk jangka panjang, di mana perusahaan menargetkan margin laba operasional sebesar 8 hingga 10 persen pada 2030. Sebelumnya pada September, Volkswagen telah memangkas proyeksi margin laba tahun 2026 menjadi tidak lebih dari 1 persen, turun drastis dari capaian mendekati 8 persen pada 2022.

Hyundai dan Toyota Alami Penurunan Penjualan

Pabrikan asal Korea Selatan, Hyundai, turut memangkas target penjualan dan pendapatan tahunan akibat penurunan permintaan global, kenaikan harga bahan baku, serta gangguan produksi akibat perselisihan tenaga kerja. Seperti dilaporkan The Wall Street Journal, Hyundai merevisi target penjualan kendaraan tahun 2026 dari 4,16 juta unit menjadi 4,0 juta unit.

Hyundai juga menurunkan target margin laba operasional tahunan menjadi 5,5 hingga 6,5 persen dari sebelumnya 6,3 hingga 7,3 persen, serta memangkas rencana investasi dari 17,8 triliun won menjadi 16 triliun won. Pada kuartal ketiga, laba bersih Hyundai turun 24 persen secara tahunan menjadi 1,932 triliun won (sekitar 1,44 miliar dolar AS), di bawah estimasi konsensus FactSet sebesar 2,406 triliun won. Penjualan grosir secara global turun 11 persen, sementara penjualan eceran turun 10 persen. Namun, pasar Amerika Serikat menunjukkan pertumbuhan penjualan eceran sebesar 3,5 persen berkat tingginya permintaan untuk model hibrida dan SUV.

Kondisi serupa dialami Toyota, yang mencatatkan penurunan penjualan dan produksi global selama tiga bulan berturut-turut hingga September. Berdasarkan data yang dikutip Reuters, penjualan global Toyota turun 2,2 persen secara tahunan menjadi 860.107 unit, sedangkan produksi turun 3,2 persen menjadi 889.079 unit.

Penjualan Toyota di Tiongkok merosot 19,7 persen, memperpanjang penurunan selama delapan bulan berturut-turut akibat lonjakan harga bahan bakar yang menekan permintaan mobil bensin dan hibrida. Selain itu, penjualan Toyota di Timur Tengah anjlok 29,8 persen, meski penjualan eceran di Amerika Serikat berhasil tumbuh 8,4 persen dan di Jepang naik 1,8 persen.

Carvana Catatkan Kinerja Positif dan Kenaikan Harga BBM

Berbeda dari para produsen kendaraan, perusahaan pengecer mobil bekas dan baru Carvana mencatatkan lonjakan laba bersih kuartal ketiga sebesar 84 persen menjadi 483 juta dolar AS. Pendapatan perusahaan melonjak 42 persen hingga melampaui 8 miliar dolar AS, dengan volume penjualan mencapai 217.385 unit kendaraan dalam satu kuartal.

Seperti dilaporkan Automotive News, CEO Carvana Ernie Garcia dan CFO Mark Jenkins menyatakan dalam surat kepada pemegang saham bahwa perusahaan kini berada pada jalur untuk menjual sekitar 870.000 kendaraan per tahun. Carvana menargetkan penjualan hingga 3 juta unit kendaraan secara eceran per tahun pada rentang 2030 hingga 2035. Ekspansi ini didukung oleh akuisisi tujuh dealer Chrysler-Dodge-Jeep-Ram sejak Februari 2025 serta perluasan unit bisnis lelang ADESA.

Di sisi lain, harga bahan bakar minyak (BBM) di Amerika Serikat tercatat mengalami penurunan tipis sebesar 2 sen menjadi rata-rata 4,23 dolar AS per galon untuk bensin dan 6,33 dolar AS per galon untuk diesel. Menurut data AAA, penurunan ini relatif lambat karena harga minyak mentah masih tertahan di level tinggi, dengan minyak mentah WTI berada di kisaran 101 dolar AS per barel dan Brent di kisaran 110 dolar AS per barel.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *