Dunia

Laboratorium Nuklir AS Terbakar, Status Darurat Dicabut

Laboratorium Nuklir AS Terbakar, Status Darurat Dicabut

Kebakaran melanda Savannah River National Laboratory di South Carolina, Amerika Serikat, sebuah fasilitas riset yang berada di dalam kompleks produksi material senjata nuklir milik Departemen Energi AS. Pihak berwenang memastikan kobaran api berhasil dipadamkan dan tidak ditemukan laporan kontaminasi di luar area fasilitas.

Kronologi Penanganan Keadaan Darurat

Berdasarkan laporan CNN International, keadaan darurat diumumkan oleh tim tanggap darurat Savannah River Site pada Rabu (28/10/2026) pukul 17.39 waktu setempat. Kebakaran yang berlokasi di dekat Kota Aiken tersebut sempat menyebabkan akses lalu lintas di gerbang masuk kompleks dihentikan sementara, serta memicu pembatasan pergerakan transportasi kereta api, sungai, dan udara di sekitarnya.

Sebagai langkah pencegahan, para pekerja di area terdampak diperintahkan untuk berlindung di dalam bangunan, kecuali personel yang bertugas langsung mengatasi kebakaran atau menghentikan operasional fasilitas. Warga di pemukiman sekitar juga diminta memantau perkembangan situasi melalui siaran media lokal.

Kondisi keamanan kembali terkendali beberapa jam setelah insiden terjadi. Pengelola kawasan menyatakan pada pukul 21.18 bahwa tidak ada penundaan operasional maupun gangguan jadwal, diikuti dengan pembukaan kembali seluruh pintu masuk. Status darurat secara resmi diakhiri pada pukul 21.45, dan para pegawai pada shift berikutnya diizinkan bekerja seperti biasa.

Fungsi Fasilitas dan Perkembangan Proyek Nuklir

Kompleks Savannah River Site berada di bawah pengawasan National Nuclear Security Administration (NNSA), yaitu badan semiotonom yang mengurus keamanan nuklir Amerika Serikat. Pengelolaan kawasan ini terbagi antara dua kontraktor swasta, yakni Battelle Savannah River Alliance yang mengoperasikan laboratorium dan Savannah River Nuclear Solutions LLC yang memegang fasilitas pertahanan, dengan total tenaga kerja mencapai lebih dari 13.000 orang.

Didirikan pada era 1950-an, kawasan tersebut semula difungsikan untuk memproduksi tritium dan plutonium sebagai bahan baku senjata nuklir AS. Hingga saat ini, lokasi tersebut masih aktif memproduksi tritium, mengolah bahan bakar nuklir bekas, serta menyimpan cadangan uranium dan plutonium. Namun, area laboratorium yang mengalami kebakaran khusus berfokus pada kegiatan penelitian dan bukan merupakan tempat penyimpanan material skala besar.

Kawasan tersebut juga memegang peran vital dalam rencana pemerintah AS meningkatkan kapasitas produksi inti peledak senjata nuklir atau plutonium pits. Publikasi industri Exchange Monitor mencatat proyek pembangunan fasilitas baru tersebut diperkirakan membutuhkan biaya hingga US$23,5 miliar, meski sejauh ini belum ada indikasi yang mengaitkan proyek tersebut dengan peristiwa kebakaran yang terjadi.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *