Dunia

Pemilu Israel: Warga Gaza Cemas Hasil Suara Tentukan Nasib

Pemilu Israel: Warga Gaza Cemas Hasil Suara Tentukan Nasib
Daftar Isi
  1. Fokus Kampanye yang Mengabaikan Krisis Kemanusiaan
  2. Pesimisme Warga di Tengah Perjuangan Hidup Sehari-hari
  3. Krisis Pangan dan Ketakutan Akan Masa Depan

Warga Palestina di Gaza bersiap menghadapi hasil pemilihan umum Israel yang dinilai akan menentukan masa depan mereka. Di tengah wilayah yang hancur lebur dan korban tewas mencapai hampir 75.000 jiwa, penderitaan kemanusiaan di Gaza justru hampir tidak mendapat perhatian dalam kampanye politik Israel.

Fokus Kampanye yang Mengabaikan Krisis Kemanusiaan

Baik koalisi sayap kanan pimpinan Benjamin Netanyahu maupun partai oposisi Yashar yang diketuai Gadi Eisenkot sama-sama berfokus pada tujuan menghancurkan Hamas. Aksi ini menyusul serangan 7 Oktober dan trauma yang melanda masyarakat Israel, sementara bencana kemanusiaan di perbatasan diabaikan.

Sami Abu Rumi, warga berusia 47 tahun asal Rafah yang mengungsi di al-Mawasi, Khan Younis, menyatakan bahwa ia berharap pemerintah Israel yang baru nanti tidak terlalu condong pada pembunuhan, pengusiran, dan pemusnahan. Kendati demikian, ia menilai pola pikir para pemimpin Israel pada dasarnya tetap sama.

Baik Netanyahu maupun Eisenkot belum memaparkan rencana konkret untuk masa depan Gaza, meskipun keduanya berikrar mengakhiri kekuasaan Hamas dan mendukung rencana perdamaian Donald Trump. Eisenkot, mantan kepala militer yang partainya memimpin jajak pendapat atas Likud pimpinan Netanyahu, berjanji memulihkan posisi internasional Israel setelah tiga tahun perang.

Sebagai mantan komandan senior dalam perang Israel melawan Hizbullah pada tahun 2006, Eisenkot merupakan penggagas Doktrin Dahiya yang mengerahkan kekuatan masif di wilayah sipil tempat militan beroperasi. Para kritikus menilai strategi tersebut diterapkan di Gaza hingga memicu kehancuran luas yang dikategorikan sebagai kejahatan perang.

Pesimisme Warga di Tengah Perjuangan Hidup Sehari-hari

Menurut Abu Rumi, Eisenkot berbicara tentang mengalahkan Hamas sementara Netanyahu membanggakan operasi militer serta pembunuhan warga Palestina. Ia menambahkan bahwa penderitaan Gaza telah menjadi bahan kampanye, sementara keluarga-keluarga di sana berjuang memberi makan anak-anak, menyekolahkan mereka, dan mengakses layanan kesehatan.

Partai Joint List yang dipimpin oleh pihak Arab di Israel sempat menayangkan video kampanye berdurasi 48 detik yang menampilkan rekaman drone reruntuhan Gaza. Dalam video tersebut, narator menyatakan bahwa masyarakat bersikap seolah-olah segala hal yang terjadi adalah kenormalan baru, seolah puluhan ribu orang tidak terbunuh dan kota-kota tidak berubah menjadi tanah tandus.

Peluang partai-partai Arab bergabung dalam koalisi pimpinan Eisenkot sangat kecil, meski mereka dapat memberikan dukungan dari luar pemerintahan. Di kalangan warga Palestina sendiri, pesimisme mengakar kuat karena siapapun yang menang, mereka tidak mendapati adanya perubahan berarti.

Haneen Hamdouna, perempuan berusia 45 tahun asal Beit Lahia yang mengungsi ke al-Mawasi, menyatakan dirinya tidak percaya ada pihak di Israel yang benar-benar peduli pada Gaza atau kepentingan rakyatnya. Ia merasa penyerangan ke Gaza telah menjadi bagian tetap dari kampanye pemilu Israel.

Krisis Pangan dan Ketakutan Akan Masa Depan

Sebagian besar warga di Gaza saat ini terlalu sibuk berjuang mencari makanan dan air untuk mengikuti perkembangan kampanye pemilu. Kekhawatiran akan ancaman kelaparan kembali meningkat seiring menipisnya pasokan produk segar dan kebutuhan pokok di pasaran.

Warga menyebutkan bahwa pengiriman komersial telah ditangguhkan selama sekitar satu pekan, yang kemudian memicu lonjakan harga barang. Harga tepung melonjak hingga lebih dari tiga kali lipat dari harga sebelumnya, sementara bantuan kemanusiaan yang semakin menipis membuat keluarga-keluarga rentan menghadapi krisis pangan jilid dua.

Meski demikian, sejumlah warga tetap memantau ketat pemilu Israel, bukan karena mengharapkan perubahan, melainkan karena takut akan dampak hasilnya bagi masa depan mereka. Mereka khawatir penderitaan warga Palestina terus berulang menjadi komoditas kampanye ketika para kandidat bersaing menunjukkan sikap paling keras terhadap Gaza.

Karim Mareesh, 43, menceritakan bahwa seorang temannya terpaksa menunda rencana pernikahan anaknya hingga pemilu Israel usai. Temannya itu takut jika pemerintahan sayap kanan kembali berkuasa, perang akan pecah kembali dan memaksanya mengungsi untuk kesekian kalinya hingga kehilangan tenda serta perlengkapan pernikahan yang susah payah dikumpulkan.

Harapan sangat sulit ditemukan di Gaza setelah tiga tahun perang mengubah permukiman menjadi puing-puing beton dan kawah bom. Noor AlMoghanni, perempuan berusia 20 tahun asal Kota Gaza, menyatakan bahwa segala pernyataan mengenai upaya mengatasi penderitaan mereka hanyalah omong kosong belaka.

“Apakah Netanyahu menang atau kalah, kenyataan di sini tidak akan berubah. Menurut pandangan saya, tujuan mereka adalah menghancurkan Gaza dan fondasi kehidupan di sini,” ujar Noor.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *