Daftar Isi
Afrika dikenal memiliki proporsi perempuan pengusaha yang tinggi di dunia, namun banyak di antara mereka masih menghadapi hambatan dalam mengakses pembiayaan. Empat pemimpin bisnis perempuan dari Nigeria, Uganda, Kenya, dan Malawi menceritakan kisah inspiratif di balik kesuksesan mereka dalam menyelesaikan berbagai masalah sosial dan lingkungan.
Ifedolapo Runsewe, Nigeria: Memberi Kehidupan Baru pada Ban Bekas
Di pinggiran Ibadan, Nigeria barat daya, ribuan ban bekas diolah di pabrik Freee Recycle untuk diubah menjadi butiran karet yang menjadi bahan lantai taman bermain, alas gym, dan balok paving. Ifedolapo Runsewe membangun bisnis daur ulang industri ini di tengah sektor yang jarang dipimpin oleh perempuan, di mana berdasarkan data Bank Dunia, sekitar 56 persen pengajuan pinjaman pengusaha perempuan ditolak di negara tersebut.
Setelah lebih dari 12 tahun berkarier di sektor perbankan, Runsewe mendirikan Freee Recycle pada tahun 2020 karena melihat bahaya pembakaran ban bekas terhadap kesehatan publik. Pabrik tersebut kini mempekerjakan sekitar 62 orang dan mengumpulkan ban dari empat negara bagian di Nigeria. Runsewe menyatakan bahwa tantangan terbesarnya adalah meyakinkan orang bahwa limbah dapat menjadi bisnis yang serius dan menguntungkan.
Selain menjalin kemitraan dengan organisasi seperti Michelin dan Save the Children, Runsewe berencana mendirikan fasilitas khusus daur ulang kaleng aerosol pertama di Nigeria. Melalui program residensi seni Freee yang diluncurkan pada 2025, ban-ban bekas juga disulap menjadi karya seni skala besar yang terinspirasi dari sejarah dan budaya Afrika.
Kyokushaba Shine, Uganda: Membangun Sistem Irigasi Tenaga Surya
Tumbuh di Kabale, Uganda selatan, Kyokushaba Shine sering melihat ibunya mengalami gagal panen akibat krisis air dan degradasi tanah. Berbekal latar belakang sebagai insinyur air, Kyokushaba mendirikan Winta Engineering Solutions pada Februari 2025 untuk merancang sistem irigasi kecil yang terjangkau bagi petani kecil.
Dalam kurun waktu lebih dari setahun, Winta Engineering Solutions telah memasang 30 sistem air bertenaga surya di seluruh Uganda, dengan 80 persen tenaga kerjanya adalah perempuan. Kyokushaba juga menggandeng lembaga keuangan mikro lokal untuk memberikan pinjaman kepada petani senilai sekitar lima juta shilling Uganda, serta mengampanyekan pentingnya menjaga kesehatan tanah di tengah ancaman krisis iklim.
Wawira Njiru, Kenya: Memberi Makan 700.000 Anak Sekolah Setiap Hari
Wawira Njiru mendirikan Food4Education pada tahun 2012 setelah merasa prihatin melihat anak-anak sekolah di Kenya jatuh pingsan karena kelaparan. Bermula dari dapur darurat kecil yang memberi makan 25 anak, organisasi ini kini mengoperasikan 209 dapur dan memberi makan lebih dari 700.000 anak setiap hari dengan menggunakan armada sepeda motor dan truk.
Dapur utama di Nairobi beroperasi menggunakan tenaga surya dan uap, sementara dapur lainnya beralih menggunakan briket ramah lingkungan dari serbuk gergaji dan limbah pertanian. Njiru menuturkan bahwa sekitar 80 persen bahan pangan dibeli langsung dari petani kecil lokal, sementara platform digital memastikan limbah makanan tetap rendah di angka dua persen.
Chifuno Stevens, Malawi: Mengubah Kulit Kacang Menjadi Bahan Bakar
Di Malawi, Chifuno Stevens mendirikan Chifuno Changa Green Initiative (CCGI) pada September 2020 untuk mengatasi masalah pengelolaan sampah dan deforestasi yang parah di Kota Dedza. Usaha sosial yang dipimpin perempuan ini bekerja sama dengan 18 warga lokal untuk memproduksi briket arang ramah lingkungan dari limbah kulit kacang.
Selain menyediakan bahan bakar alternatif untuk mengurangi tekanan terhadap hutan, CCGI memperluas operasinya dengan memberikan kelas menjahit bagi para anggotanya untuk membuat dan menjual tas jinjing dari kain kitenge. Stevens menyatakan komitmennya untuk memastikan bahwa pertumbuhan bisnis tersebut dapat diterjemahkan menjadi peluang pendapatan yang berkelanjutan bagi perempuan setempat.
Sumber: Environment | The Guardian







