Ekonomi

Saham Apple Turun Akibat Proyeksi Margin yang Lemah

Saham Apple Turun Akibat Proyeksi Margin yang Lemah
Daftar Isi
  1. Proyeksi Keuangan dan Margin
  2. Kinerja Produk dan Layanan
  3. Strategi AI dan Investasi Modal
  4. Kondisi Pasar dan Tantangan

Saham Apple mengalami penurunan setelah perusahaan merilis laporan keuangan kuartal September yang mencakup proyeksi margin yang lebih rendah dari ekspektasi. Laporan ini menjadi momen perdana bagi John Ternus memimpin panggilan pendapatan sebagai CEO Apple di hadapan para investor dan analis.

Proyeksi Keuangan dan Margin

Dalam pernyataan resminya, CFO Apple Kevan Parekh memberikan panduan untuk kuartal Desember dengan estimasi pertumbuhan pendapatan antara 7 persen hingga 10 persen. Angka ini berada di atas ekspektasi analis LSEG yang mematok di angka 6,1 persen. Namun, Parekh menyebutkan bahwa margin kotor diperkirakan berada di kisaran 45 persen hingga 46 persen, yang lebih rendah dibandingkan kuartal keempat.

Ternus menjelaskan kepada CNBC bahwa perusahaan menghadapi biaya memori yang lebih tinggi dibandingkan kuartal Juni. Meski demikian, dampak tersebut sebagian diimbangi oleh keuntungan dari inventaris dan biaya komponen non-memori yang lebih rendah. Margin kotor pada kuartal ini tercatat sebesar 47,9 persen, termasuk dampak positif sekitar 1 persen dari pengembalian tarif. Tanpa faktor tersebut, margin kotor sebenarnya berada di bawah konsensus analis sebesar 47,5 persen.

Kinerja Produk dan Layanan

iPhone tetap menjadi penyumbang utama dengan porsi lebih dari separuh total penjualan Apple. Penjualan iPhone melonjak lebih dari 17 persen, didorong oleh model iPhone 17 tahun lalu. Di sisi lain, bisnis layanan Apple tumbuh kurang dari 10 persen, yang merupakan ekspansi paling lambat sejak 2022. Ternus menuturkan kepada CNBC bahwa perusahaan mencatat rekor sepanjang masa dalam kategori video, layanan awan, layanan pembayaran, dan iklan.

Divisi Mac mencatatkan pertumbuhan tertinggi dengan lonjakan pendapatan hampir 24 persen menjadi 10,79 miliar dolar AS. Sebaliknya, divisi iPad mengalami kontraksi lebih dari 10 persen menjadi 6,22 miliar dolar AS, yang menurut Ternus disebabkan oleh kendala pasokan dan perbandingan tahunan yang sulit. Sementara itu, kategori produk rumah tangga seperti speaker dan perangkat keras Apple TV mengalami penurunan penjualan hampir 8 persen menjadi 8,3 miliar dolar AS.

Strategi AI dan Investasi Modal

Terkait kecerdasan buatan (AI), Ternus menekankan peluang monetisasi melalui perangkat keras. Menurutnya, fitur AI yang ditawarkan pada perangkat baru menjadi alasan kuat bagi konsumen untuk melakukan peningkatan atau beralih ke produk Apple. Berbeda dengan perusahaan teknologi besar lainnya yang mengeluarkan ratusan miliar dolar untuk belanja modal AI, Apple tercatat sebagai pihak yang lebih hemat dengan belanja modal sebesar 2,24 miliar dolar AS pada kuartal tersebut.

Kondisi Pasar dan Tantangan

Apple menghadapi tantangan di pasar global akibat kelangkaan komponen memori dan penyimpanan flash yang memicu kenaikan harga. Ryan Reith dari IDC menyebut pasar ponsel pintar dan PC berada dalam kondisi yang sangat sulit, dengan prediksi penurunan pengiriman ponsel pintar hingga 17 persen tahun ini. Selain itu, Apple juga menghadapi sorotan terkait laporan keretakan pada perangkat iPhone Duo yang baru diluncurkan, meskipun perusahaan menyatakan masalah tersebut hanya memengaruhi sebagian kecil perangkat.

Di wilayah Tiongkok Raya, Apple mencatatkan pertumbuhan tahunan sebesar 21 persen dengan total penjualan mencapai 17,53 miliar dolar AS, yang didorong oleh penjualan iPhone dan Mac. Meskipun saham Apple sempat turun sekitar 2 persen pada Senin (28/10), perusahaan ini tetap bersaing ketat dengan Nvidia sebagai perusahaan publik paling bernilai di dunia dengan kapitalisasi pasar sekitar 4,91 triliun dolar AS.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *