Dunia

Perempuan Muda Ubah Cara Pandang Dunia tentang Mogadishu

Perempuan Muda Ubah Cara Pandang Dunia tentang Mogadishu

Matahari terbit di Samudra Hindia, menyinari pasir keemasan dan menggerakkan daun-daun pohon palem di tengah embusan angin laut yang sejuk. Pemandangan ini disajikan oleh seorang perempuan muda Somalia yang bertekad mengubah cara pandang dunia terhadap Kota Mogadishu.

Menjelajahi Sisi Lain Mogadishu

Sucdi Abdul Fattah Abdul Khader merupakan salah satu pemandu wisata lokal yang mengajak para pelancong melihat melampaui berita utama media tentang serangan bunuh diri. Lokasi favoritnya adalah Pantai Jazeera, tempat pengunjung menikmati laut sebelum melanjutkan perjalanan ke bukit pasir terdekat yang mengingatkan sebagian orang pada Gurun Sahara.

Selain pemandangan alam, ia membawa wisatawan mengunjungi pasar ikan untuk melihat beragam biota laut dari garis pantai panjang Somalia. Wisatawan juga diajak menyusuri kawasan kota yang mencerminkan sejarah perdagangan Samudra Hindia dengan pengaruh era Utsmaniyah dan Italia, serta mencicipi kuliner lokal seperti daging unta, samosa, dan teh tradisional.

Menurut Sucdi, kebanyakan pendatang merasa terkejut dengan keindahan negara tersebut dan keramahan penduduknya setelah bertahun-tahun mendengar kabar tentang ketidakamanan. Bisnis pemandu wisata ini dijalankan bersama ayahnya yang telah berkecimpung di bidang yang sama selama lebih dari tiga dekade.

Berawal dari hobi, Sucdi kini meneruskan profesi keluarganya dengan memanfaatkan media sosial seperti TikTok untuk menjangkau khalayak luas. Ia bahkan berencana memproduksi konten berbahasa Inggris demi menjangkau audiens internasional yang tidak berbahasa Somalia.

Transformasi Kota dan Pertumbuhan Pariwisata

Sektor pariwisata di Somalia masih tergolong baru dengan jumlah pemandu wisata yang sangat terbatas di Mogadishu. Berdasarkan data departemen pariwisata setempat, sekitar 10.000 wisatawan mengunjungi Somalia pada 2024, mengalami kenaikan sebesar 50 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Mogadishu perlahan bertransformasi setelah kelompok militan al-Shabab menarik diri dari sebagian besar wilayah kota pada 2011 dan terbentuknya pemerintahan federal pada 2012. Kembalinya diaspora, para pengusaha lokal, serta investor memicu gelombang pembangunan hotel, restoran, dan kawasan permukiman.

Meskipun demikian, isu keamanan dan pos pemeriksaan polisi masih menjadi perhatian utama para pelancong sebelum berangkat. Namun, para pengunjung melaporkan pengalaman positif di lapangan yang jauh berbeda dari pemberitaan media global.

Pembuat konten perjalanan asal Amerika Serikat, Chris Reese, mengaku sangat menikmati kunjungannya yang kedua kali bersama sekelompok teman setelah terkesan pada perjalanan solonya. Pendapat serupa disampaikan oleh pelancong asal Rumania, Mihaela Patap, yang merasa aman dan kagum pada keindahan gurun serta garis pantai Somalia.

Melalui tur yang ia adakan, Sucdi berharap dapat terus memperkenalkan lanskap, budaya, dan masyarakat Somalia kepada dunia luar di luar bayang-bayang konflik masa lalu.

Sumber: BBC News

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *