Daftar Isi
Pemilihan umum Israel pada hari Selasa (waktu setempat) menunjukkan tingginya partisipasi pemilih dari kalangan warga Yahudi maupun Arab. Kendati demikian, hasil pemilu tersebut justru berujung pada jalan buntu tanpa adanya blok oposisi yang berhasil meraih mayoritas di parlemen.
Perpecahan Internal dan Isu Lama
Sistem perwakilan proporsional di Israel memang kerap menuntut pembentukan pemerintahan koalisi. Namun, para pengamat menilai bahwa pemilu kali ini memperlihatkan jurang pemisah yang semakin tajam di tengah masyarakat. Beberapa ketegangan berakar dari reformasi yudikatif yang sebelumnya memicu demonstrasi massal pada awal masa pemerintahan ini.
Perselisihan lainnya muncul terkait respons terhadap serangan 7 Oktober 2023, mulai dari perdebatan untuk menyelamatkan sandera hingga menghancurkan Hamas. Korban jiwa dari kalangan cadangan militer Israel di Gaza turut memperuncing ketegangan mengenai pembebasan pria muda ultra-Ortodoks dari kewajiban dinas militer.
Ketimpangan Sosial dan Lanskap Politik
Ketegangan antara kelompok agama dan sekuler terlihat jelas dalam kehidupan sehari-hari, di mana kelompok ultra-Ortodoks kini mencakup hampir 15 persen populasi. Pandangan hidup mereka dinilai sangat kontradiktif dengan warga di kawasan modern Tel Aviv yang berbasis teknologi tinggi.
Di ranah politik, Partai Likud pimpinan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengalami penurunan kursi yang signifikan, namun tetap berpotensi menjadi partai terbesar di Knesset. Di sisi lain, kelompok supremasi Yahudi sayap kanan meraup dukungan sekitar 10 persen pemilih, sementara partai-partai Arab yang mewakili seperlima warga Israel mencatat lonjakan perolehan suara hingga sekitar 15 persen.
Blok oposisi yang dipimpin oleh Gadi Eisenkot belum mampu mewujudkan perubahan yang mereka harapkan. Pemimpin Partai Demokrat sayap kiri, Yair Golan, mendesak blok oposisi agar menjalin kerja sama dengan partai-partai Arab untuk menyingkirkan Netanyahu. Menurut pengamat Amit Segal, tingginya partisipasi pemilih Arab menyadarkan warga Yahudi bahwa mereka mungkin harus belajar untuk duduk bersama di pemerintahan.
Tantangan Pembentukan Pemerintahan
Proses koalisi kini menjadi tantangan berat bagi para politisi Israel karena mereka harus mengambil keputusan fundamental mengenai masa depan negara. Presiden Isaac Herzog mengakui risiko krisis politik ini dan menegaskan bahwa semua pihak harus berupaya mencegah digelarnya pemilu lanjutan. Risiko terbesar dari pemilu ini adalah semakin besarnya keraguan mengenai faktor pemersatu bagi masyarakat Israel yang beragam, di tengah ancaman perpecahan internal yang semakin nyata.
Sumber: BBC News






