Otomotif

Mobil Masa Depan dan Konsep Software-Defined Vehicle

Mobil Masa Depan dan Konsep Software-Defined Vehicle

Kendaraan modern saat ini semakin bertransformasi menjadi seperti telepon pintar yang dikendalikan oleh barisan kode pemrograman alih-alih komponen fisik. Konsep ini dikenal sebagai kendaraan berbasis perangkat lunak atau *software-defined vehicle*, di mana fungsi utama mobil dapat ditingkatkan secara jarak jauh tanpa harus mengganti perangkat keras.

Apa Itu Kendaraan Berbasis Perangkat Lunak?

Menurut penjelasan dari IBM yang dikutip oleh CarScoops, kendaraan berbasis perangkat lunak adalah mobil yang fungsi dan fitur utamanya dikendalikan, diperbarui, serta ditingkatkan melalui perangkat lunak alih-alih sistem perangkat keras yang kaku. Dengan pendekatan ini, pabrikan dapat mengaktifkan fitur baru dari jarak jauh di kemudian hari tanpa pemilik mobil harus memasang perangkat keras baru di bengkel.

Pada masa lalu, kendaraan hanya mengandalkan satu komputer yang disebut *Engine Control Unit* atau ECU untuk mengatur fungsi mesin dan emisi. Seiring berjalannya waktu, berbagai unit kontrol bermunculan untuk transmisi otomatis, sistem bodi mobil, fitur keselamatan, hingga sistem hiburan. Ketika pabrikan ingin memperbarui sistem tersebut, pemilik mobil harus membawa kendaraan mereka ke bengkel untuk dihubungkan dengan komputer khusus.

Sebaliknya, kendaraan berbasis perangkat lunak menggunakan lebih sedikit unit kontrol yang jauh lebih bertenaga untuk menangani banyak sistem sekaligus. Unit-unit ini dirancang untuk menerima pembaruan perangkat lunak secara nirkabel atau *over-the-air* dari produsen. Contohnya dapat dilihat pada langkah Lucid yang meningkatkan fungsionalitas Android Auto dan Apple CarPlay melalui pembaruan jarak jauh, atau Tesla yang secara berkala memperbarui fitur keselamatan dan kemudi semi-otonom.

Dampak Negatif dan Tantangan

Di balik kemudahannya, kendaraan berbasis perangkat lunak menyimpan sejumlah potensi kerugian bagi konsumen. Salah satu kekhawatiran utama adalah penerapan model langganan berbayar, seperti yang pernah dicoba oleh BMW untuk fitur kursi pemanas, sementara General Motors dan Ford masih mengenakan biaya berulang untuk kemampuan kemudi semi-otonom.

Ketergantungan yang tinggi pada perangkat lunak juga berarti bahwa pabrikan harus memastikan kode kendaraan benar-benar bebas dari kutu atau *bug*. Berbeda dengan komputer pribadi atau telepon pintar, kegagalan perangkat lunak pada kendaraan dapat mengancam keselamatan jiwa, seperti membuat mobil mogok di pinggir jalan atau mendadak mati di tengah jalan tol.

Selain itu, fitur pada kendaraan jenis ini terikat erat pada dukungan jangka panjang dari pabrikannya. Mengingat telepon pintar umumnya hanya mendapat dukungan perangkat lunak selama beberapa tahun, muncul pertanyaan mengenai nasib mobil di masa depan. Jika kendaraan keluaran tahun 2006 masih dapat berfungsi normal dengan semua fiturnya hingga tahun 2026, belum tentu kendaraan berbasis perangkat lunak akan bertahan serupa setelah dua dekade berlalu.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *