Dunia

Jutaan Warga India Rayakan Diwali di Tengah Isu Polusi

Jutaan Warga India Rayakan Diwali di Tengah Isu Polusi

Jutaan warga di seluruh India merayakan Diwali, festival cahaya umat Hindu, dengan menerangi rumah, kuil, kantor, dan jalan-jalan menggunakan lampu minyak serta lampu warna-warni sebagai lambang kemenangan cahaya atas kegelapan. Perayaan ini jatuh pada malam paling gelap dalam bulan lunar Hindu, Kartik, ketika bulan tidak terlihat di langit.

Rangkaian Tradisi dan Makna Diwali

Meskipun tradisi Diwali beragam di setiap wilayah dan komunitas di India, perayaan ini secara luas ditandai dengan doa, berkumpul bersama keluarga, saling bertukar manisan, serta menyalakan petasan. Festival tersebut merayakan kembalinya Dewa Ram ke Ayodhya setelah kemenangannya atas Ravan, tokoh antagonis utama dalam epos Hindu Ramayana, yang menyimbolkan kemenangan kebaikan atas keburukan, cahaya atas kegelapan, serta pengetahuan atas ketidaktahuan.

Menjelang hari raya, keluarga-keluarga membersihkan dan mendekorasi kediaman mereka menggunakan bunga, lampu warna-warni, serta lampu minyak tradisional yang dikenal sebagai diya. Perayaan ini juga mempertemukan keluarga dan kerabat untuk berdoa, menikmati hidangan besar, saling bertukar hadiah, serta menyantap berbagai manisan tradisional India. Pola warna-warni yang disebut rangoli dibuat di pintu masuk rumah, sementara pasar-pasar dipadati pembeli yang mencari kebutuhan perayaan di bawah dekorasi lampu yang terang.

Perayaan ini dimulai pada 6 November dengan Dhanteras, saat pembelian emas, perak, atau perkakas baru dianggap membawa keberuntungan. Hari kedua, yang disebut Chhoti Diwali atau Diwali kecil, ditandai dengan penyalakan lampu minyak dan penyalaan petasan di beberapa rumah tangga. Hari ketiga merupakan puncak perayaan utama ketika keluarga memanjatkan doa malam kepada Lakshmi, dewi kekayaan dan kemakmuran dalam ajaran Hindu, sebelum berkumpul untuk makan bersama dan menikmati kembang api.

Hari keempat dirayakan secara berbeda di berbagai wilayah di India, mulai dari kumpul keluarga hingga perayaan Tahun Baru di beberapa komunitas. Hari kelima sekaligus hari terakhir, yang dikenal sebagai Bhai Dooj, merayakan ikatan antara saudara laki-laki dan perempuan. Festival ini juga dirayakan oleh umat Sikh dan Jain bersamaan dengan hari besar keagamaan penting lainnya. Umat Sikh memperingati Bandi Chhor Divas untuk mengenang pembebasan guru keenam mereka, Guru Hargobind, dari penjara di Benteng Gwalior pada awal abad ketujuh belas. Sementara bagi umat Jain, Diwali menandai pencapaian moksha, atau pembebasan dari siklus reinkarnasi, oleh Lord Mahavira selaku Tirthankara atau guru spiritual ke-24 dan terakhir pada era saat ini.

Tantangan Polusi Udara

Perayaan tersebut berlangsung di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap polusi udara, terutama di wilayah India bagian utara. Kondisi cuaca musiman serta pembakaran sisa tanaman turut memperburuk kualitas udara, sementara petasan yang dinyalakan saat Diwali memperparah situasi. Polusi udara di ibu kota India, Delhi, mencapai tingkat berbahaya sehingga tercatat sebagai festival Diwali dengan polusi tertinggi dalam satu dekade, sementara berbagai langkah baru untuk memperbaiki kualitas udara tampaknya belum berhasil. Pusat keuangan India, Mumbai, juga mengalami tingkat polusi tinggi dalam beberapa pekan terakhir.

Guna membatasi polusi, Mahkamah Agung India mengizinkan pembuatan, penjualan, dan penggunaan petasan “hijau” bersertifikat di Delhi serta daerah sekitarnya dalam jangka waktu terbatas. Petasan tersebut dirancang agar menghasilkan emisi dua puluh hingga tiga puluh persen lebih sedikit dibandingkan kembang api konvensional. Namun, para kritikus mempertanyakan efektivitasnya dalam menekan polusi serta mengkhawatirkan petasan konvensional masih dapat masuk ke ibu kota dari negara bagian tetangga.

Dengan tersebarnya komunitas India di seluruh dunia, Diwali juga dirayakan secara internasional oleh keluarga dan teman-teman yang berkumpul serta bertukar hadiah. Perayaan ini dianggap sebagai waktu yang baik untuk melakukan pembelian baru yang diyakini membawa kemakmuran dan keberuntungan. Bursa efek India bahkan mengadakan sesi perdagangan khusus selama satu jam bagi para investor yang menganggap kegiatan jual beli saham pada saat Diwali mendatangkan kebaikan, yang dikenal sebagai perdagangan Muhurat.

Sumber: BBC News

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *