Sutradara sekaligus bos DC Studios, James Gunn, teguh pada pendiriannya untuk memperluas semesta DC Universe (DCU) melalui kisah-kisah individual. Pendekatan ini tetap dipertahankannya di tengah kritik yang menyebutkan bahwa film-film garapannya tidak mengarah pada satu narasi *crossover* tertentu.
Pendekatan Semesta Alternatif dan Perbandingan dengan Star Wars
Pernyataan tersebut disampaikan Gunn sebagai tanggapan atas pendapat warganet yang menilai dirinya tidak harus selalu membangun fondasi untuk satu semesta yang saling terhubung sepenuhnya. Menurut Gunn melalui unggahan di platform Threads pada Sabtu (24/10), DCU merupakan sebuah semesta alternatif di mana penonton dapat masuk dari titik atau waktu mana pun untuk menikmati cerita.
Gunn mengaku tidak sependapat dengan pandangan bahwa sebuah kisah individual kehilangan makna jika tidak berujung pada kelanjutan di proyek lain, seperti dilaporkan Variety. Ia menambahkan bahwa pendekatan serupa sebenarnya telah diterapkan oleh waralaba Star Wars selama lima dekade melalui berbagai medium film, serial, gim, dan buku, meskipun dengan variasi nada cerita yang lebih terbatas.
Kendati demikian, Gunn menegaskan bahwa pendekatan tersebut tidak berarti menghilangkan unsur keterhubungan antarcerita sama sekali. Sebagai contoh, saga Superman dimulai dari film Superman lalu berlanjut ke Man of Tomorrow, serta menampilkan banyak karakter yang sebelumnya telah diperkenalkan lewat kisah lain.
“Namun, bukan berarti kisah-kisah lain tersebut hanya ada untuk menjadi pengantar bagi apa yang terjadi di sana,” ujar Gunn. Ia mencontohkan bahwa penonton seharusnya bisa menikmati film Clayface karena karya tersebut memang merupakan film horor yang hebat dan menghibur, tanpa harus memikirkan kemunculan karakter itu di film-film berikutnya.
Tanggapan terhadap Kritik Proyek Clayface dan Hollywood
Sebelumnya, Gunn juga sempat merespons kritik pedas terkait keputusan menggarap film Clayface yang dinilai sebagai karakter lebih *niche* atau kurang populer dibandingkan figur utama DC seperti Superman atau Supergirl. Menanggapi kritik tersebut, ia menegaskan bahwa industri perfilman Hollywood tidak seharusnya selalu berpatokan pada jajak pendapat publik mengenai karakter yang ingin disaksikan di layar lebar.
Gunn mempertanyakan sejumlah karya ikonis masa lalu yang lahir bukan berdasarkan permintaan penonton melalui pemungutan suara kekayaan intelektual (IP). Ia menuliskan beberapa judul populer seperti Back to the Future, Casablanca, The Matrix, hingga Mad Max: Fury Road, seperti dilaporkan Variety pada Rabu (7/10).
Ia menegaskan bahwa Hollywood bukanlah tempat di mana satu-satunya cara memproduksi film adalah dengan mengikuti jajak pendapat publik mengenai IP yang sudah pernah ditonton berulang kali. Proyek Clayface sendiri, menurut Gunn, murni lahir dari gagasan serta inspirasi yang digagas oleh para kreatornya.







