Para anggota parlemen senior dari Partai Republik meminta Kepala Eksekutif Nvidia Jensen Huang untuk menghadap Kongres AS. Pemanggilan ini dilayangkan menyusul laporan bahwa pejabat intelijen Amerika Serikat meyakini bos perusahaan cip tersebut menjadi sasaran operasi mata-mata China.
Permintaan Kehadiran dalam Sidang Tertutup
Para ketua komite DPR AS untuk urusan China, hubungan luar negeri, dan intelijen telah mengirimkan surat kepada Huang pekan ini. Mereka mengundangnya agar hadir dalam sesi briefing gabungan tertutup di hadapan komite-komite tersebut pada 18 November.
Perwakilan John Moolenaar, Brian Mast, dan Rick Crawford menuliskan bahwa pemberitaan baru-baru ini menimbulkan kekhawatiran keamanan nasional yang serius terkait akses Republik Rakyat China terhadap teknologi dan informasi sensitif milik Amerika Serikat. Menurut para politikus tersebut, persoalan infiltrasi RRT serta akses terhadap teknologi mutakhir AS merupakan inti dari kerja penyelidikan ketiga komite mereka di Kongres saat ini, sehingga Kongres wajib memastikan sejauh mana keamanan nasional telah terancam.
Tanggapan Nvidia Terkait Penyelidikan
Surat pemanggilan ini merujuk pada laporan The York Times pekan lalu yang menyebutkan bahwa pejabat intelijen AS menduga Huang telah menjadi target operasi mata-mata pihak China. Kekhawatiran tersebut berpusat pada seorang perempuan asal China bernama Alice Huang, yang menjabat sebagai eksekutif di Megaspeed, perusahaan komputasi awan asal Singapura yang telah memborong cip Nvidia senilai miliaran dolar.
Pihak Nvidia dengan tegas membantah berbagai tudingan tersebut. Pada Kamis, perusahaan menyatakan bahwa pertemuan dengan para pelanggan merupakan bagian dari tugas rutin seorang CEO, di mana Jensen disebut berdiskusi dengan ribuan eksekutif pelanggan setiap tahunnya. Hingga saat ini, pihak perusahaan belum memberikan kepastian apakah Huang akan memenuhi panggilan Kongres tersebut.
Sumber: Ars Technica - All content








