Daftar Isi
Kelompok lobi pro-Israel terbesar di Amerika Serikat, American Israel Public Affairs Committee (AIPAC), menghadapi dinamika baru setelah sebagian besar dana kampanyenya dalam Pemilu sela AS mengalir ke kandidat yang mengalami kekalahan. Fenomena ini menandai pergeseran sikap para politisi dan pemilih terhadap pengaruh dana lobi asing dalam politik domestik AS.
Salah satu contoh penolakan terbuka ditunjukkan oleh James Talarico, yang berhasil memenangkan kursi Senat AS dari Texas dengan keunggulan lebih dari 12 persen suara. Talarico secara tegas menolak bantuan dana dari AIPAC selama masa kampanye. Pihak sekutu AIPAC sendiri hanya memberikan dukungan terbatas sebesar 6.000 dolar AS kepada pesaing Talarico, Ken Paxton.
“I’ve never taken money from AIPAC, and I’m not taking money from AIPAC in this campaign,” kata Talarico dalam sebuah potongan video siniar. “Seeing what’s happening in Gaza makes me sick to my stomach as a teacher, as a Christian, as a human being.”
Mayoritas Dana Mengalir ke Kandidat yang Kalah
Berdasarkan data dari lembaga pemikir Quincy Institute for Responsible Statecraft, hampir dua pertiga dari total dana yang dikeluarkan oleh kelompok pro-Israel dalam Pemilu sela ini mengalir kepada kandidat yang kalah. Dari total sekitar 84 juta dolar AS yang dikucurkan oleh AIPAC, super PAC United Democracy Project (UDP), dan kelompok terkait, sebanyak 55 juta dolar AS dialokasikan untuk kandidat yang tidak berhasil memenangkan kursi.
Wakil Presiden Eksekutif Quincy Institute, Trita Parsi, menilai kondisi ini sebagai era baru dalam perpolitikan AS. “We have entered a new era,” ujar Parsi. “It is not just that AIPAC is spending millions of dollars and losing. You also have a new reality now in which candidates find AIPAC’s donations toxic and are rejecting it.”
Kekalahan paling menonjol terjadi di Senat Michigan. Di wilayah tersebut, AIPAC dan jaringan PAC sekutunya menggelontorkan sekitar 30 juta dolar AS untuk mendukung Haley Stevens pada pemilihan internal Partai Demokrat yang berakhir dengan kekalahan. AIPAC kemudian mengalihkan dukungan dana sebesar 9 juta dolar AS kepada politisi Partai Republik, Mike Rogers. Namun, Rogers dikalahkan oleh Abdul El-Sayed, tokoh yang kerap mengkritik kebijakan Israel dan mengusulkan penghentian bantuan keuangan AS ke negara tersebut.
“Thank you for giving me the opportunity to beat you twice,” tutur El-Sayed saat menyampaikan pidato kemenangannya pada malam Pemilu.
Kekalahan serupa terjadi di Maine, di mana kelompok yang terhubung dengan AIPAC mengalirkan lebih dari 4,8 juta dolar AS untuk mendukung petahana Senator Susan Collins. Collins akhirnya kalah dari kandidat Partai Demokrat, Troy Jackson. Sementara di California, bantuan sebesar 6 juta dolar AS dari UDP gagal memenangkan Melissa Hernandez, yang dikalahkan oleh politisi progresif Aisha Wahab.
Pergeseran Strategi dan Rekam Jejak Kemenangan
Kondisi ini membuat sejumlah politisi dari Partai Republik mulai mempertimbangkan ulang untuk menerima bantuan dari AIPAC. Penasihat geopolitik dan mantan staf senior Kongres dari Partai Republik, Rina Shah, menjelaskan adanya perubahan pandangan di internal partainya.
“A few years ago, taking AIPAC support was a no-brainer for most GOP candidates,” kata Rina Shah kepada Al Jazeera. “Now, with a younger, more America First wing asking hard questions about foreign entanglements, and Gaza weighing on voters across the spectrum, it’s become a real topic, not a niche one.”
Di sisi lain, AIPAC mengubah pola penyaluran dunanya agar lebih tertutup. Pada Oktober lalu, organisasi ini mengumumkan penghentian skema dukungan dan kontribusi langsung kepada kandidat setelah Pemilu sela berakhir, serta lebih banyak memanfaatkan jaringan super PAC seperti UDP dan hampir 50 PAC terikat lainnya.
Meskipun mengalami kekalahan besar dari sisi jumlah anggaran, AIPAC mencatat persentase kemenangan kandidat yang cukup tinggi. Data Track AIPAC menunjukkan bahwa lembaga pro-Israel tersebut mendukung calon di 32 dari 35 pemilihan Senat. Di 26 persaingan, mereka menyalurkan lebih dari 100.000 dolar AS per kandidat, dengan 21 di antaranya keluar sebagai pemenang pada 3 November.
Pihak AIPAC mengklaim ada 234 kandidat dari Partai Demokrat dan Republik yang mereka dukung berhasil memenangkan kursi Kongres, termasuk Pemimpin Minoritas Senat Chuck Schumer dan Pemimpin Minoritas DPR Hakeem Jeffries.
AIPAC juga mencatat keberhasilan di basis kuat Partai Demokrat. Di Missouri, Wesley Bell memenangkan kursi DPR dengan meraup lebih dari 81 persen suara setelah menerima suntikan dana lebih dari 3 juta dolar AS, sebagian besar dialokasikan pada tahap pemilihan internal untuk menyingkirkan Cori Bush. Di New York, George Latimer berhasil terpilih kembali ke DPR setelah sebelumnya mengalahkan Jamaal Bowman pada pemilihan internal 2024 dengan dukungan dana AIPAC sebesar 14 juta dolar AS. Sementara di Maryland, Sarah Elfreth memenangkan kursi DPR setelah disokong dana UDP lebih dari 4 juta dolar AS sejak tahapan pemilihan internal.
Kemunculan Kelompok Lobi Alternatif
Pengaruh AIPAC kini tidak lagi berjalan tanpa tandingan. Kelompok Yahudi-Amerika J Street, yang mengidentifikasikan dirinya sebagai kelompok pro-Israel dan pro-perdamaian, turut aktif menyalurkan dana kampanye untuk menembus dominasi AIPAC.
J Street mengucurkan dana lebih dari 13 juta dolar AS untuk mendukung lebih dari 200 kandidat, dengan fokus utama pada politisi Partai Demokrat yang mengusung pandangan lebih moderat terkait konflik Timur Tengah. Berdasarkan survei yang diprakarsai J Street, sebanyak 72 persen pemilih Yahudi di Amerika Serikat tetap menjatuhkan pilihan pada Partai Demokrat dalam Pemilu sela ini.
“In an election with so much at stake for American democracy, we are proud to have supported a record number of candidates who share our commitment to Israel’s future, democracy and a peaceful resolution to the Israeli-Palestinian conflict,” mengutip pernyataan resmi Presiden J Street, Jeremy Ben-Ami.








