Daftar Isi
Pemerintah Inggris didesak untuk melindungi kesejahteraan hewan liar dengan memangkas batas maksimal kebisingan kembang api yang dijual kepada publik dari 120 desibel menjadi 90 desibel. Center for Wild Animal Welfare (CWAW) menyatakan penurunan ambang batas tersebut akan menyelamatkan jutaan hewan liar dari stres akut.
Usulan Penurunan Batas Kebisingan
Pemerintah sebelumnya telah menggelar konsultasi mengenai usulan untuk menurunkan batas maksimal kebisingan kembang api dari 120 desibel menjadi 110 desibel, yang setara dengan pengurangan tingkat kebisingan menjadi separuhnya. Namun, CWAW menilai usulan tersebut belum cukup memadai karena pemotongan ke angka 90 desibel akan membuat area yang terganggu oleh setiap kembang api menjadi seratus kali lebih kecil dibandingkan rencana pemerintah.
Direktur CWAW, Richard Parr, mengatakan bahwa suara kembang api yang keras dapat merambat hingga sejauh sepuluh kilometer. Karena skala desibel bersifat logaritmik, setiap pengurangan sepuluh desibel pada batas tersebut akan mengurangi area yang terdampak kebisingan hingga sepuluh kali lipat.
Parr menambahkan, meskipun banyak orang menyadari dampak buruk kembang api terhadap hewan peliharaan, kesadaran tentang penderitaan hewan liar masih sangat kurang. “Tidak ada alasan untuk berpikir bahwa hewan liar akan lebih sedikit terpengaruh daripada hewan peliharaan,” ujarnya, seraya menyebut dentuman keras yang datang secara tiba-tiba sangat menakutkan bagi hewan mangsa.
Dampak Buruk pada Burung dan Satwa Liar
Pakar satwa liar dari RSPCA, Rebecca Machin, menyatakan keprihatinan serupa mengenai dampak kembang api terhadap alam liar. Kembang api beserta serpihannya dapat mengganggu berbagai satwa liar, terutama burung, yang berujung pada penderitaan dan tekanan mental.
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa burung mengalami dampak paling parah selama pertunjukan kembang api, mulai dari respons stres, perpindahan massal sementara, hingga tabrakan fatal. Peristiwa pada Hari Tahun Baru 2025 di Bulgaria menunjukkan lebih dari 1.000 burung ditemukan mati di dekat jalur pendakian, tidak jauh dari lokasi peluncuran kembang api, akibat burung-burung yang panik menabrak pohon dan satu sama lain.
Konsultasi yang dilakukan pemerintah Inggris sendiri muncul setelah kekhawatiran publik mengenai kebisingan dan ketersediaan kembang api mengemuka dalam perdebatan parlemen pada Januari lalu, yang disertai dua petisi dengan lebih dari 180.000 tanda tangan. Selain ambang batas suara, konsultasi tersebut turut mengkaji perluasan daftar kembang api yang dilarang dijual bebas serta peninjauan aturan produk berisiko rendah.
Sebagai perbandingan, Selandia Baru telah menerapkan batas 90 desibel untuk kembang api konsumen sejak tahun 2008, sekaligus membatasi hari penjualan dan menaikkan batas usia pembelian. Sementara itu, konsultasi pemerintah Inggris mencatat adanya kekhawatiran bahwa sistem pengujian kebisingan dapat dimanipulasi karena batas 90 desibel sulit didefinisikan secara tepat dalam peraturan perundang-undangan.
Tanggapan Asosiasi Kembang Api
Menanggapi desakan penurunan batas tersebut, juru bicara British Fireworks Association menyatakan pihaknya menyadari laporan bahwa suara bising kembang api dapat mengganggu burung serta satwa liar lainnya, dan memandang serius kekhawatiran tersebut. Masyarakat diimbau untuk mempertimbangkan lokasi serta waktu penyalaan kembang api demi meminimalkan gangguan.
Namun, asosiasi tersebut berpendapat bahwa argumen untuk menurunkan batas kebisingan hingga 90 desibel belum cukup kuat. Setiap perubahan regulasi harus didasarkan pada bukti yang jelas mengenai manfaatnya serta memperhitungkan risiko yang tidak diinginkan, termasuk potensi masyarakat beralih menggunakan kembang api ilegal, sehingga mereka lebih mendukung penegakan hukum yang ada disertai kampanye nasional.
Sumber: Environment | The Guardian








