Militer Israel mengumumkan penutupan seluruh perlintasan darat di Tepi Barat pada hari pemilu yang berlangsung Selasa mendatang. Selain penutupan akses perbatasan, para pekerja asal Palestina juga dilarang memasuki kawasan permukiman Israel di wilayah pendudukan tersebut.
Operasi Militer dan Penggusuran di Hebron
Langkah pembatasan ini diberlakukan di tengah pengetatan keamanan oleh militer Israel di Tepi Barat. Tindakan tegas tersebut dipicu oleh aksi penembakan yang menewaskan dua tentara Israel dan melukai tiga lainnya di sebuah pos pemeriksaan pada Jumat lalu. Dua warga Palestina yang menjadi pelaku penembakan tersebut turut tewas di lokasi kejadian.
Perdana Menteri Benjamin Netanyahu langsung mengumumkan operasi militer skala besar pasca-insiden penembakan tersebut. Di Kota Hebron, militer Israel merobohkan rumah-rumah dan tempat usaha milik warga Palestina, yang menyebabkan ratusan keluarga kehilangan tempat tinggal.
Menteri Pertahanan Israel Israel Katz menyampaikan bahwa sekitar 2.000 warga terpaksa mengungsi akibat operasi militer tersebut. Rekaman video yang beredar di media sosial menunjukkan seluruh bangunan di satu ruas jalan hancur rata dengan tanah.
Sebelum larangan melintas bagi pekerja diumumkan pada Minggu, militer telah menutup akses ke Hebron dan membatasi ruang gerak sekitar 200.000 penduduknya. Praktik penghancuran rumah warga Palestina yang disangka terlibat serangan terhadap warga Israel kerap mendapat kritik dari kelompok hak asasi manusia setempat sebagai bentuk hukuman kolektif.
Pembatasan terhadap pekerja Palestina ini berdampak luas pada mata pencarian warga. Sebelum serangan yang dipimpin Hamas pada 7 Oktober 2023, lebih dari 100.000 pekerja Palestina memiliki izin untuk bekerja di Israel. Sejak saat itu, hanya sebagian kecil pekerja yang izinnya dikembalikan oleh otoritas Israel.
Dimensi Politik Jelang Pemilihan Umum
Ketegangan di Tepi Barat meningkat hanya beberapa hari sebelum pelaksanaan pemilu di Israel. Dalam wawancara dengan saluran televisi i24 pada Sabtu, Netanyahu menyampaikan ancaman akan memberikan “kejutan sangat besar” bagi Otoritas Palestina yang mengelola sebagian wilayah Tepi Barat.
Wali Kota Hebron Youssef al-Jaabari menilai operasi militer di wilayahnya didorong oleh agenda politik pemilu. Ia menyebut Netanyahu dan para menterinya berusaha mengamankan dukungan suara dari kelompok sayap kanan dan para pemukim Israel.
Di saat bersamaan, ribuan warga berkumpul di Tel Aviv pada Sabtu untuk menggelar demonstrasi anti-pemerintah. Unjuk rasa tersebut diprakarsai oleh Dewan Oktober, kelompok yang dibentuk oleh keluarga korban dan sandera serangan 7 Oktober 2023, untuk menuntut pertanggungjawaban atas kegagalan pemerintah mencegah serangan tersebut.
Aksi protes besar tersebut dihadiri oleh para pemimpin dari empat partai oposisi utama. Salah satu tokoh yang hadir adalah mantan Kepala Staf Militer Gadi Eisenkot, yang bersaing ketat dengan Netanyahu dalam perolehan suara jelang pemilu.
Sumber: BBC News






