Perjalanan kereta dari Malaga menuju pegunungan Lembah Guadalhorce melewati desa-desa bercat putih dan pohon delima. Di wilayah selatan Spanyol ini, sejumlah Muslim membangun kehidupan baru dan menemukan kedekatan dengan sejarah Islam masa lalu.
Membangun Rumah di Pegunungan Andalusia
Di stasiun Alora, Henrietta Szovati, seorang Muslim asal Inggris-Hongaria, menunggu untuk menjemput pengunjung dengan truk pikapnya. Selama dua tahun terakhir, ia dan suaminya, Ajmal Masroor, seorang terapis dan imam, mengelola lahan seluas 14 hektar berisi sekitar 400 pohon zaitun untuk dijadikan House of Andalus. Proyek ini bertujuan memperkenalkan sejarah Islam di selatan Spanyol serta mendekatkan orang-orang dengan alam.
Menurut Henrietta, wilayah tersebut sempat dilanda kebakaran hutan pada musim panas lalu, sehingga lanskapnya masih tampak kering dengan tanah berwarna cokelat kemerahan dan batu pualam. Di tanah pegunungan itu tumbuh subur buah jeruk, ara, alpukat, hingga mangga. Ia membeli lemon dan madu dari tetangganya, Juan Garcia, yang kerap membantunya mengurus pohon zaitun.
Baginya, kehangatan bertetangga seperti itu lebih sulit ia temukan di Inggris, tempat ia tinggal sejak tahun 2001. Ia merasa masih menjadi orang luar di Inggris setelah lebih dari dua dekade, di mana identitas Muslim kerap dikaitkan dengan perdebatan politik. Sebaliknya, Spanyol terasa lebih akrab dan praktik keagamaannya menjadi lebih mudah dijalani.
Menghadapi Realitas Politik dan Hubungan Sosial
Meskipun demikian, Spanyol tidak kebal dari arus politik yang melanda Eropa, termasuk kampanye partai sayap kanan Vox yang menentang imigrasi. Henrietta menyadari tantangan menjadi seorang Muslim di dunia saat ini, namun ia memilih fokus membangun hubungan dengan tetangga yang memiliki keyakinan berbeda.
Saat mengunjungi rumah Juan Garcia, Henrietta berbincang dengan ibu Juan yang berusia 79 tahun, Maria. Di hadapan Maria yang beragama Katolik, Henrietta menjelaskan bahwa menutup kepala adalah bagian dari keyakinannya sebagai Muslim untuk merasa lebih dekat dengan Tuhan, sementara Maria menekankan bahwa yang terpenting adalah menjadi orang baik.
Hubungan antartetangga yang terjalin secara alami tersebut membuat wilayah Andalusia terasa seperti rumah sendiri. Menurut sejarawan perjalanan Muslim asal Inggris, Tharik Hussain, penulis buku *Muslim Europe*, ketertarikan kaum Muslim terhadap wilayah ini sangat bisa dipahami karena Al-Andalus merupakan wilayah kekuasaan Muslim abad pertengahan di Spanyol dan Portugal modern.
Selama hampir delapan abad, dinasti Muslim memerintah sebagian Semenanjung Iberia dan meninggalkan warisan berupa arsitektur, saluran irigasi, ilmu pengetahuan, bahasa, serta tradisi. Kini, para Muslim dari Inggris dan berbagai tempat mendatangi Andalusia bukan hanya mencari suasana cerah matahari, melainkan juga menyambung kembali ikatan dengan sejarah di mana Islam pernah menjadi bagian dari peradaban Eropa.






