Kesehatan

Penutupan Pusat Bersalin NHS di Inggris Dinilai Mengkhawatirkan

Penutupan Pusat Bersalin NHS di Inggris Dinilai Mengkhawatirkan
Daftar Isi
  1. Penutupan Layanan dan Dampaknya
  2. Krisis Tenaga Kerja dan Akses Layanan
  3. Langkah Pemerintah dan Masa Depan Layanan

Para pegiat kesehatan mengecam penutupan sejumlah pusat bersalin yang dipimpin oleh bidan di Inggris. Langkah ini dinilai sebagai bentuk penyangkalan yang mengkhawatirkan terhadap hak perempuan untuk memilih layanan kebidanan dalam proses persalinan mereka.

Penutupan Layanan dan Dampaknya

Sebanyak 12 pusat bersalin di Inggris telah ditutup sejak tahun 2019. Pusat-pusat ini memiliki peran krusial dalam memberikan pilihan bagi perempuan untuk melahirkan, baik di unit rumah sakit yang dikelola dokter, unit yang dipimpin bidan, maupun di rumah. Sejak Partai Buruh berkuasa pada Juli 2024, enam unit telah ditutup secara permanen.

Selain penutupan permanen, terdapat empat unit yang ditutup dengan status “sementara” selama bertahun-tahun, bahkan hingga enam tahun, sehingga memicu kekhawatiran bahwa fasilitas tersebut tidak akan beroperasi kembali. Dua pusat lainnya ditutup karena kondisi bangunan yang rusak dan memerlukan waktu perbaikan bertahun-tahun.

Hazel Williams, kepala eksekutif Birthrights, menyebut pembatasan pilihan tempat melahirkan ini sebagai sesuatu yang mengejutkan. Menurutnya, pilihan tempat bersalin bukanlah fasilitas mewah, melainkan hak mendasar bagi perempuan atas tubuh dan proses kelahiran mereka. “Selama beberapa tahun terakhir, kita telah melihat pembatasan yang mengejutkan terhadap pilihan tempat bersalin bagi perempuan, dengan semakin banyaknya penutupan pusat bersalin dan berkurangnya dukungan NHS untuk persalinan di rumah,” ujar Williams.

Krisis Tenaga Kerja dan Akses Layanan

Gelombang penutupan ini dipicu oleh kekurangan bidan di seluruh NHS, penurunan angka kelahiran, meningkatnya kompleksitas persalinan, serta kenaikan jumlah operasi caesar. Kondisi ini memaksa perempuan untuk menempuh perjalanan jauh dari tempat tinggal mereka guna mendapatkan layanan persalinan.

Royal College of Midwives memperingatkan bahwa ketidakmampuan mengakses layanan kebidanan melalui NHS berisiko mendorong perempuan untuk membayar layanan swasta atau bahkan melahirkan di rumah tanpa didampingi tenaga medis profesional. Tope Medupin, penjabat kepala eksekutif National Childbirth Trust, menambahkan bahwa hilangnya layanan lokal sering kali menyebabkan ketidakpastian, biaya lebih tinggi, dan pilihan perawatan yang lebih sedikit bagi para ibu.

Di Sussex Weald, anggota parlemen Nusrat Ghani mengkritik NHS trust setempat karena dianggap melanggar janji terkait pembukaan kembali pusat bersalin di Crowborough. Ghani menyoroti risiko komplikasi yang dapat dihindari bagi ibu yang terpaksa menempuh perjalanan hingga 90 menit untuk melahirkan.

Langkah Pemerintah dan Masa Depan Layanan

Beberapa wilayah mulai menunjukkan tanda pemulihan, seperti di Cheltenham yang dijadwalkan membuka kembali pusat bersalinnya pada Februari mendatang setelah ditutup sejak 2022. Namun, kekhawatiran tetap ada karena adanya wacana sentralisasi layanan di beberapa wilayah, seperti di Norfolk, yang berpotensi menutup unit bersalin lokal lainnya.

Hannah Leonard dari Royal College of Midwives menegaskan bahwa pilihan tempat melahirkan sangat berpengaruh pada hasil dan pengalaman ibu serta bayinya. Sementara itu, juru bicara Departemen Kesehatan dan Perawatan Sosial menyatakan bahwa pemerintah memprioritaskan peningkatan standar layanan.

Pihak kementerian mengklaim telah menambah lebih dari 600 bidan dalam setahun terakhir untuk memperkuat tenaga kerja di NHS. Menteri Kesehatan Yvette Cooper dijadwalkan akan menerbitkan rencana aksi untuk mengatasi krisis dalam perawatan maternitas dan neonatal di Inggris sebelum perayaan Natal.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *