Daftar Isi
Petani di desa terpencil Chorwan, Gurez, Kashmir, kini menghadapi tantangan besar seiring memudarnya tradisi penyimpanan hasil panen di lubang bawah tanah yang disebut khraw. Praktik yang telah diwariskan selama turun-temurun ini terancam punah, membawa risiko hilangnya varietas kentang lokal serta pengetahuan tradisional mengenai teknik budidaya yang tahan terhadap musim dingin ekstrem.
Penyimpanan Tradisional di Tengah Musim Dingin
Hajra Begum, seorang petani berusia 40 tahun, menghabiskan waktunya untuk menyeleksi kentang hasil panen agar layak disimpan di dalam khraw. Lubang penyimpanan ini dilapisi jerami dan disegel rapat untuk melindungi hasil panen dari suhu yang bisa mencapai di bawah minus 20 derajat Celsius. Menurut Begum, pemilihan kentang yang tepat sangat krusial karena kesalahan dalam menyimpan benih dapat merusak hasil panen tahun berikutnya.
Seperti dilaporkan The Guardian, tradisi ini semakin jarang dilakukan oleh keluarga di Gurez. Akses jalan yang membaik dan migrasi generasi muda ke luar wilayah membuat banyak keluarga beralih membeli kentang dari pasar atau mengandalkan subsidi pemerintah. Begum menuturkan bahwa di masa lalu, hampir setiap rumah memiliki tiga hingga empat lubang penyimpanan, namun kini hanya segelintir keluarga yang masih mempertahankannya.
Ancaman terhadap Keanekaragaman Hayati
Gurez merupakan lembah dataran tinggi yang dihuni oleh masyarakat adat Dard-Shin. Kentang mencakup sekitar 45 persen dari total luas lahan budidaya di wilayah tersebut. Namun, penelitian dari Indian Council of Agricultural Research’s National Bureau of Plant Genetic Resources (ICAR-NBPGR) menunjukkan bahwa keanekaragaman genetik kentang di sana belum terdokumentasi dengan sistematis.
Dr Sheikh M Sultan, ilmuwan senior di ICAR-NBPGR, mengungkapkan kesulitan dalam menemukan kembali varietas kentang yang dulu pernah ia temui di lembah tersebut. Ia memperingatkan bahwa hilangnya varietas lokal adalah kerugian yang tidak dapat diperbaiki. Menurutnya, varietas asli sering kali memiliki karakteristik berharga, seperti ketahanan terhadap hama, penyakit, dan suhu dingin yang ekstrem, yang justru sering diabaikan oleh lembaga penelitian yang lebih memprioritaskan varietas komersial.
Dampak Perubahan Iklim dan Pembangunan
Selain perubahan gaya hidup, krisis iklim juga memberikan tekanan tambahan bagi petani di Himalaya. Abdul Jabbar Mapnoo, seorang petani berusia 70 tahun, mencatat adanya perubahan pola cuaca, seperti musim semi yang lebih kering dan berkurangnya curah hujan salju di musim dingin. Hal ini berdampak langsung pada penurunan produksi kentang di wilayah tersebut.
Tekanan terhadap lahan pertanian juga menjadi faktor lain. Proyek pembangkit listrik tenaga air Kishanganga, misalnya, telah memengaruhi lahan di beberapa desa, termasuk Badwan yang dikenal sebagai salah satu sentra penghasil kentang. Dr Parveen Kumar dari Sher-e-Kashmir University of Agricultural Sciences and Technology of Kashmir menekankan pentingnya strategi adaptasi bagi petani dalam menghadapi perubahan iklim.
Salah satu upaya pelestarian yang diusulkan adalah melalui pemberian indikasi geografis, sebuah status yang dapat meningkatkan nilai pasar dan pengakuan terhadap produk lokal. Namun, para ahli menegaskan bahwa pengakuan saja tidak cukup. Dokumentasi mendalam mengenai varietas kentang serta pengetahuan petani dalam memilih dan menyimpan benih harus segera dilakukan sebelum praktik tradisional ini benar-benar menghilang dari Gurez.
Sumber: Environment | The Guardian








