Sebuah peternakan mink di Utah, Amerika Serikat, dilaporkan menjadi pusat penyebaran flu burung sejak Agustus lalu tanpa adanya tindakan pencegahan yang memadai dari para pejabat setempat. Laporan dari kantor berita investigasi ProPublica menunjukkan bahwa pihak berwenang lebih memilih melindungi kepentingan bisnis daripada keselamatan jiwa manusia di tengah ancaman wabah global.
Risiko Tinggi Peternakan Mink
Peternakan mink dikenal sangat rentan menjadi tempat berkembang biak strain flu yang mematikan karena tiga faktor utama. Pertama, mink diberi makan jeroan ayam, sapi, dan hewan ternak lain yang sering kali membawa varian virus baru. Kedua, mink dapat menjadi inang bagi virus flu burung dan manusia sekaligus, yang memungkinkan terjadinya pertukaran materi genetik menjadi virus baru penular manusia. Ketiga, hewan ini memiliki potensi zoonosis yang sangat tinggi untuk menularkan penyakit ke spesies lain termasuk manusia.
Virus flu burung jenis H5N1 yang menyebar ke manusia diketahui sangat berbahaya dengan tingkat kematian mencapai 48 persen sejak 1997. Amerika Serikat baru saja mengumumkan kematian pertamanya tahun ini akibat flu burung yang menular dari sapi perah yang terinfeksi. Jika peternakan mink melahirkan varian baru yang memiliki tingkat penularan antarmanusia yang tinggi sekaligus mematikan, hal tersebut dapat memicu bencana kesehatan global yang jauh lebih parah dari Covid-19.
Lambatnya Respons Pejabat Setempat
Berdasarkan temuan ProPublica, alih-alih menutup peternakan dan memusnahkan mink yang terinfeksi untuk menghentikan penyebaran virus, departemen terkait di Utah justru berupaya menutupi kasus tersebut. Pejabat kesehatan publik gagal menguji para pekerja peternakan yang setiap hari berkontak langsung dengan mink terinfeksi atau melacak kontak mereka karena alasan para petani merasa terganggu dengan adanya pengujian.
Dokter hewan negara bagian Utah, Amanda Price, menyebut situasi wabah tersebut sangat menghancurkan, namun kekhawatiran itu ditujukan pada mata pencaharian peternak alih-alih kesehatan masyarakat. Ia menyatakan bahwa pihaknya tidak memiliki banyak opsi selain menunggu perkembangan, dan mengakui respons baru akan berubah jika ada manusia yang mati secara aktif. Pemerintah setempat juga menolak mendeklarasikan status darurat karena khawatir hal itu akan menarik perhatian kelompok pembela hak-hak hewan dan masyarakat umum.
Bahaya Industri Peternakan
Praktik peternakan hewan secara keseluruhan, mulai dari ayam, babi, hingga sapi perah, membawa risiko tinggi dalam memicu pandemi karena berfungsi sebagai amplifier penyakit. Menteri Kesehatan AS Robert F. Kennedy Jr. bahkan sempat melontarkan gagasan agar peternak membiarkan flu burung menimpa kawanan unggas untuk mengidentifikasi yang kebal, sebuah langkah yang dinilai sangat berbahaya dan tidak berguna. Di sisi lain, industri peternakan tidak hanya memicu krisis iklim, polusi, serta kepunahan satwa liar, tetapi kini juga menjadi faktor risiko terbesar bagi munculnya pandemi baru dan resistensi antimikroba.
Sumber: Environment | The Guardian







