Ekonomi

Airlangga Lapor Prabowo: Ekonomi Terjaga dan Manufaktur Ekspansif

Airlangga Lapor Prabowo: Ekonomi Terjaga dan Manufaktur Ekspansif
Daftar Isi
  1. Laporan Ekonomi di Istana Negara
  2. Indikator Manufaktur dan Perdagangan
  3. Perkembangan Inflasi Nasional

Sejumlah menteri bidang ekonomi Kabinet Merah Putih menyampaikan laporan mengenai perkembangan terkini perekonomian makro nasional kepada Presiden Prabowo Subianto. Pertemuan tersebut membahas berbagai indikator yang menunjukkan tren positif bagi perekonomian dalam negeri.

Laporan Ekonomi di Istana Negara

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menjelaskan bahwa berbagai indikator memperlihatkan perekonomian nasional bergerak ke arah yang baik. Seperti dilaporkan CNBC Indonesia, keterangan tersebut disampaikan Airlangga seusai menghadiri rapat terbatas di Istana Negara, Jakarta, pada Senin (2/11/2026).

Rapat terbatas itu turut dihadiri oleh Menteri Keuangan Suahasil Nazara, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung, Kepala Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) Rosan Roeslani, serta Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Simon Aloysius Mantiri.

Indikator Manufaktur dan Perdagangan

Airlangga memaparkan bahwa Purchasing Managers Index (PMI) manufaktur Indonesia berada di zona ekspansi pada level 54, mengalami peningkatan dari posisi bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 52,4. Menurutnya, pencapaian tersebut merupakan level ekspansi yang paling kuat sejak Maret 2024.

“Dan level ekspansinya ini terkuat sejak Maret lalu, Maret 2024. Jadi ini level ekspansi yang tinggi,” ujar Airlangga.

Sementara itu, sektor perdagangan membukukan surplus sebesar US$3,36 miliar pada September 2026. Angka tersebut didukung oleh surplus sektor nonmigas senilai US$5,67 miliar, kendati sektor migas mengalami defisit sebesar US$2,31 miliar.

Akumulasi surplus neraca perdagangan sepanjang Januari hingga September 2026 mencapai US$10,61 miliar. Perolehan ini didorong oleh surplus nonmigas sebesar US$34,21 miliar meskipun neraca migas mencatatkan defisit sebesar US$23,6 miliar.

Kinerja ekspor nasional juga menunjukkan pertumbuhan positif dengan total nilai mencapai US$221,23 miliar selama periode Januari hingga September 2026. Angka ini meningkat 5,58 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, dengan ekspor nonmigas tercatat sebesar US$212,27 miliar.

Perkembangan Inflasi Nasional

Dari sektor harga, tingkat inflasi pada Oktober 2026 tercatat sebesar 3,23 persen secara tahunan (yoy) dan 0,22 persen secara bulanan, sementara inflasi tahun kalender (year to date) berada di angka 2,4 persen.

Kenaikan inflasi dipengaruhi oleh faktor harga pangan bergejolak (volatile food), kelompok makanan dan minuman, cabai rawit, ikan segar, serta inflasi pada sektor transportasi. Meskipun demikian, pemerintah tidak merasa khawatir dengan tingkat inflasi tersebut.

“Dari segi inflasi sendiri core inflation-nya hanya 2,56 persen, administer price yang memang tinggi 3,24 persen dan volatile food 5,81 persen. Jadi ini menunjukkan bahwa fundamental ekonomi Indonesia terjaga dan masih kuat sampai bulan ini, dan sampai akhir tahun diharapkan kondisi masih terjaga,” pungkas Airlangga.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *