Nasional

Tan Kian Tak Lapor Polisi Meski Diperas Rp 55 M oleh Boboho

Tan Kian Tak Lapor Polisi Meski Diperas Rp 55 M oleh Boboho

Pengusaha Tan Kian menyatakan dirinya merasa diperas oleh Ferry Yanto Hongkiriwang alias Ferry Boboho sebesar SGD 5 juta atau setara dengan Rp 55 miliar karena mendapat ancaman dijadikan tersangka dalam kasus korupsi Jiwasraya. Meskipun merasa diperas, Tan memutuskan untuk tidak melaporkan kejadian tersebut kepada pihak kepolisian.

Alasan Tan Kian Tidak Melapor ke Polisi

Keterangan tersebut diungkapkan oleh Tan Kian saat hadir sebagai saksi dalam persidangan dugaan pemerasan serta tindak pidana pencucian uang yang menyeret mantan Jampidsus Febrie Adriansyah di Pengadilan Tipikor Jakarta pada Selasa (3/11/2026) dini hari. Selain Febrie, terdakwa pencucian uang yang turut diadili dalam sidang yang sama adalah Don Ritto alias Idon dan Nurman Herin.

Dalam persidangan, penasihat hukum Don Ritto mempertanyakan alasan Tan yang tidak membuat laporan polisi meski mengalami pemerasan bernilai besar. Menjawab pertanyaan tersebut, Tan mengaku khawatir para investornya akan melarikan diri apabila kasus pemerasan ini mencuat ke publik.

Tan menambahkan bahwa dirinya juga cemas fasilitas kredit serta pembiayaan yang dimilikinya dari pihak bank akan dicabut jika kasus tersebut menjadi ramai.

Dakwaan Terhadap Febrie Adriansyah

Di dalam persidangan ini, Febrie Adriansyah didakwa melakukan pemerasan terhadap pengusaha Tan Kian dengan nominal mencapai Rp 55 miliar. Jaksa penuntut umum menyatakan bahwa tindakan tersebut dijalankan oleh Febrie dengan perantara Ferry Yanto Hongkiriwang.

Febrie bersama para terdakwa lainnya turut didakwa melakukan tindak pidana pencucian uang dengan total mencapai Rp 346.743.821.282 serta USD 440.990 yang jika dikalkulasikan bernilai sekitar Rp 7,9 miliar. Jaksa menyebut Febrie menyembunyikan aliran dana tersebut melalui pembelian berbagai bentuk aset, termasuk emas seberat 74 kilogram yang ditemukan di dalam salah satu dari tiga brankas yang dibongkar selama tahap penyidikan, serta pembelian sebuah kafe bersama Don Ritto yang kerap mereka jadikan tempat berkumpul.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *