Dunia

Kapal Cepat Abaikan Batasan Kecepatan di Habitat Paus

Kapal Cepat Abaikan Batasan Kecepatan di Habitat Paus

Penyelidikan yang dilakukan oleh The Guardian menemukan bahwa perusahaan-perusahaan pelayaran terkemuka tetap mengoperasikan kapal di atas batas kecepatan yang dianjurkan pada kawasan habitat penting bagi paus di Laut Mediterania. Padahal, penurunan kecepatan kapal menjadi strategi mitigasi paling efektif untuk mencegah tabrakan fatal dengan mamalia laut yang terancam punah.

Ancaman Kecepatan Tinggi di Wilayah Konservasi

Kawasan laut antara Valencia dan Genoa, termasuk suaka perlindungan mamalia laut Pelagos, merupakan habitat krusial yang dihuni oleh sekitar dua pertiga paus sirip dan lebih dari seperlima paus sperma di Mediterania. Organisasi Maritim Internasional (IMO) menetapkan kawasan barat laut Laut Mediterania sebagai daerah laut yang sangat sensitif pada Juli 2023. Melalui rekomendasi kecepatan sukarela, IMO menyarankan kapal berbobot 300 ton kotor ke atas untuk berlayar pada kisaran 10 hingga 13 knot guna meredam risiko tabrakan mematikan. Tabrakan kapal hampir selalu berakibat fatal bagi satwa cetacea jika terjadi pada kecepatan 15 knot atau lebih, sementara risiko kematian rendah apabila kapal melaju di bawah 10 knot.

Berdasarkan data perusahaan intelijen maritim Veson Nautical dan Global Fishing Watch, kapal-kapal yang dilengkapi nomor identifikasi IMO menghabiskan waktu lebih dari 280.000 jam dengan kecepatan 15 knot ke atas saat melintasi kawasan sensitif tersebut sepanjang 2025. Data juga mencatat kapal-kapal masih melaju di atas 25 knot selama lebih dari 6.000 jam. Aktivitas ngebut ini terkonsentrasi pada beberapa operator saja, di mana empat kapal cepat milik Baleària dan tiga kapal pesiar Grimaldi bertanggung jawab atas 70 persen total jam pelayaran yang dihabiskan di atas 25 knot.

Sejumlah kapten kapal yang berlayar di kawasan lindung tersebut menyatakan bahwa perusahaan mereka tidak menerapkan kebijakan khusus untuk mendorong pelayaran lambat demi mematuhi imbauan IMO. Menurut seorang kapten dari Grimaldi yang diwawancarai, aturan yang bersifat sukarela tidak akan menurunkan kecepatan karena akan merombak seluruh sistem komersial, terlebih kapal feri yang mengangkut wisatawan harus mematuhi jadwal yang ketat. Thomas Folegot selaku Kepala Eksekutif Quiet-Oceans menilai bahwa pembatasan kecepatan sangat menantang bagi kapal feri karena dapat mematikan bisnis mereka akibat penumpang yang beralih menggunakan pesawat.

Tanggapan Perusahaan Pelayaran dan Desakan Aturan Wajib

Simone Panigada selaku presiden Tethys Research Institute berpandangan bahwa sudah saatnya aturan pengurangan risiko tabrakan diubah secara progresif dari yang bersifat sukarela menjadi kewajiban. Kerangka kerja yang mengikat akan menciptakan kondisi yang setara bagi seluruh operator serta memastikan kepatuhan tanpa bergantung pada keputusan korporasi secara mandiri. Di sisi lain, Komisi Penangkapan Paus Internasional mencatat enam insiden di kawasan tersebut sejak Juli 2023 yang terdiri dari lima peristiwa nyaris tabrakan dan satu insiden tubrukan, kendati sebagian besar kasus diyakini tidak tercatat.

Meskipun durasi pelayaran di atas ambang batas 15 knot masih tinggi pada 2025, angka tersebut menunjukkan penurunan sebesar 11 persen jika dibandingkan dengan data pada 2022. Waktu pelayaran di atas 25 knot juga berkurang sekitar sepertiga dalam kurun waktu yang sama, meski penurunan tahunan ini dinilai bukan disebabkan oleh rekomendasi pembatasan kecepatan IMO melainkan faktor lain seperti perubahan rute pelayaran. World Shipping Council menyatakan bahwa industri pelayaran berkomitmen terhadap langkah perlindungan kawasan sensitif, kendati navigasi lambat membawa konsekuensi komersial dan operasional termasuk kebutuhan penambahan armada demi keandalan jadwal.

Perwakilan Corsica Ferries menyatakan bahwa perusahaan mendukung penelitian fauna laut Mediterania melalui pemantauan berkelanjutan, pelatihan awak, dan pengembangan alat peringatan keberadaan paus. Perusahaan tersebut menginstruksikan para kapten untuk berhati-hati dan menurunkan kecepatan menjadi 10 hingga 13 knot, meski mereka juga berupaya menghindari dampak negatif kecepatan rendah terhadap kemampuan olah gerak kapal dan berkurangnya kapasitas menghindar dari satwa yang muncul secara tiba-tiba. Sementara itu, juru bicara Baleària menegaskan komitmen mereka terhadap pelestarian keanekaragaman hayati melalui pelatihan awak kapal dan sistem pemantauan waktu nyata, serta memastikan bahwa tidak ada kapal cepat mereka yang pernah mencatatkan tabrakan dengan cetacea.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *