Ekonomi

Kota Kecil di Kanada Terancam Jadi Kota Mati Akibat Tarif Trump

Kota Kecil di Kanada Terancam Jadi Kota Mati Akibat Tarif Trump
Daftar Isi
  1. Dampak Nyata Tarif Impor Amerika Serikat
  2. Kondisi Ekonomi Nasional dan Upaya Warga
  3. Tanggapan Pemerintah dan Harapan Warga

Sebuah kota kecil di Témiscaming, Quebec, Kanada, kini terancam menjadi kota mati setelah pabrik kertas utama yang menjadi tumpuan ekonomi setempat berhenti beroperasi akibat perang dagang. Kebijakan tarif impor yang diterapkan oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump membuat pabrik tersebut lumpuh dan sebagian besar dari 360 pegawainya kehilangan pekerjaan.

Dampak Nyata Tarif Impor Amerika Serikat

Pabrik yang telah beroperasi selama lebih dari satu abad ini terpaksa ditutup tanpa batas waktu tertentu oleh pemilik asal Amerika Serikat, RYAM, pada awal Oktober lalu. Sebagian besar karyawan saat ini hanya mengandalkan bayaran parsial dari bantuan keringanan tarif pemerintah, sementara harga properti di wilayah tersebut langsung merosot tajam.

Nadine Suley, salah seorang pekerja pabrik, mengungkapkan bahwa penutupan ini bukan sekadar kehilangan pekerjaan melainkan hilangnya cara hidup mereka. Menurut Suley, tarif yang diberikan terasa bagaikan sebuah serangan pribadi terhadap tempat tinggal mereka, seperti disampaikannya kepada BBC News Indonesia.

Kekhawatiran turut dirasakan oleh para penyedia layanan esensial, mulai dari petugas toko kelontong hingga dokter di rumah sakit lokal. Ronnie Raymond, warga setempat yang keluarganya turun-temurun bekerja di pabrik tersebut, menyatakan bahwa wilayah itu akan berubah menjadi kota mati tanpa sisa lapangan pekerjaan apa pun.

Kondisi Ekonomi Nasional dan Upaya Warga

Secara nasional, ekonomi Kanada secara keseluruhan mampu bertahan di tengah perang dagang dengan tingkat pengangguran yang stabil di kisaran 6,5 persen. Namun, hantaman keras dirasakan pada sektor-sektor tertentu yang dikenakan tarif hingga 50 persen oleh Amerika Serikat, seperti baja, aluminium, otomotif, serta bubur kertas dan kayu.

Stéphane Lefebvre, seorang karyawan sekaligus pemimpin serikat pekerja, menilai bahwa hilangnya lapangan pekerjaan sebesar 10 persen di kota besar seperti Toronto atau Montreal pasti akan memicu tekanan besar kepada pemerintah. Di sisi lain, para pekerja pabrik kini berupaya menggalang koalisi lokal untuk membeli kembali pabrik tersebut dari RYAM, seperti yang pernah mereka lakukan pada tahun 1973 silam saat membentuk perusahaan Tembec.

Meski demikian, Lefebvre menegaskan bahwa warga memerlukan bantuan signifikan dari Perdana Menteri Mark Carney serta pemerintah Quebec, baik berupa keringanan tarif maupun sokongan finansial. Ketika dikonfirmasi oleh BBC News Indonesia, pihak RYAM menyatakan tidak ingin memberikan komentar terkait potensi penjualan pabrik tersebut ataupun calon pembeli.

Tanggapan Pemerintah dan Harapan Warga

Wali Kota Témiscaming, Alain Gauthier, mengkritik langkah pemerintah yang dinilai kurang tegas dalam menghadapi perang dagang ini. Juru bicara Menteri Perindustrian Mélanie Joly menyampaikan kepada BBC News Indonesia bahwa pemerintah telah menyediakan dana sebesar 400 juta dolar untuk mendukung sektor kehutanan di wilayah terpencil serta meluncurkan program bantuan arus kas bagi bisnis terdampak.

Pemerintah Kanada juga menyatakan tengah bekerja sama secara aktif dengan seluruh pihak guna menemukan solusi yang layak bagi kelangsungan perusahaan. Sementara itu, Frank Dottori, mantan CEO dan tokoh kunci di balik penyelamatan pabrik pada dekade 1970-an, berujar bahwa generasi pekerja saat ini memerlukan sosok pemimpin yang berani serta pencabutan tarif Amerika Serikat demi memulihkan kelayakan ekonomi pabrik dalam jangka panjang.

Sejumlah warga kini menaruh harapan pada pemilihan paruh waktu di Amerika Serikat guna menekan Presiden Donald Trump agar melonggarkan kebijakan tarifnya. Suley dan para pekerja lainnya berharap penyelesaian dapat tercapai sebelum musim dingin tiba, karena suhu di bawah nol derajat dikhawatirkan dapat membekukan dan merusak peralatan di pabrik yang tengah menganggur tersebut.

Sumber: BBC News

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *