Dunia

Kecelakaan Kereta Cepat Spanyol Tewaskan 68 Orang

Kecelakaan Kereta Cepat Spanyol Tewaskan 68 Orang

Pagi hari yang normal di Spanyol berubah menjadi bencana ketika dua kereta berkecepatan tinggi bertabrakan di jalur antara ibu kota Madrid dan Seville, Rabu. Peristiwa nahas ini terjadi setelah masalah komputer pada sistem sinyal otomatis memaksa sejumlah kereta berhenti di jalur tersebut, sebelum akhirnya salah satu kereta diperintahkan melaju kembali karena kesalahan.

Dampak Benturan Keras dan Kepanikan Penumpang

Kecelakaan terjadi di antara wilayah munisipalitas Mora dan Orgaz, sekitar 140 kilometer di selatan Madrid, ketika kereta milik operator milik negara Renfe menabrak bagian belakang kereta dari operator swasta Iryo. Sejumlah penumpang tengah tertidur, bekerja menggunakan komputer jinjing, atau bermain gedoran ponsel ketika perjalanan mereka terganggu oleh pengumuman adanya kemacetan di jalur rel.

Tangui Binier, 22, berada di gerbong nomor delapan yang merupakan gerbong depan kereta Iryo, sementara ayahnya berada di gerbong nomor tujuh. Kereta mereka menjadi salah satu dari enam rangkaian yang diperintahkan berhenti pada pukul 08:30 waktu setempat, kata Binier kepada BBC News Indonesia. Beberapa menit berselang, kereta mulai melaju kencang sebelum berhenti mendadak, membuat Binier melihat kabel-kabel di sisi kiri terjatuh dan kepulan asap tebal di belakang.

Di kereta Renfe yang berhenti lebih dari 25 kilometer dari lokasi Binier, jurnalis Spanyol Roberto Gómez sedang tidur-tiduran. Kereta tersebut sempat berhenti sejenak sebelum kembali bergerak, dan tabrakan terjadi sekitar 17 menit setelah pukul 08:36 ketika kereta itu diperintahkan melanjutkan perjalanan, menurut Menteri Transportasi Spanyol, Óscar Puente.

Gómez menggambarkan benturan tersebut sangat mengerikan hingga gerbong hancur total dan koper-koper berserakan. Ia mengalami luka ringan, namun melihat penumpang lain jatuh menimpanya dan mengalami luka parah di kepala, serta membantu orang-orang yang menderita hantaman keras di dada dan rusuk.

Rafael Barcelo berada di gerbong nomor tujuh yang menjadi salah satu gerbong terparah dan paling hancur akibat benturan. Saat kejadian, ia sedang menikmati kopi dan merasakan hantaman luar biasa yang membuat semua orang terlempar ke udara. Sementara itu, Salvador Arriza yang berada di gerbong Renfe paling jauh dari titik benturan mengatakan tempat duduk terlepas dan orang-orang yang duduk searah perjalanan terlempar, bahkan ia melihat sepotong jalur kereta menembus atap salah satu gerbong yang diyakini membantu meredam laju kereta.

Pertanyaan Terkait Teknologi dan Dampak Psikologis

Setelah benturan mereda, para penumpang di gerbong Binier sempat berdebat mengenai keselamatan keluar kereta akibat kabel listrik yang berserakan. Begitu keluar, mereka dihadapkan pada pemandangan mengerikan berupa mayat, anggota tubuh yang terputus, dan kereta yang terbalik serta penuh puing.

Meski dilanda syok, para penumpang yang tidak terluka termasuk ayah Binier langsung bergerak membantu korban selamat, seperti mengusung seorang gadis yang mengalami patah panggul. Insiden ini memicu kemarahan para penumpang yang mempertanyakan bagaimana kecelakaan bisa terjadi dengan teknologi saat ini tanpa adanya peringatan yang tepat kepada masinis.

Kecelakaan hari Rabu ini menimbulkan banyak pertanyaan bagi pihak berwenang, mengingat Spanyol sebelumnya masih berduka akibat bencana kereta cepat Adamuz di luar Córdoba pada Januari lalu yang menewaskan 46 orang di jalur berkecepatan tinggi yang sama namun jauh di bagian selatan.

Sumber: BBC News

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *