Daftar Isi
Sebuah gencatan senjata lokal di Ukraina yang bertujuan membantu lebih dari 1.000 warga sipil memicu perdebatan mengenai siapa pihak yang sebenarnya berjasa menengahi perundingan tersebut. Gedung Putih mengklaim Ibu Negara Amerika Serikat, Melania Trump, sebagai tokoh di balik gencatan senjata di Oleshky, sementara Vatikan menyebut Paus lah yang berperan melalui sambungan telepon dengan para pemimpin kedua negara.
Mengenai Gencatan Senjata di Oleshky
Pasukan Rusia merebut kota Oleshky yang terletak di wilayah Kherson pada awal invasi di Februari 2022 dan menguasainya hingga kini. Kota tersebut mengalami kerusakan berat akibat perang serta hancurnya Bendungan Kakhovka pada tahun 2023 yang memicu banjir. Menurut perkiraan Amerika Serikat, sekitar 1.700 hingga 2.000 warga masih bertahan di sana dan menghadapi krisis kekurangan makanan, obat-obatan, serta pasokan penting lainnya.
Gencatan senjata singkat diumumkan pada 23 Oktober dan dijadwalkan berakhir pada hari Minggu. Berdasarkan keterangan pejabat Ukraina dan Rusia, jeda pertempuran ini dirancang untuk memungkinkan penyaluran bantuan kemanusiaan serta evakuasi warga yang ingin meninggalkan wilayah pendudukan. Kedua belah pihak menegaskan bahwa kesepakatan ini bukan penghentian total permusuhan secara keseluruhan, meskipun Kremlin menyatakan pada hari Senin bahwa langkah tersebut berpotensi menjadi preseden bagi gencatan senjata lokal serupa di masa depan.
Kementerian Pertahanan Rusia menyampaikan melalui Telegram bahwa mereka menghentikan penembakan ke arah kota Kherson sejak pukul 04.00 waktu Moskwa pada hari Selasa demi mempersiapkan misi di Oleshky. Dmytro Lubinets selaku komisaris parlementer untuk hak asasi manusia sekaligus kepala tim perunding Ukraina mengonfirmasi kepatuhan pihak Ukraina terhadap komitmen tersebut melalui sebuah unggahan di Facebook.
Klaim Peran Melania Trump dan Gedung Putih
Saat mengumumkan gencatan senjata pada hari Jumat, Ibu Negara Melania Trump menggambarkan kondisi di Oleshky berada dalam situasi yang sangat parah dan di ambang bencana. Dalam pernyataan resmi yang dirilis Gedung Putih, ia menyebutkan bahwa warga setempat hidup di tengah keterbatasan listrik, jalanan yang dipenuhi ranjau, serta serangan militer rutin.
Melania menyatakan bahwa tanpa campur tangannya, upaya memasukkan bantuan kemanusiaan dan mengevakuasi para lanjut usia tidak akan mungkin terwujud. Pihak Gedung Putih menambahkan bahwa Melania bersama para perwakilannya bekerja sama erat dengan kepemimpinan Rusia dan Ukraina untuk merumuskan ketentuan gencatan senjata. Para pemimpin sipil nonmiliter dari kedua negara akan berkolaborasi mengunjungi warga Oleshky dan memberikan dukungan transportasi bagi mereka yang ingin dievakuasi ke Rusia maupun Ukraina.
Dmytro Lubinets secara terbuka menyampaikan apresiasi kepada sang ibu negara beserta timnya atas bantuan koordinasi perundingan tersebut, sementara para pejabat Rusia turut mengonfirmasi adanya kesepakatan ini.
Tanggapan dan Peran Pihak Vatikan
Sehari setelah pengumuman Gedung Putih, surat kabar resmi Vatikan, L’Osservatore Romano, menerbitkan artikel halaman depan berjudul Gencatan Senjata Kemanusiaan untuk Oleshky. Artikel tersebut menekankan bahwa gencatan senjata berhasil dicapai berkat komunikasi langsung Paus dengan Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy.
Paus menelepon Vladimir Putin pada 16 Oktober untuk menyampaikan keprihatinan mendalam terhadap situasi kemanusiaan di Oleshky sekaligus mendesak gencatan senjata agar bantuan makanan dan medis dapat masuk. Percakapan tersebut dilakukan Paus saat dirinya berada di rumah sakit dalam masa pemulihan usai menjalani operasi pengangkatan tumor kanker di paru-paru. Tiga hari berselang, tepatnya pada 19 Oktober, Paus juga berbicara dengan Volodymyr Zelenskyy terkait permasalahan yang sama, menyusul lawatan utusan khusus Paus, Kardinal Matteo Zuppi, ke Moskwa pada akhir September untuk membahas kondisi di Oleshky.
Dinamika Hubungan Politik dan Dampak Pemilu Midterm
Hubungan antara Presiden Donald Trump dan Paus dikenal kurang harmonis setelah sang Paus mengkritik keputusan Trump melancarkan perang di Iran yang dianggap melanggar prinsip moral perang yang adil dalam ajaran Katolik. Menanggapi kritik tersebut, Trump sempat melontarkan pernyataan pedas melalui media sosial Truth Social pada bulan April dengan menyebut Paus lemah dalam penanganan kejahatan serta senjata nuklir.
Di tengah situasi tersebut, popularitas Trump di kalangan pemilih Katolik berada di angka yang rendah. Berdasarkan studi Pew Research Center yang dilakukan pada akhir September hingga awal Oktober, tingkat persetujuan terhadap Trump di kalangan pemilih Katolik merosot dari 47 persen pada Januari 2025 menjadi 30 persen pada Oktober 2026. Keputusan untuk tidak menyebutkan peran Paus dalam gencatan senjata Oleshky dinilai tidak akan membantu posisi politiknya menjelang pemilihan paruh waktu Amerika Serikat yang dijadwalkan berlangsung pekan depan.







