Daftar Isi
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menggunakan retorika bernada ancaman dan dilaporkan menekan pihak militer untuk mengambil tindakan terhadap Iran. Langkah ini diambil ketika koalisi sayap kanannya membuntut tipis dari oposisi menjelang pemilu yang digelar pada Selasa.
Netanyahu mengunggah gambar buatan kecerdasan buatan (AI) yang memperlihatkan awan jamur nuklir menghancurkan Tel Aviv di media sosial. Ia menyerukan kepada pemilih untuk mendukungnya atau menghadapi risiko kehancuran nuklir akibat program nuklir Iran.
Perselisihan dengan Pimpinan Militer
Berdasarkan laporan stasiun televisi Israel Channel 12, Netanyahu terlibat perselisihan dengan Kepala Staf Angkatan Bersenjata Israel, Letjen Eyal Zamir. Perselisihan tersebut dipicu oleh instruksi kepada militer yang berpotensi memicu miskalkulasi dan konflik langsung dengan Iran. Zamir dilaporkan meminta agar arahan tersebut diberikan secara tertulis.
Netanyahu membantah laporan tersebut, dan Kementerian Pertahanan Israel kemudian menegaskan tidak ada niat untuk menjalankan operasi militer terhadap Iran. Sementara itu, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) menyatakan bahwa setiap keputusannya murni didasarkan pada pertimbangan keamanan, profesional, objektif, dan nasional.
Laporan dari CNN dan Financial Times juga menyebutkan bahwa Netanyahu berusaha membujuk Donald Trump untuk meluncurkan serangan baru ke Iran. Namun, Trump menolak tindakan tersebut setidaknya hingga pemilu sela Kongres Amerika Serikat pekan depan selesai.
Pernyataan bernada ancaman dari Netanyahu ini berbanding terbalik dengan klaim kemenangannya terdahulu. Pada Maret lalu, ia sempat menyatakan serangan Israel dan Amerika Serikat telah menghancurkan kemampuan Iran dalam memperkaya uranium dan memproduksi rudal balistik.
Peta Politik dan Tanggapan Oposisi
Pemimpin blok oposisi, Gadi Eisenkot, memberikan dukungannya kepada Zamir. Mantan jenderal militer tersebut menegaskan bahwa pihak oposisi tidak akan membiarkan militer dijadikan alat politik demi kelangsungan kekuasaan Netanyahu.
Sebagian besar hasil survei menunjukkan blok oposisi berhaluan tengah-kanan pimpinan Eisenkot diperkirakan meraih lebih banyak kursi di Knesset dibanding koalisi Netanyahu. Meski demikian, kedua kubu diprediksi kesulitan mencapai batas minimal 61 kursi untuk membentuk pemerintahan mayoritas.
Oposisi sebenarnya berpeluang membentuk mayoritas jika berkoalisi dengan partai-partai warga Palestina berwarganegaraan Israel. Namun, kubu konservatif di dalam blok Eisenkot menolak opsi tersebut, sehingga membuka kemungkinan terbentuknya pemerintahan minoritas, pemilu ulang, atau kebangkitan kembali Netanyahu.
Dalam wawancaranya di Channel 14, Netanyahu menyebut pemilihan umum kali ini sebagai keputusan eksistensial bagi negara. Ia mengkritik blok oposisi sebagai kelompok kiri yang bersekutu dengan warga Palestina dan menyebut aliansi tersebut dapat membahayakan Israel.
Dukungan Trump dan Isu Ekonomi
Di tahap akhir kampanye, Netanyahu menekankan dukungan dari Donald Trump yang memujinya di media sosial sebagai perdana menteri pejuang yang luar biasa. Media Israel Walla News melaporkan bahwa pernyataan dukungan tersebut keluar setelah adanya desakan intensif dari kantor Netanyahu.
Meskipun demikian, jajak pendapat menunjukkan dukungan Trump tidak banyak memengaruhi pemilih. Sebanyak 64 persen responden menyatakan hal itu tidak memengaruhi pilihan mereka, 17 persen mengaku makin enggan mendukung Netanyahu, dan hanya 12 persen yang makin mantap memilih Partai Likud.
Selain isu keamanan, Netanyahu memperingatkan bahwa bantuan militer tahunan dari Amerika Serikat akan segera berkurang. Ia juga mengklaim bahwa Israel dapat menggunakan mata uang kripto untuk menghindari sanksi global yang kian meningkat.
Klaim mengenai mata uang kripto tersebut mendapat teguran terbuka dari Bank of Israel. Bank sentral menegaskan bahwa mata uang kripto tidak dapat digunakan untuk menghindari sanksi dan mengimbau pemerintah untuk fokus menjaga hubungan ekonomi dengan mitra dagang utama.
Sumber: World news | The Guardian







