Otomotif

Penyebab Utama Kerusakan Baterai Mobil Listrik Menurut Geotab

Penyebab Utama Kerusakan Baterai Mobil Listrik Menurut Geotab
Daftar Isi
  1. Metodologi Riset dan Tren Pasar EV
  2. Pengaruh Frekuensi dan Daya Pengisian Cepat
  3. Dampak Suhu Panas pada Sel Baterai

Studi terbaru dari perusahaan manajemen armada Geotab mengungkapkan bahwa pengisian daya cepat searah (DC fast charging) dan paparan suhu panas menjadi dua faktor utama yang mempercepat penurunan kapasitas baterai kendaraan listrik (EV). Meski baterai EV tergolong tangguh dan rata-rata mempertahankan hampir 82 persen kapasitas aslinya setelah delapan tahun, kebiasaan pengisian daya dan kondisi lingkungan tetap memengaruhi daya tahannya, seperti dilaporkan Engadget.

Metodologi Riset dan Tren Pasar EV

Berdasarkan analisis data telematika nyata dari lebih dari 22.700 unit EV yang mencakup 21 model berbeda, Geotab mencatat tingkat penurunan kapasitas (degradasi) baterai tahunan rata-rata berada di angka 2,3 persen. Penurunan ini dapat memengaruhi jarak tempuh, performa kendaraan, hingga nilai jual kembali mobil di masa depan.

Temuan ini hadir di tengah dinamika pasar kendaraan listrik. Data Kelley Blue Book menunjukkan penjualan EV di Amerika Serikat sempat mencapai sekitar 10 persen dari total penjualan mobil baru. Angka tersebut sempat turun ke kisaran 6 persen atau lebih rendah saat insentif pajak federal berakhir tahun lalu, sebelum akhirnya kembali menunjukkan peningkatan minat dari para pengemudi.

Pengaruh Frekuensi dan Daya Pengisian Cepat

Geotab mengidentifikasi pengisian daya cepat arus searah (DCFC) sebagai salah satu pemicu utama percepatan penurunan kapasitas baterai. Produsen otomotif Ford menjelaskan bahwa fasilitas DCFC merupakan opsi yang sangat membantu saat pengemudi butuh mengisi daya dengan cepat dalam perjalanan jauh, dengan kemampuan mengisi baterai hingga 80 persen dalam waktu 20 hingga 60 menit.

Namun, pemilik EV yang memanfaatkan DCFC sebanyak 12 persen atau lebih dari total sesi pengisian daya mengalami tingkat degradasi tahunan sebesar 2,5 persen, dibandingkan 1,5 persen pada pengguna yang menggunakannya di bawah 12 persen. Selain frekuensi, besaran daya listrik juga memegang peranan penting. Kendaraan yang sering diisi daya menggunakan daya tinggi di atas 100 kW mencatatkan penurunan kapasitas baterai tahunan hingga 3 persen.

Dampak Suhu Panas pada Sel Baterai

Selain kebiasaan pengisian daya, suhu udara lingkungan turut memengaruhi masa pakai baterai. Suhu panas meningkatkan aktivitas kimiawi di dalam baterai, yang berdampak pada bertambahnya tekanan internal pada sel baterai meski mobil sudah dilengkapi sistem manajemen suhu internal.

Studi Geotab menemukan bahwa mobil listrik yang beroperasi di iklim lebih panas—dengan suhu 77 derajat Fahrenheit (sekitar 25 derajat Celsius) atau lebih selama lebih dari 35 persen hari dalam setahun—mengalami degradasi 0,4 persen lebih cepat dibandingkan kendaraan di iklim yang lebih sejuk. Meskipun degradasi baterai tidak dapat dihindari sepenuhnya, memperhatikan faktor pemicu ini dapat membantu pemilik menjaga kinerja baterai mobil listrik mereka dalam jangka panjang.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *