Platform desain populer Canva meluncurkan model gambar kecerdasan buatan pertamanya yang diberi nama Canva Craft dan kini sudah bisa diakses oleh seluruh pengguna di seluruh dunia. Model baru ini dikembangkan secara khusus untuk memenuhi kebutuhan para perancang grafis.
Fitur dan Cara Kerja Canva Craft
Kepala Riset AI Canva, Stefano Corazza, menjelaskan kepada CNET bahwa langkah ini didukung oleh akuisisi Leonardo.Ai serta peningkatan riset internal perusahaan. Keputusan untuk mengembangkan teknologi secara mandiri juga bertujuan menekan biaya komputasi awan serta mempercepat waktu pemrosesan.
Berdasarkan penjelasan resmi perusahaan, Canva Craft menggunakan arsitektur dua tahap yang memungkinkan model tersebut melakukan penalaran sebelum menghasilkan desain. Pelatihan model ini memanfaatkan perpustakaan Canva, basis data berlisensi maupun publik, serta data dari pengguna yang memberikan izin. Stefano Corazza menyatakan bahwa sistem ini mampu menyusun tata letak secara menyeluruh layaknya proses kerja seorang perancang profesional.
Dalam tahap pengujian awal pada platform DesignArena, Canva Craft menempati posisi keempat secara keseluruhan untuk kategori model gambar. Sistem ini unggul dalam pembuatan potret serta gambar produk, meski masih berada di bawah sejumlah pesaing pada subkategori pemasaran.
Kemampuan penyuntingan hasil AI juga menjadi fokus utama platform ini. Melalui pengembangan lanjutan dari fitur sebelumnya seperti Magic Layers, pengguna dapat memecah elemen desain buatan AI menjadi bagian-bagian dasar untuk disesuaikan kembali.
Kontroversi Penggunaan Teknologi AI
Kehadiran berbagai alat kecerdasan buatan kreatif masih menuai perdebatan di kalangan seniman, ilustrator, dan fotografer terkait masalah hak cipta serta kekhawatiran penggantian tenaga manusia. Di sisi lain, perusahaan kreatif berpendapat bahwa teknologi ini dihadirkan sekadar sebagai alat bantu.
CEO platform VSCO, Eric Wittman, menanggapi peluncuran tersebut melalui media sosial dengan menyatakan bahwa fotografer manusia tetap memegang peranan utama dalam pembuatan potret. Perkembangan teknologi ini juga memaksa para kreator untuk terus membuktikan keaslian karya mereka di tengah minimnya standar verifikasi digital yang seragam.
Sumber: News – CNET







