Ekonomi

Pasar Saham Brasil Anjlok Usai Kemenangan Luiz Inácio Lula

Pasar Saham Brasil Anjlok Usai Kemenangan Luiz Inácio Lula
Daftar Isi
  1. Dampak terhadap Pasar Keuangan
  2. Tantangan Ekonomi dan Kebijakan
  3. Ketegangan Politik dan Respons Internasional

Luiz Inácio Lula da Silva telah memenangkan masa jabatan keempat sebagai presiden Brasil setelah mengungguli Senator Flávio Bolsonaro dalam pemilihan umum. Hasil ini menandai peristiwa bersejarah karena untuk pertama kalinya sejak Brasil kembali ke pemilihan langsung pada tahun 1989, seorang kandidat berhasil memenangkan putaran final setelah kalah di putaran pertama.

Menurut data dari Pengadilan Pemilihan Umum (Superior Electoral Court), Lula memperoleh 51,8 persen suara sah dibandingkan dengan 48,2 persen yang diraih Bolsonaro setelah hampir seluruh surat suara dihitung pada hari Minggu. Kemenangan ini memicu aksi jual pada aset-aset Brasil karena pasar terkejut dengan hasil tersebut.

Dampak terhadap Pasar Keuangan

Pasar saham Brasil mengalami penurunan tajam setelah kemenangan yang tidak terduga ini, menghapus sebagian kenaikan yang terjadi setelah hasil putaran pertama tiga minggu sebelumnya. Kondisi ini mencerminkan kekhawatiran investor mengenai kebijakan fiskal, utang, dan pengeluaran negara di bawah pemerintahan Lula.

iShares MSCI Brazil ETF tercatat turun 25 persen pada pukul 10.30 pagi waktu setempat, sementara perdagangan di bursa saham Brasil sempat dihentikan oleh mekanisme pemutus arus otomatis. Perusahaan-perusahaan Brasil yang terdaftar di bursa Amerika Serikat juga mengalami tekanan jual. Raksasa energi Petrobras turun 16 persen, grup perbankan Itaú Unibanco merosot 20 persen, produsen bir Ambev turun 10,3 persen, perusahaan tambang Vale melemah 1,2 persen, dan produsen pesawat Embraer turun 5 persen.

Mata uang real Brasil juga melemah 10,5 persen terhadap dolar AS, mencapai level terendah sejak Desember 2025 menurut data LSEG. Sebagai respons, Departemen Keuangan Brasil pada hari Senin membatalkan lelang obligasi pemerintah dengan suku bunga tetap dan yang terkait inflasi yang dijadwalkan pada 27 dan 29 Oktober. Pihak kementerian menyatakan akan terus memantau kondisi pasar untuk memastikan fungsi pasar obligasi pemerintah tetap berjalan dengan baik.

Tantangan Ekonomi dan Kebijakan

Analis dari Citi menyatakan bahwa investor mengkhawatirkan kebijakan fiskal, badan usaha milik negara, dan agenda reformasi yang lebih luas di bawah kepemimpinan Lula. Selain itu, sektor perbankan diperkirakan akan terdampak oleh risiko suku bunga yang tetap tinggi dalam jangka waktu lama, yang dapat menunda normalisasi kualitas aset bank.

Lula, yang sebelumnya menjabat sebagai presiden pada periode 2003 hingga 2011, telah berjanji untuk memperluas sistem kesejahteraan sosial Bolsa Família dan mengurangi jam kerja tanpa memotong gaji. Chris Turner, kepala riset EMEA dan Latam di ING, mencatat bahwa sisi fiskal merupakan kelemahan utama Brasil. Dengan defisit anggaran sebesar 7 hingga 8 persen dan rasio utang bersih terhadap PDB sebesar 70 persen, Brasil dinilai rentan terhadap aksi jual obligasi global.

Di sisi lain, analis Goldman Sachs memperkirakan pemerintah akan mengambil langkah-langkah moderat untuk menahan pertumbuhan pengeluaran, di samping potensi kenaikan beban pajak, meskipun reformasi struktural besar dinilai tidak mungkin dilakukan. Sementara itu, Alejo Czerwonko dari Atlantic Council berpendapat bahwa pemerintahan Lula kemungkinan akan melanjutkan pendekatan bertahap dalam menstabilkan lintasan utang dengan tetap menjaga investasi publik dan pengeluaran sosial.

Ketegangan Politik dan Respons Internasional

Pasar keuangan juga memantau sikap Bolsonaro terkait hasil pemilu. Menurut laporan Reuters, Bolsonaro menolak untuk mengakui kekalahan dan menyatakan akan berupaya agar hasil pemilu dibatalkan. Ia juga menyebut keputusan hakim Mahkamah Agung untuk memperpanjang waktu pemungutan suara selama dua jam sebagai sesuatu yang tidak dapat diterima.

Proses pemilu sendiri diwarnai oleh tuduhan penekanan pemilih, di mana tim kampanye Lula melaporkan adanya penghentian transportasi umum di beberapa wilayah utama. Hakim Mahkamah Agung Cristiano Zanin kemudian memperpanjang waktu pemungutan suara selama dua jam. Tim kampanye Bolsonaro juga sempat mengajukan permohonan serupa karena hujan lebat yang menutup tempat pemungutan suara di wilayah selatan.

Kemenangan politisi berusia 80 tahun ini menghambat pergeseran ke arah kanan di Amerika Latin yang sebelumnya didukung oleh Presiden AS Donald Trump. Lula, yang akan memerintah dari tahun 2027 hingga 2030, akan menghadapi Kongres di mana Partai Liberal milik Bolsonaro memegang kursi terbanyak dalam beberapa dekade terakhir. Sementara itu, para pemimpin dari seluruh Amerika Latin, termasuk Presiden Peru Keiko Fujimori dan Presiden Uruguay Yamandú Orsi, telah menyampaikan ucapan selamat atas kemenangan Lula.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *