Daftar Isi
Pemanasan air laut di sekitar wilayah Inggris dan perairan Atlantik timur laut yang lebih luas berpotensi mengacaukan jaring makanan laut, menurunkan kesehatan samudra, serta mengancam ketahanan pangan pada 2050. Hal tersebut terungkap dalam sebuah studi komprehensif yang dilakukan selama empat tahun.
Dampak Pemanasan pada Keanekaragaman Hayati
Para ilmuwan yang memproyeksikan dampak krisis iklim terhadap empat kelompok utama kehidupan laut menegaskan bahwa temuan mereka menepis anggapan umum bahwa keanekaragaman hayati laut di lintang tengah, seperti Inggris, akan meningkat secara menyeluruh. Proyeksi tersebut justru menunjukkan ketidakseimbangan antara pemangsa dan mangsa yang berpotensi mengubah bentuk ekosistem laut secara fundamental dengan cara-cara yang tidak terduga.
Kawasan laut di sekitar Kepulauan Inggris dan Irlandia, khususnya wilayah selatan Laut Utara, telah dikategorikan sebagai titik panas iklim laut. Wilayah ini masuk dalam salah satu dari 20 kawasan di dunia yang mengalami peningkatan suhu tercepat dalam kurun waktu 50 tahun.
Berdasarkan skenario kenaikan suhu sebesar 3 derajat Celsius pada 2100, penelitian mendapati bahwa ikan serta invertebrata dasar laut berpeluru menjadi lebih beragam menjelang pertengahan abad. Kendati demikian, kelompok plankton penting yang berada di bagian bawah rantai makanan justru diperkirakan mengalami penurunan.
Elena Couce, seorang ekolog kelautan di Centre for Environment, Fisheries and Aquaculture Science (Cefas) sekaligus pemimpin bersama studi tersebut, menyatakan bahwa fenomena pemanasan ini tidak menaikkan atau menurunkan keanekaragaman hayati secara merata. Saat beberapa kelompok di tingkat rantai makanan yang lebih tinggi mengalami penambahan spesies, kelompok plankton penting penopang ekosistem justru terancam kehilangan spesies.
Hasil Riset dan Kolaborasi Internasional
Penelitian yang dipimpin oleh Cefas dan dipublikasikan dalam jurnal Science Advances ini melibatkan tim peneliti internasional dari University of East Anglia, Marine Biological Association, UiT the Arctic University of Norway, Royal Netherlands Institute for Sea Research, serta Technical University of Denmark.
Sebelumnya, riset Cefas mengenai spesies ikan utama mengindikasikan bahwa perairan barat laut Eropa yang semakin hangat akan memunculkan pemenang iklim seperti ikan teri, ikan besi, dan sarden. Sebaliknya, kondisi tersebut dinilai kurang menguntungkan bagi kelompok yang merugi seperti ikan cod Atlantik, haddock, dan coley.
Studi terbaru yang memfokuskan pengamatan pada perairan Inggris serta Atlantik timur laut yang mencakup wilayah Irlandia dan Prancis menemukan bahwa pada pertengahan abad, keanekaragaman ikan dan invertebrata dasar laut dapat meningkat sekitar 12 persen. Di sisi lain, keanekaragaman fitoplankton dan zooplankton masing-masing diproyeksikan merosot sekitar 3 persen dan 7 persen pada 2050.
Lily Greig selaku ekolog kelautan di Cefas dan pemimpin bersama penelitian tersebut menjelaskan bahwa peningkatan keragaman pemangsa yang tidak diimbangi keragaman mangsa berisiko mengganggu rantai makanan. Perubahan iklim dapat merombak keanekaragaman hayati laut secara tidak merata di sepanjang rantai makanan, sehingga penambahan pada kelompok tertentu tidak otomatis membuat ekosistem secara keseluruhan menjadi lebih tangguh.
Sistem Peringatan Dini bagi Pembuat Kebijakan
Para peneliti menyebutkan bahwa pemetaan wilayah dengan perubahan keanekaragaman hayati tercepat serta identifikasi bagian ekosistem yang paling rentan dapat berfungsi sebagai sistem peringatan dini terhadap potensi perubahan lingkungan. Hasil kerja ini telah diserahkan kepada tinjauan kawasan perlindungan laut pemerintah yang sedang mengkaji langkah-langkah pengelolaan perikanan.
Dalam pemodelan tersebut, para ilmuwan memanfaatkan berbagai kumpulan data jangka panjang serta teknik pembelajaran mesin mutakhir guna menetapkan hubungan antara keanekaragaman hayati dan perubahan lingkungan hingga tahun 2100.
Para pembuat kebijakan memiliki mandat untuk berupaya melestarikan atau bahkan meningkatkan keanekaragaman hayati, ujar Couce. Perubahan iklim sudah terbukti mengubah keanekaragaman hayati, dan faktor tersebut wajib diperhitungkan sebelum menyusun rencana pengelolaan lainnya.
Sumber: Environment | The Guardian








