Dunia

Pemilu Brasil: Pertarungan Ketat Lula dan Bolsonaro

Pemilu Brasil: Pertarungan Ketat Lula dan Bolsonaro

Brasil menyelenggarakan pemilihan umum putaran kedua yang berlangsung sangat ketat antara Luiz Inácio Lula da Silva dan kubu Bolsonaro. Pertarungan politik ini diwarnai oleh isu skandal korupsi, tekanan ekonomi, serta tuduhan keterlibatan Amerika Serikat dalam kontestasi tersebut.

Bayang-bayang Intervensi Politik Amerika Serikat

Reuters mengungkapkan adanya sebuah gerakan di dalam Departemen Luar Negeri Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Donald Trump untuk membantu keluarga Bolsonaro kembali berkuasa. Donald Trump sendiri enggan memberikan dukungan kepada salah satu kandidat ketika ditanya oleh awak media di Washington, dengan menyatakan bahwa dirinya hanya memantau jalannya pemilu.

Proses pemilu turut dibayangi oleh dampak vonis terhadap Jair Bolsonaro pada tahun 2025 akibat rencana kudeta tahun 2022, di mana Flavio berjanji akan membebaskan ayahnya jika terpilih. Trump menyebut kasus tersebut sebagai perburuan penyihir dan sempat menjatuhkan tarif 50 persen terhadap Brasil pada 2025 yang dikaitkan langsung dengan persidangan Jair Bolsonaro. Meskipun kebijakan itu kemudian dilonggarkan, pemerintah AS kembali mengenakan pungutan baru tahun ini dengan alasan praktik perdagangan yang tidak adil.

Lula menilai kedekatan pemerintahan Trump dengan keluarga Bolsonaro sebagai upaya untuk mempengaruhi pemilu, sembari menyebut pengenaan tarif dan sanksi sebagai bentuk intimidasi. Elenildes dos Reis, seorang pengacara berusia 60 tahun di Sao Paulo yang memilih Lula, mengatakan kemenangan Lula merupakan cara untuk melawan Trump dan gelombang fasisme yang meningkat. Menurutnya, kemenangan tersebut bukan hanya milik mereka, melainkan juga milik dunia.

Isu Ekonomi dan Keamanan Jadi Penentu Pemilih

Dalam bidang ekonomi, meski tingkat ketimpangan dan pengangguran mengalami penurunan, Lula menghadapi kesulitan dalam meyakinkan para pemilih yang masih bergelut dengan tingginya biaya hidup serta beban utang rumah tangga. Masalah kekerasan geng yang marak juga menjadi beban pikiran tersendiri bagi masyarakat. Di sisi lain, kubu Bolsonaro berupaya memanfaatkan isu biaya hidup dengan menjanjikan pendekatan keamanan yang keras, termasuk pembangunan penjara berkeamanan maksimum dan hukuman kebiri kimia bagi pelaku kejahatan seksual berat.

Jose Carlos Jarra, seorang pensiunan tenaga kesehatan berusia 61 tahun di Sao Paulo yang memilih Bolsonaro, menyatakan kebutuhan akan perubahan serta berharap senator tersebut dapat memperbaiki keamanan publik dan kesejahteraan para pensiunan, seraya menyebut upah minimum di Brasil sangat memprihatinkan. Sementara itu, Alba Marques, seorang pensiunan berusia 75 tahun di Rio de Janeiro, mengaku memberikan suara untuk Bolsonaro semata-mata sebagai bentuk penolakan terhadap Partai Pekerja pimpinan Lula karena janjinya yang tidak pernah berubah selama empat dekade.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *