Daftar Isi
Pertanyaan baru muncul terkait kembalinya Rusia ke kancah olahraga dunia setelah dokumen yang ditinjau Deutsche Welle: DW.com – Top Stories memperlihatkan hanya empat dari 16 atlet angkat besi Rusia yang berlaga di kejuaraan dunia tahun ini yang menjalani tes di luar kompetisi oleh International Testing Agency (ITA).
Minimnya Tes Doping Luar Kompetisi
Anastasiia Romanova, juara Eropa dua tahun yang pernah menjalani sanksi doping dua tahun, termasuk atlet yang tidak diuji oleh ITA selama sembilan bulan pertama 2026 berdasarkan laporan triwulanan anti-doping organisasi tersebut. Sebagai perbandingan, seluruh 13 anggota tim Korea Utara menjalani setidaknya satu kali tes ITA dalam periode yang sama, meski negara tersebut juga memiliki rekam jejak pelanggaran doping angkat besi.
Pihak ITA menyampaikan kepada Deutsche Welle: DW.com – Top Stories bahwa mereka menguji seluruh 16 atlet angkat besi Rusia menjelang keikutsertaan mereka dalam kejuaraan yang berlangsung di Ningbo, China. Dalam cabang olahraga tenaga seperti angkat besi, zat peningkat performa paling berguna saat latihan untuk membangun kekuatan dan massa otot berbulan-bulan sebelum kompetisi, sementara beberapa obat seperti steroid anabolik bisa lebih sulit dideteksi saat kejuaraan tiba.
Rob Koehler, pemimpin gerakan Global Athlete yang berbasis dari atlet, menilai ketiadaan tes di luar kompetisi sebagai tindakan yang tidak masuk akal. Tes luar kompetisi merupakan tulang punggung anti-doping karena semua orang mengetahui adanya pengujian saat kejuaraan berlangsung tetapi tidak mengetahui jadwal tes di luar hari pertandingan, sehingga ia menyayangkan ITA yang tidak melihat hal ini sebagai tanda bahaya.
Tanggapan ITA dan Pengawasan WADA
Marta Nawrocka selaku juru bicara ITA menyatakan bahwa atlet Rusia masuk dalam sepuluh besar kebangsaan yang paling banyak diuji dalam angkat besi tahun ini. Ia juga membela keputusan yang hanya menempatkan dua atlet angkat besi Rusia dalam kelompok pengujian prioritas tertinggi karena pencantuman tersebut didasarkan pada profil kinerja dan risiko.
Sejarah doping Rusia dalam angkat besi tetap menjadi faktor penting dalam penilaian risiko serta prioritas pengujian ITA, dan para atlet Rusia masih dikenai aktivitas pengujian yang substansial, menurut Nawrocka. Namun, Koehler tetap merasa tidak yakin dan berpendapat bahwa Rusia tidak bisa diperlakukan seperti negara lain serta membutuhkan pengawasan dan pengujian yang jauh lebih ketat demi menjaga kepercayaan atlet terhadap sistem.
Cabang angkat besi merupakan salah satu yang paling terlibat dalam skandal doping disponsori negara menyusul Olimpiade Musim Dingin Sochi 2014, dan menempati urutan kedua setelah atletik terkait jumlah kasus positif dalam laporan pengacara Kanada Richard McLaren pada 2016 yang ditugaskan oleh WADA. Akibat skandal tersebut, RUSADA tetap diskors hampir sepuluh tahun sehingga laboratorium Moskow tidak dapat menganalisis sampel urine dan darah, yang membuat sampel harus dikirim ke luar negeri di bawah rantai pengawasan ketat.
James Fitzgerald selaku juru bicara WADA menyatakan kepada Deutsche Welle: DW.com – Top Stories bahwa lembaganya terus memantau RUSADA tetapi belum dapat mengakses negara tersebut guna meninjau penangguhan akibat situasi geopolitik yang sedang berlangsung. WADA menambahkan bahwa RUSADA telah mengumpulkan ribuan sampel termasuk ratusan dari atlet angkat besi sepanjang tahun ini, sementara lembaga anti-doping Rusia tersebut tetap mempunyai wewenang menyelidiki dan menuntut kasus pelanggaran meskipun berstatus diskors.
Pertanyaan soal Kepemimpinan RUSADA
Para kritikus menilai masalah independensi dan kepemimpinan RUSADA belum banyak berubah dalam satu dekade terakhir sejak laporan McLaren terbit. Bahkan International Olympic Committee (IOC) yang mendukung kembalinya atlet Rusia telah mengakui adanya kurangnya keyakinan terhadap tata kelola RUSADA.
Nawrocka menyebutkan bahwa IOC belum lama ini mempercayakan peran yang diperluas kepada ITA di Rusia menjelang Olimpiade Los Angeles 2028, meski tidak merinci bentuk dan waktu dimulainya peran tersebut. Pada April lalu, media investigasi The Insider melaporkan bahwa Veronika Loginova selaku kepala lembaga tersebut menjalin hubungan jangka panjang dengan seorang yang diduga perwira FSB, badan keamanan domestik Rusia yang berperan dalam menutup-nutupi tes narkoba positif di Olimpiade Sochi.
Veronika Loginova tidak memberikan tanggapan atas pertanyaan terkait pemberitaan tersebut, namun sempat menepis tudingan itu sebagai omong kosong dan meyakini bahwa olahraga terpisah dari politik. Pihak WADA mengonfirmasi kepada Deutsche Welle: DW.com – Top Stories bahwa unit investigasi mereka sedang memeriksa dugaan terhadap Loginova dan penyelidikan tersebut masih berlangsung.







