Lifestyle

Mengapa Manusia Begitu Menyukai Rasa Takut?

Mengapa Manusia Begitu Menyukai Rasa Takut?
Daftar Isi
  1. Daya Tarik Fiksi Menakutkan
  2. Ruang Simulasi untuk Situasi Berbahaya
  3. Kecemasan Era Modern

Di tengah masa-masa yang diwarnai oleh kecemasan ekonomi, kekhawatiran terhadap kecerdasan buatan, dan ketidakstabilan geopolitik, fiksi yang menakutkan justru berkembang pesat. Dari dunia literatur hingga layar lebar, genre horor mengalami tahun yang luar biasa.

Daya Tarik Fiksi Menakutkan

Dalam dunia penerbitan, sub-genre horor bersiap memecahkan rekor penjualan baru. Pembaca bukanlah satu-satunya pihak yang mencari sensasi ketakutan, karena film-film horor juga mendominasi bioskop, dengan judul-judul seperti Backrooms dan Obsession meraup lebih dari 460 juta dolar AS di dalam negeri dan sekitar 900 juta dolar AS secara global. Kedua film tersebut berasal dari sutradara muda yang mengawali karier di YouTube, dengan pemahaman mendalam tentang kecemasan dan ketakutan generasi saat ini.

Pandangan umum selama ini meyakini bahwa keinginan kita akan sensasi takut berasal dari lonjakan adrenalin saat menonton film horor. Meskipun hal tersebut menjelaskan sebagian daya tariknya, terutama di kalangan konsumen muda, penelitian menunjukkan bahwa banyak penikmat film horor tidak semata-mata mencari sensasi tersebut. Rasa ingin tahu, khususnya terhadap situasi yang dapat menyebabkan cedera atau kematian, merupakan hal yang normal dan lumrah pada manusia.

Rasa ingin tahu yang bersifat morbid ini memotivasi kita untuk mempelajari berbagai bahaya, sesuatu yang juga memberikan manfaat bagi hewan. Selain itu, horor menghadirkan wadah untuk pembelajaran mandiri. Sebagian besar penggemar horor adalah orang-orang yang tidak selalu menikmati rasa takut, melainkan menyukai kesempatan untuk berlatih mengatasi rasa takut tersebut.

Ruang Simulasi untuk Situasi Berbahaya

Banyak hewan menunjukkan ketertarikan pada hal-hal yang berpotensi membahayakan. Namun, manusia adalah makhluk yang paling memiliki rasa ingin tahu yang besar karena kemampuan kita untuk bertanya “Bagaimana jika?”. Dalam genre horor, kapasitas manusia untuk berimajinasi benar-benar terlihat jelas saat kita merinci cerita tentang pertemuan dengan berbagai makhluk.

Dalam kehidupan nyata, menghadapi bahaya secara langsung adalah cara yang mahal untuk belajar, sehingga pikiran kita merindukan cara yang aman untuk mempelajari situasi berbahaya. Berkat posisi horor sebagai sarana uji coba kemalangan, konsumen cenderung mengapresiasi film horor yang mencerminkan kecemasan generasi mereka. Misalnya, daya rusak bom atom memicu kemunculan monster akibat radiasi seperti film Godzilla pada tahun 1954, sementara paranoia era Perang Dingin melahirkan Invasion of the Body Snatchers pada tahun 1956.

Pada abad ke-21, horor yang lebih berkelas mendominasi dengan film-film yang menggambarkan kecemasan tentang trauma dan kesehatan mental, serta isu sosial mengenai ras dan kelas. Film-film horor rilisan tahun 2026 seperti Backrooms dan Obsession juga berakar kuat di benak konsumen modern.

Kecemasan Era Modern

Peningkatan minat pada genre horor dapat dikaitkan dengan meningkatnya kecemasan sosial. Backrooms menggambarkan betapa menakutkannya ketidakbermaknaan melalui lorong-lorong tanpa ujung yang mengingatkan pada media sosial. Makna hidup yang hampa juga menghantui generasi saat ini, di mana sebuah jajak pendapat Gallup tahun 2025 mencatat bahwa 39 persen orang dewasa dari Generasi Z merasa hidup mereka sebagian besar tidak memiliki arti.

Sementara itu, Obsession mengeksplorasi isu kesehatan sosial yang buruk melalui kisah klasik tentang barang ajaib dengan konsekuensi yang tidak diinginkan, dikemas dengan kecemasan kencan modern. Karakter utamanya yang canggung secara sosial mencerminkan kondisi sebagian pemuda saat ini yang mengalami penurunan rasa percaya diri untuk mendekati calon pasangan romantis.

Resonansi inilah yang membuat genre horor tumbuh lebih cepat dibandingkan genre lainnya dalam beberapa dekade terakhir. Industri film kini menghasilkan ribuan film horor setiap tahunnya, dan institusi budaya mulai memberikan pengakuan kritis terhadap film-film bertema gelap dari berbagai festival film.

Dunia selalu dipenuhi dengan hal-hal yang menakutkan, dan salah satu cara kita mengatasi ketakutan tersebut adalah dengan mensimulasikan berbagai skenario dari tempat duduk yang aman. Manusia belajar dengan baik dari kesalahan orang lain, dan cerita horor menawarkan alat yang kuat untuk mengolah kekhawatiran sosial. Saat dunia teknologi memasuki era baru kecerdasan buatan, kita akan membuka berbagai potensi bahaya baru, dan film-film horor akan terus hadir untuk membantu kita memproses kekhawatiran tersebut.

Sumber: TIME

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *