Dunia

Mahasiswi Afghanistan Hadapi Risiko Kehilangan Kampus Online

Mahasiswi Afghanistan Hadapi Risiko Kehilangan Kampus Online
Daftar Isi
  1. Pendidikan Rahasia di Tengah Tekanan Taliban
  2. Sejarah Pendirian dan Alasan Pencabutan Dana
  3. Masa Depan yang Suram bagi Mahasiswi

Perempuan muda di Afghanistan menghadapi ancaman kehilangan salah satu jalur terakhir mereka untuk mengenyam pendidikan tinggi setelah Amerika Serikat memutuskan menghentikan pendanaan bagi American University of Afghanistan (AUAF). Keputusan ini membuat masa depan ribuan mahasiswi yang belajar secara sembunyi-sembunyi di bawah aturan ketat Taliban menjadi tidak pasti.

Pendidikan Rahasia di Tengah Tekanan Taliban

Mahasiswi berusia pertengahan dua puluhan berinisial Laila, yang mengambil jurusan ilmu politik dan studi internasional, menceritakan kepada Deutsche Welle: DW.com bahwa ia terbangun di tengah malam dan melihat surel mengenai penghentian dana tersebut. Sejak Taliban melarang perempuan menempuh pendidikan dan kembali berkuasa pada Agustus 2021, Laila terpaksa mengulang pendidikannya dari awal melalui beasiswa di AUAF setelah kampusnya sebelumnya ditutup.

Laila mengikuti perkuliahan jarak jauh secara diam-diam dari rumahnya, bersama rekan-rekan sekelas yang menggunakan nama samaran dan mematikan kamera demi keamanan. Situasi keamanan di Afghanistan membuat Laila selalu diliputi kecemasan bahwa otoritas Taliban akan memeriksa ponselnya atau menggeledah kediamannya dan menemukan jejak aktivitas akademisnya.

Sejarah Pendirian dan Alasan Pencabutan Dana

American University of Afghanistan didirikan pada 2006 dan diresmikan oleh mantan ibu negara AS Laura Bush, dengan tujuan utama mendidik para calon pemimpin khususnya perempuan. Patrick Fine, mantan direktur misi USAID di Afghanistan, menyatakan kepada Deutsche Welle: DW.com bahwa institusi tersebut tetap merupakan investasi yang berharga karena menjadi salah satu dari sedikit organisasi yang masih menjangkau perempuan Afghanistan.

Kendati demikian, Washington memutuskan mencabut dukungan finansial karena riwayat masalah akuntabilitas keuangan. Kantor Pers Departemen Luar Negeri AS menyampaikan kepada Deutsche Welle: DW.com lewat surel bahwa keputusan tersebut diambil mengingat kurangnya pertanggungjawaban dana pembayar pajak AS dalam sejarah universitas itu. John Sopko, mantan inspektur federal AS yang sempat memimpin investigasi keuangan institusi tersebut, mengaku terkejut bahwa pendanaan itu masih berjalan selama ini.

Masa Depan yang Suram bagi Mahasiswi

Meskipun pihak Departemen Luar Negeri AS menyatakan bahwa universitas tersebut masih bebas mencari pendanaan lain, tidak adanya hibah senilai USD 25 juta membuat kelangsungan operasional lembaga pendidikan itu berada di ujung tanduk. Tanpa kepastian dana, sekitar seribu mahasiswa yang tiga pertiganya adalah perempuan terancam kehilangan kesempatan lulus.

Laila mengungkapkan bahwa dirinya telah kehilangan motivasi dan harapan akibat kabar penghentian dana tersebut, serta menghabiskan hari-hari di kamarnya dengan tirai tertutup. Rencana masa depannya untuk segera lulus, membangun karier, dan melanjutkan studi magister di luar negeri kini harus tertunda tanpa batas waktu yang jelas.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *