Daftar Isi
Ukraina sangat membutuhkan layanan internet satelit baru setelah penurunan kecepatan layanan Starlink secara tiba-tiba mempengaruhi kemampuan pertahanan Kyiv terhadap serangan Rusia. Kondisi ini menyoroti kerentanan Ukraina sekaligus meningkatkan urgensi bagi Eropa untuk segera memiliki jaringan satelit militer sendiri.
Dominasi Starlink dan Risiko Ketergantungan
Jaringan Starlink dan layanan militernya, Starshield, yang keduanya dimiliki oleh perusahaan SpaceX milik Elon Musk, telah mendominasi pasar satelit global selama bertahun-tahun. Ukraina mengandalkan Starlink untuk komunikasi di medan perang dan Starshield untuk keperluan militer seperti peperangan drone yang memerlukan konektivitas cepat secara langsung.
Menurut Vincent Tourret, seorang peneliti di French Institute of International Relations, peperangan drone tidak dapat dijalankan tanpa koneksi internet kecepatan tinggi semacam itu. Penurunan kecepatan yang terjadi baru-baru ini menunjukkan risiko besar dari ketergantungan pada penyedia asal Amerika Serikat di tengah memburuknya hubungan antara Kyiv dan Washington.
Kari Bingen, direktur Aerospace Security Project di Center for Strategic and International Studies (CSIS), menjelaskan bahwa kemampuan militer kritis tersebut diandalkan oleh Ukraina tetapi tidak berada di bawah kendali mereka. Pertanyaan mengenai siapa yang memberi otorisasi pembatasan Starlink masih belum jelas di tengah silang pendapat antara Pentagon, Donald Trump, dan Elon Musk.
Elon Musk sendiri sempat menyatakan melalui platform X bahwa penggunaan Starlink untuk serangan drone melanggar ketentuan layanan, dan memperingatkan bahwa pemadaman layanan dapat menyebabkan garis depan Ukraina runtuh seketika.
Langkah Uni Eropa dan Jangka Pendek Govsatcom
Eropa menghadapi tekanan besar untuk memperkuat kapasitas satelit setelah pernyataan dari Gedung Putih dan komentar dari Elon Musk. Juru bicara Komisi Eropa menyatakan bahwa keamanan Eropa bergantung pada ruang angkasa dan kapasitas satelit harus diperkuat dengan segera.
Saat ini, opsi terbaik bagi Ukraina adalah bergabung dengan Govsatcom, jaringan berbagi satelit Uni Eropa yang dibentuk pada Januari lalu. Meskipun belum menjadi anggota penuh, Komisi Eropa sedang melakukan pembicaraan dengan Kyiv agar dapat bergabung dengan jaringan tersebut.
Namun, menurut Eva Berneke, mantan CEO perusahaan satelit Prancis Eutelsat, jaringan Govsatcom saat ini belum dapat digunakan untuk operasi peperangan seperti mempiloti drone. Komisi Eropa berharap perusahaan komersial seperti OneWeb milik Eutelsat dapat bergabung dengan program tersebut pada awal tahun depan untuk membantu memenuhi kebutuhan militer utama Ukraina.
Alternatif utama saat ini adalah Eutelsat dengan layanan OneWeb yang memiliki sekitar 600 satelit aktif, jauh tertinggal dibanding Starlink yang memiliki lebih dari 10.000 satelit. Terminal yang digunakan Eutelsat juga berukuran lebih besar dan sekitar lima kali lebih mahal dibandingkan perangkat Starlink.
Proyek Jangka Panjang Iris² dan Alternatif Lain
Govsatcom dipandang sebagai jaring pengaman jangka pendek hingga jaringan Iris² siap beroperasi pada 2029. Proyek ambisius ini dirancang khusus untuk pertahanan dengan fokus pada pemerintah, militer, dan layanan darurat, serta telah dijamin aksesnya bagi Ukraina sejak hari pertama.
Konsorsium SpaceRISE yang dipimpin oleh perusahaan satelit Eropa Eutelsat, SES, dan Hispasat memimpin proyek tersebut. Meskipun jumlah satelitnya lebih sedikit yakni 348 satelit, Kari Bingen menilai satelit tersebut mampu mencakup area bumi yang lebih luas karena posisinya.
Selain Iris², perusahaan Finlandia Nokia dan ICEYE berencana mengembangkan komunikasi satelit untuk pertahanan militer Ukraina. Proyek patungan antara pembuat satelit Eropa Airbus, Leonardo, dan Thales yang dinamai Project Bromo juga disiapkan sebagai pesaing SpaceX, meski masih berada di tahap awal.
Eva Berneke menuturkan bahwa proyek luar angkasa membutuhkan waktu lama dan biaya besar untuk desain, pembuatan, hingga peluncuran satelit agar mencapai cakupan penuh. Di sisi lain, konflik di Ukraina telah membuktikan bahwa komunikasi luar angkasa sangat penting karena infrastruktur terestrial seperti 5G atau serat optik di darat lebih mudah diserang.
Sumber: BBC News







