Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim bahwa negaranya berpeluang menjadi penguasa di Iran lantaran berhasil mengendalikan Selat Hormuz. Jalur pelayaran strategis tersebut disebutnya kini dimanfaatkan untuk menguras pasokan minyak dalam jumlah rekor sepanjang sejarah.
Operasi Militer dan Klaim Kontrol Jalur Laut
Pernyataan tersebut disampaikan Trump kepada wartawan usai menyampaikan pidato di fasilitas NASA, Florida, pada Jumat (6/11). Dalam kesempatan itu, ia membandingkan perseteruan dengan Iran yang telah memasuki bulan kesembilan dengan perang Rusia-Ukraina, yang diklaimnya menewaskan 25 ribu jiwa sepanjang Oktober 2026. Menurut Trump, ketegangan dengan Iran belum tergolong perang terbuka berskala penuh karena tidak ada prajurit Amerika Serikat yang mengalami luka-luka dalam beberapa bulan terakhir.
Ia menegaskan bahwa Amerika Serikat memegang kendali penuh atas rute vital pasokan energi dunia tersebut. “Kita ini mungkin hanya menjadi penguasa. (Kita) bisa saja menjadi penguasa di sana,” ujar Trump. Ia juga menambahkan, “Kami menguasai Selat Hormuz. Kami mengambil lebih banyak minyak sekarang daripada waktu mana pun dalam sejarah Selat Hormuz.”
Menanggapi kabar mengenai pertempuran di sekitar Pulau Qeshm milik Iran pada Jumat, Trump mengonfirmasi bahwa pasukannya melancarkan tindakan militer terbatas. Ia menyebutkan hanya melakukan serangan-serangan kecil dan enggan menjelaskan detail operasi tersebut. Trump mengutarakan bahwa instalasi pertahanan anti-pesawat udara yang dibangun pasukan Iran di area tersebut berhasil dihancurkan militer Amerika Serikat hanya dalam hitungan menit.
Penolakan Teheran dan Perkembangan Konflik
Pemerintah Iran membantah keras klaim Amerika Serikat terkait penguasaan Selat Hormuz. Pihak Teheran menegaskan masih memegang kendali strategis atas perairan tersebut dan menolak untuk membukanya kembali sampai seluruh persyaratan mereka dipenuhi.
Konflik militer yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel melawan Iran ini pertama kali pecah pada 28 Februari lalu. Walaupun kesepakatan gencatan senjata sempat tercapai pada April 2026 yang diikuti nota kesepahaman pada Juni lalu untuk mengupayakan perdamaian, proses negosiasi hingga kini belum menghasilkan kesepakatan final.








