Dunia

Hasil Pemilu AS Bawa Harapan Baru bagi Tarif Perdagangan Kanada

Hasil Pemilu AS Bawa Harapan Baru bagi Tarif Perdagangan Kanada
Daftar Isi
  1. Reaksi Pejabat dan Isu Tarif
  2. Dinamika Kongres dan Kebijakan Perdagangan
  3. Langkah Strategis Kanada

Hasil pemilu sela Amerika Serikat yang ditandai kemenangan kubu Demokrat disambut gembira oleh banyak pihak di Kanada. Perubahan politik ini dinilai sebagai bentuk penolakan pemilih Amerika terhadap kebijakan tarif yang diterapkan Presiden Donald Trump terhadap negara sekutu dagang dekat.

Reaksi Pejabat dan Isu Tarif

Premier Ontario, Doug Ford, menyatakan kegembiraannya pada Rabu pagi dan menyebut hasil tersebut sebagai sebuah kemenangan bagi Kanada. Meskipun hasil pemilu malam sebelumnya tidak serta-merta memberikan keringanan tarif dalam waktu dekat, ada antisipasi bahwa pergeseran politik tersebut dapat menciptakan lingkungan yang lebih baik bagi Ottawa untuk mencapai kesepakatan dagang.

Isu keterjangkauan harga menjadi perhatian utama pemilih dalam pemilu sela. Sebuah survei dari Cato Institute pada bulan September menunjukkan bahwa sekitar 75 persen responden meyakini kebijakan tarif telah menaikkan harga barang. Di negara bagian seperti Maine dan Michigan, isu tarif memegang peran penting dalam persaingan ketat.

Senator Republik Susan Collins di Maine sempat melobi agar sejumlah bea masuk yang berdampak langsung pada garam jalanan, peralatan pendingin, dan rumput laut dicabut, meski akhirnya kalah dari kandidat Demokrat Troy Jackson. Cerita serupa terjadi di Michigan ketika industri otomotif sangat terikat dengan Kanada, dimenangkan oleh kandidat Demokrat Abdul El-Sayed atas lawannya dari Republik, Mike Rogers.

Sementara itu, Senator terpilih Sherrod Brown di Ohio menyebut pungutan tersebut sebagai sebuah bencana dan bertekad menurunkan biaya bagi para pemilih dengan menghapusnya. Para pemimpin Demokrat seperti Hakeem Jeffries dan Chuck Schumer dalam beberapa bulan terakhir juga telah mendorong pembatasan tarif terhadap Kanada.

Dinamika Kongres dan Kebijakan Perdagangan

Kendali Demokrat atas Kongres diprediksi belum tentu mengubah kebijakan tarif secara signifikan karena sebagian besar pungutan Trump diberlakukan melalui perintah eksekutif tanpa persetujuan Kongres. Dalam wawancara dengan Fox News pada Selasa malam, Trump kembali menegaskan kekuasaan penuh hak veto untuk menolak RUU dari Kongres yang tidak disukainya.

Sejumlah undang-undang dari Partai Demokrat di masa lalu juga pernah mendukung tarif tertentu guna melindungi lapangan kerja manufaktur Amerika, sehingga berpotensi mempertahankan beberapa kebijakan tersebut. Saat ini, terdapat berbagai lapisan tarif yang diberlakukan terhadap Kanada, terutama pada sektor otomotif, baja, aluminium, dan kehutanan.

Runtuhnya perundingan dagang antara Ottawa dan Washington pada bulan Agustus memicu pemerintahan Trump mengenakan tarif tambahan sebesar 50 persen pada berbagai barang Kanada senilai 20 miliar dolar atau sekitar Rp377 triliun, mulai dari produk susu hingga kosmetik dan furnitur. Amerika Serikat juga memberlakukan larangan impor total terhadap sepeda motor, protein whey, dan alkohol. Sebagai balasan, Kanada mengenakan tarif balasan sebesar 50 persen dengan sebagian besar provinsi turut melarang penjualan produk alkohol asal Amerika Serikat.

Menjelang pemilu, terdapat indikasi bahwa pemerintahan Trump mulai sensitif terhadap citra kebijakan tarif mereka. Beberapa hari sebelum pemungutan suara, Trump menyampaikan kepada para wartawan bahwa kesepakatan dagang sudah sangat dekat usai berbicara dengan Perdana Menteri Mark Carney. Carney juga menyebutkan bahwa para perunding Amerika bersikap lebih melunak dalam diskusi terakhir.

Langkah Strategis Kanada

Menteri Perdagangan AS-Kanada, Dominic LeBlanc, menyatakan pada hari Rabu bahwa hasil pemilu sela tidak akan mengubah situasi dalam jangka pendek dan menolak berspekulasi mengenai tindakan Kongres baru yang akan dilantik tahun depan. Pemimpin Konservatif Kanada, Pierre Poilievre, menyatakan bahwa tidak ada pihak yang dapat mengendalikan Donald Trump, namun hasil pemilu memperlihatkan Kanada memiliki daya tawar besar karena ketidakpopuleran tarif tersebut.

Mantan diplomat Kanada yang juga peneliti di Canadian Global Affairs Institute, Colin Robertson, berpendapat bahwa Trump mungkin merasakan tekanan yang lebih besar untuk menyetujui kesepakatan dengan Kanada setelah para pemilih Amerika menunjukkan frustrasi mereka. Menurut Robertson, Kanada memiliki peluang ideal antara saat ini hingga Januari ketika anggota parlemen Demokrat dilantik untuk merampungkan kesepakatan, sebelum Trump nantinya disibukkan oleh berbagai investigasi dari pihak Demokrat.

Perwakilan Dagang Amerika Serikat, Jamieson Greer, sebelumnya juga menyampaikan ambisi untuk mencapai kesepakatan sementara dengan Kanada dan Meksiko terkait perjanjian perdagangan USMCA sebelum akhir tahun. Perdana Menteri Mark Carney, di sisi lain, menyatakan kesiapan untuk menunggu presiden Amerika yang baru apabila diperlukan guna mencapai kesepakatan yang menguntungkan.

Sumber: BBC News

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *