Daftar Isi
Mengadopsi kucing berarti mengambil tanggung jawab penuh atas kesehatan dan kesejahteraan hewan peliharaan tersebut. Kesadaran ini mengemuka setelah seekor kucing bernama Parhan yang sebelumnya tinggal di kawasan Senayan City diketahui positif terinfeksi Feline Immunodeficiency Virus (FIV) usai diadopsi, seperti dilansir CNN Indonesia.
Mengenal FIV dan Karakteristiknya
Feline Immunodeficiency Virus (FIV) adalah virus yang berasal dari kelompok retrovirus dan menyerang sistem kekebalan tubuh kucing. Virus ini mengincar sel-sel pertahanan tubuh, khususnya limfosit T, yang berfungsi melindungi tubuh dari berbagai serangan penyakit. Ketika sistem imun melemah, kucing menjadi sangat rentan terhadap infeksi bakteri, virus, jamur, dan parasit, sehingga penyakit ringan pun bisa berkembang menjadi serius.
FIV sering kali dijuluki sebagai feline AIDS karena memiliki kemiripan cara kerja dengan HIV pada manusia. Meski demikian, virus ini berbeda dan tidak dapat menular kepada manusia, anjing, maupun hewan selain kucing. Infeksi FIV bersifat seumur hidup dan belum ada pengobatan yang mampu menghilangkan virus tersebut sepenuhnya. Walau demikian, kucing yang terinfeksi positif FIV tidak otomatis akan sakit berat atau berumur pendek karena banyak dari mereka tetap bisa hidup bertahun-tahun dengan kualitas hidup yang baik jika mendapat perawatan tepat.
Cara Penularan FIV pada Kucing
Penularan FIV paling sering terjadi melalui gigitan kucing yang sudah terinfeksi, di mana air liur yang mengandung virus masuk ke tubuh kucing lain lewat luka gigitan. Oleh sebab itu, kucing yang sering berkeliaran di luar rumah dan berkelahi memiliki tingkat risiko infeksi yang jauh lebih tinggi.
Beberapa jalur penularan FIV meliputi:
- Gigitan saat berkelahi: Menjadi jalur utama penularan ketika kucing saling melukai lewat gigitan.
- Penularan dari induk ke anak: Induk terinfeksi bisa menularkan kepada anaknya saat kehamilan, proses kelahiran, atau menyusui, meski jarang terjadi secara alami.
- Transfusi darah: Penularan terjadi apabila kucing menerima donor darah yang tercemar virus FIV.
- Peralatan medis tidak steril: Pemakaian alat medis yang terkontaminasi darah kucing terinfeksi berpotensi menularkan virus.
Sementara itu, penularan lewat kontak sosial harian seperti tidur bersama, saling menjilat, memakai wadah makan dan minum yang sama, bukan jalur utama penularan dan risikonya tergolong rendah asalkan tidak terjadi perkelahian. Kontak seksual juga bukan merupakan jalur penularan yang signifikan.
Gejala dan Cara Deteksi Infeksi FIV
FIV sulit dikenali secara fisik karena kucing terinfeksi bisa tampak sehat tanpa gejala selama berbulan-bulan hingga bertahun-tahun. Saat gejala mulai timbul, kondisi tersebut umumnya berkaitan dengan melemahnya sistem imun dan timbulnya infeksi sekunder seperti penurunan berat badan, nafsu makan berkurang, peradangan gusi dan mulut, serta infeksi saluran pernapasan berulang.
Gejala lainnya mencakup diare berkepanjangan, bulu kusam, demam, pembengkakan kelenjar getah bening, lesu, anemia, serta infeksi berulang pada kulit, mata, dan saluran kemih. Diagnosis tidak bisa ditegakkan hanya lewat penampakan fisik, melainkan memerlukan pemeriksaan darah seperti tes antibodi FIV atau rapid test oleh dokter hewan. Tes ini sangat dianjurkan saat seseorang baru mengadopsi kucing dengan riwayat yang tidak diketahui atau sebelum memperkenalkannya dengan kucing lain di rumah.
Perawatan Kucing dengan FIV
Meskipun belum ada obat untuk menyembuhkan infeksi FIV secara tuntas, penanganan yang tepat dapat membuat kucing tetap hidup dengan nyaman. Fokus utama perawatan adalah menjaga kondisi tubuh, mencegah infeksi sekunder, serta mengobati penyakit yang timbul.
Langkah perawatan yang dapat diterapkan meliputi pemeriksaan kesehatan rutin ke dokter hewan, pemberian makanan bergizi seimbang, pengobatan infeksi sekunder, menjaga kebersihan lingkungan dan kotak pasir, mengurangi stres di lingkungan sekitar, serta memberikan obat atau suplemen sesuai anjuran dokter hewan.







