Dunia

Anggota Parlemen Iran Desak Keluar dari Traktat NPT

Anggota Parlemen Iran Desak Keluar dari Traktat NPT
Daftar Isi
  1. Desakan Keluar dari Traktat NPT
  2. Respons Kepemimpinan Iran dan Posisi AS
  3. Upaya Diplomasi dan Prospek Perdamaian

Sejumlah anggota parlemen Iran menyerukan agar negara tersebut menarik diri dari Traktat Non-Proliferasi Nuklir (NPT). Desakan ini muncul di tengah kunjungan mediator Qatar ke Teheran untuk mengupayakan pembicaraan damai dengan Amerika Serikat dan pernyataan Presiden AS Donald Trump bahwa perang akan segera berakhir.

Desakan Keluar dari Traktat NPT

Legislator Iran Mahmoud Nabavian meminta negaranya untuk keluar dari NPT serta mengubah doktrin nuklir. Menurut laporan kantor berita Fars yang dikutip dari Al Jazeera, Ebrahim Rezaei selaku anggota Komisi Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri menyatakan bahwa 10 proposal penarikan diri dari traktat tersebut telah didaftarkan di parlemen.

Politikus sekaligus cendekiawan Iran Mohammad Javad Haj Ali Akbari turut mendesak peninjauan kembali doktrin nuklir dalam khotbah Jumat, seperti disiarkan oleh stasiun televisi pemerintah IRIB. Di sisi lain, laporan kantor berita Tasnim menuduh Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) telah berpihak secara politik kepada AS dan Israel, menyusul resolusi IAEA bulan lalu yang menyatakan keprihatinan atas ketidakpatuhan Iran terhadap NPT.

Respons Kepemimpinan Iran dan Posisi AS

Para pemimpin Iran belum memberikan tanggapan resmi terkait seruan parlemen untuk keluar dari NPT. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Esmaeil Baghaei menyatakan dalam konferensi pers pada bulan Juni bahwa pemerintah harus menegakkan undang-undang parlemen, namun rancangan undang-undang tersebut masih dalam tahap persiapan dan koordinasi lebih lanjut.

Sementara itu, Presiden AS Donald Trump menegaskan dalam pidatonya di Florida bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir, yang menjadi syarat mutlak untuk mengakhiri konflik. Dalam wawancara dengan stasiun radio KCMO, Trump menyatakan bahwa perang tersebut akan segera berakhir, kendati Washington memerlukan jaminan keamanan terkait senjata nuklir.

Analis berbasis di Washington, Mohamed Elmenshawy, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa Trump ingin mengakhiri kebuntuan dengan cepat melalui jalur damai atau perang. Di sisi lain, juru bicara Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Mohammad Akraminia memperingatkan bahwa angkatan bersenjata mereka memantau ketat pergerakan AS dan siap memberikan balasan telak jika terjadi petualangan militer baru.

Upaya Diplomasi dan Prospek Perdamaian

Mediator Qatar telah kembali ke Teheran untuk menghidupkan kembali perundingan damai dan membahas proposal baru dari Washington. Sumber-sumber Iran mengonfirmasi kepada Al Jazeera bahwa Teheran telah menerima surat dari AS mengenai penghentian perang dan sedang mempertimbangkan tanggapannya dengan hati-hati.

Militer Pakistan melalui juru bicaranya, Letnan Jenderal Ahmed Sharif Chaudhry, menyampaikan kepada kantor berita Reuters bahwa negaranya merasa optimis secara berhati-hati terhadap upaya mediasi tersebut. Namun, peneliti Abas Aslani menyebutkan kepada Al Jazeera bahwa kurangnya rasa saling percaya menjadi hambatan utama, di mana Iran menuntut sejumlah syarat seperti pencabutan blokade laut dan sanksi sebelum menyetujui kesepakatan nuklir baru.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *