Daftar Isi
Peretasan pada bursa kripto kembali terjadi setelah Binance mengalami pencurian aset digital senilai 6,3 miliar dolar AS. Meski demikian, peretasan tidak selalu berarti nasabah akan kehilangan uang mereka secara permanen karena sebagian aset yang dicuri kerap dapat dibekukan atau dipulihkan kembali.
Upaya Pemulihan dan Risiko Likuidasi
Seperti dilaporkan CNBC, kasus pencurian dana di platform kripto bukan hal baru. Sebelum kasus Binance, bursa Bybit yang berbasis di Dubai kehilangan sekitar 1,5 miliar dolar AS pada 2025, sementara Bitget yang terdaftar di Seychelles mengalami kerugian lebih dari 387 juta dolar AS akibat peretasan pada September 2026.
Dalam kasus Binance, sekitar separuh dari aset yang terdampak berhasil dibekukan sehingga mencegah peretas memindahkan atau mencairkannya. Selain itu, Binance memiliki dana darurat Secure Asset Fund for Users (SAFU) senilai 1 miliar dolar AS untuk menutupi kerugian jika diperlukan.
Namun, proses pengembalian aset digital yang dicuri tidak selalu berlangsung cepat. Bursa Cryptopia asal Selandia Baru terpaksa masuk ke tahap likuidasi beberapa bulan setelah diretas pada 2019 dengan kerugian sekitar 30 juta dolar Selandia Baru. Pembagian dana kembali kepada nasabah Cryptopia baru dimulai pada 2024 setelah proses likuidasi berjalan selama bertahun-tahun.
Profesor Akuntansi di Shenandoah University, Martin Mulyadi, menjelaskan bahwa menyimpan kripto di bursa berarti bergantung pada sistem kendali dan neraca keuangan perusahaan tersebut. Ia menegaskan bahwa komitmen bursa untuk mengganti kerugian nasabah sangat bergantung pada ketersediaan sumber daya yang dimiliki perusahaan.
Hal yang Perlu Diperhatikan Saat Memilih Bursa Kripto
Untuk menekan risiko, calon investor disarankan meneliti rekam jejak platform sebelum bertransaksi. Badan Pengawas Pasar Modal Amerika Serikat (SEC) merekomendasikan publik untuk memeriksa keluhan pelanggan serta status perizinan bursa tersebut.
Investor di Amerika Serikat juga dapat mengecek pendaftaran bursa di basis data daring jaringan penegakan hukum kejahatan keuangan Departemen Keuangan AS (FinCEN). Pendaftaran ini membantu memastikan perusahaan beroperasi di dalam sistem regulasi, meski FinCEN menegaskan bahwa status terdaftar bukan bentuk rekomendasi resmi.
Mulyadi menyarankan investor untuk membaca perjanjian pengguna, ketentuan layanan, serta dokumen pengungkapan risiko. Investor perlu memastikan adanya klausul yang menegaskan bahwa hak milik aset tetap berada di tangan nasabah dan disimpan secara terpisah dari aset operasional bursa.
Selain itu, investor harus memeriksa batasan tanggung jawab perusahaan dan cakupan asuransi yang ditawarkan. Pengembalian dana pascaperetasan yang bersifat diskresioner merupakan bentuk iktikad baik, bukan janji yang mengikat secara hukum. Keberadaan aturan tertulis pun tidak menjamin keamanan mutlak, seperti pada kasus kebangkrutan bursa FTX pada 2022 yang menyalahgunakan miliaran dolar AS dana nasabah.
Penyimpanan Mandiri sebagai Alternatif
Selain menyimpan aset di bursa, investor memiliki pilihan penyimpanan mandiri atau self-custody menggunakan dompet kripto pribadi. Metode ini memberikan kendali penuh atas kunci privat (private key) dan frasa pemulihan (recovery phrase), namun seluruh tanggung jawab keamanan berada di tangan pemilik aset.
Mulyadi mengingatkan bahwa penyimpanan mandiri tidak menyediakan layanan bantuan pelanggan jika pengguna kehilangan frasa pemulihannya. Sebagai jalan tengah, ia menyarankan investor untuk hanya menyimpan aset yang aktif diperdagangkan di bursa, sedangkan aset jangka panjang disimpan secara mandiri selama paham cara menyimpan dan memulihkannya dengan aman.
“Coins on an exchange are a promise from a company; coins in your own wallet are a responsibility you can’t hand off,” kata Mulyadi kepada CNBC.
Sumber: US Top News and Analysis








