Teknologi

SpaceX Mulai Tinggalkan NASA, Tantangan Baru Bagi AS

SpaceX Mulai Tinggalkan NASA, Tantangan Baru Bagi AS

Selama hampir seperempat abad, Elon Musk bersama mitra utamanya di SpaceX, Gwynne Shotwell, memandang pemerintah Amerika Serikat sebagai sumber kekayaan utama untuk membangun bisnis mereka. Berbagai rintangan mulai dari birokrasi, regulator, hingga perusahaan dirgantara mapan seperti Boeing dan Lockheed Martin berhasil mereka lewati untuk mengamankan kontrak dari NASA dan militer Amerika Serikat.

Perubahan Dinamika Hubungan

Seiring berjalannya waktu, posisi tawar SpaceX mengalami pergeseran yang signifikan dari sekadar pihak yang membutuhkan pelanggan menjadi kontraktor yang sangat dibutuhkan oleh negara. Perubahan ini membuat SpaceX kini tampak semakin tidak tertarik mengejar berbagai kontrak dari pemerintah AS di luar layanan data khusus, seperti komunikasi militer Starshield.

Lori Garver, mantan Wakil Administrator NASA pada masa pemerintahan Presiden Barack Obama yang turut berjasa memperluas penggunaan kontrak komersial dengan perusahaan seperti SpaceX, mengaku kesulitan membayangkan masa depan tersebut. “I guess I am still in denial that there is a divorce pending,” ujar Garver, seraya menambahkan bahwa dirinya belum bisa membayangkan masa depan di mana SpaceX berhenti menerbangkan wahana Dragon dan Falcon.

Tanda-Tanda Perpisahan

Meskipun demikian, berbagai indikasi menunjukkan adanya perpisahan yang setidaknya bersifat sebagian antara perusahaan milik Musk tersebut dengan badan antariksa nasional AS. Berdasarkan laporan Ars Technica, SpaceX telah menyampaikan kepada NASA bahwa mereka akan menghentikan penerbangan Crew Dragon—satu-satunya sarana transportasi astronot yang andal menuju Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS)—pada atau sebelum tahun 2030.

Gwynne Shotwell pada bulan September lalu menyatakan bahwa NASA seharusnya beralih dan mengandalkan Boeing untuk transportasi astronot masa depan. “We’re just gonna let them have some business,” ucap Shotwell terkait Boeing, dengan menambahkan bahwa pemerintah telah menggelontorkan dana besar untuk program tersebut sehingga Boeing harus menerbangkan kapsul buatan mereka sendiri. Langkah ini membuat NASA kini harus memberikan investasi lebih besar kepada Boeing.

Selain itu, SpaceX dikabarkan telah berhenti menjual peluncuran komersial menggunakan roket Falcon 9 untuk misi-misi yang dijadwalkan setelah tahun 2028. Penggunaan roket Falcon 9 untuk misi NASA juga berpotensi dihentikan, setelah dalam rapat Panel Penasihat Keselamatan NASA pada akhir Oktober lalu, Kent Rominger menyebutkan bahwa Kendaraan Deorbit AS (modifikasi dari wahana Dragon) yang diluncurkan ke ISS setelah tahun 2030 kemungkinan memerlukan roket selain Falcon 9.

Perubahan sikap ini juga merambah ke sektor militer, di mana Politico melaporkan bahwa SpaceX telah memberitahu Angkatan Luar Angkasa AS bahwa mereka tidak akan mengajukan penawaran untuk tiga kontrak peluncuran baru pada akhir dekade 2020-an. Kontrak tersebut sebenarnya berada di luar komitmen eksisting SpaceX terhadap militer AS.

Di samping itu, SpaceX sebelumnya sempat memberikan estimasi biaya kasar atau ROM untuk layanan peluncuran kepada perusahaan-perusahaan swasta yang membangun pendarat kecil untuk program Pangkalan Bulan NASA di bawah program Commercial Lunar Payload Services. Kendati demikian, menurut tiga sumber berbeda, SpaceX baru-baru ini telah memberitahu perusahaan-perusahaan wahana pendarat bulan tersebut bahwa mereka tidak akan menyediakan layanan peluncuran yang diminta.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *