Daftar Isi
Klub divisi empat Liga Inggris, Fleetwood Town, mencatatkan kejutan besar setelah menyingkirkan raksasa Premier League, Arsenal, melalui adu penalti pada laga Carabao Cup di Stadion Highbury, Fleetwood. Hasil ini memicu perayaan hangat dan sukacita dari para pendukung serta warga di kota pesisir barat laut Inggris tersebut.
Sejarah Unik Dua Klub Berbeda Kasta
Kemenangan Fleetwood terasa kian istimewa mengingat adanya hubungan unik antara kedua klub yang terpisah 84 peringkat dalam sistem tata tingkat sepak bola Inggris tersebut. Stadion Fleetwood dinamai Highbury karena berbatasan langsung dengan Highbury Avenue, nama yang sama dengan markas bersejarah Arsenal yang digunakan hingga 2006.
Selain itu, Fleetwood mengenakan seragam kandang berwarna merah dengan lengan putih yang mirip dengan kostum klasik Arsenal. Seperti dilaporkan The Guardian, seorang pramusaji di kedai King’s Arms, Ray Curtis, menceritakan bahwa kostum pertama yang pernah dimiliki Fleetwood merupakan pemberian langsung dari Arsenal. Pada era 2000-an, Fleetwood juga pernah diperkuat penyerang asal Brasil bernama Magno Vieira, yang memiliki nama belakang sama dengan mantan kapten Arsenal, Patrick Vieira.
Antusiasme Warga dan Atmosfer Pertandingan
Di Stadion Highbury yang berkapasitas 5.300 penonton, suasana sibuk masih terasa pada Rabu pagi saat lampu stadion rakitan yang disewa khusus untuk laga tersebut mulai dikemas. Manajer Tiket dan Toko Suvenir Fleetwood, Zsofia Wright, menuturkan bahwa timnya kini harus kembali ke realitas sebagai klub League Two setelah malam perayaan yang berlangsung hingga pukul 01.30 dini hari.
Zsofia menceritakan bahwa kejutan bermula ketika Fleetwood berhasil unggul 1-0 terlebih dahulu. Meski Arsenal sempat menyamakan kedudukan melalui gol Gyökeres pada awal babak kedua, skor imbang bertahan hingga laga dilanjutkan ke babak adu penalti yang dimenangi Fleetwood lewat lima eksekusi sempurna.
Kemenangan tersebut membuat toko suvenir klub diserbu pembeli. Syal gabungan Fleetwood dan Arsenal menjadi barang yang paling diminati, bahkan dibeli oleh pendukung Tottenham Hotspur asal London. Selain itu, kedai-kedai minuman lokal juga dipenuhi warga dan suporter tandang Arsenal yang terkesan dengan harga bir lokal senilai Rp45.000 hingga Rp50.000 (£2,20 hingga £2,50) per gelas, jauh lebih murah dibandingkan harga di London yang mencapai Rp160.000 (£8).
Harapan Dorongan Ekonomi bagi Kota Nelayan
Julukan Fleetwood seperti Cod Army dan Trawlermen berakar kuat dari industri perikanan di Lancashire. Warga lokal, Sharon Brooks, mengaku sempat memperkirakan Fleetwood akan kalah telak tiga hingga lima gol, namun ia sangat bangga melihat timnya mampu menahan imbang juara bertahan Premier League dan menang di sesi adu penalti. Putranya yang berusia 12 tahun, Ryan, yang merupakan pendukung Arsenal, juga mengaku senang atas keberhasilan Fleetwood.
Kemenangan ini membawa harapan baru bagi perekonomian kota berpenduduk 25.000 jiwa tersebut. Seorang warga lokal, Paul Dagger, menyebut kota mereka membutuhkan kebangkitan ekonomi karena saat ini didominasi oleh toko barang bekas dan toko rokok elektrik. Paul bahkan mengaku sempat memasang taruhan £200 untuk kemenangan Arsenal saat jeda babak pertama setelah Gyökeres mencetak gol.
Mantan operator derek, Garry Gill, menilai hasil laga ini akan membawa dampak finansial positif sekaligus memberi rasa percaya diri bahwa tim lain tidak akan lagi menganggap Fleetwood sebagai lawan yang mudah. Sementara itu, warga bernama Jim Buckley membandingkan ukuran kota Fleetwood yang kecil dan tidak memiliki stasiun kereta api dengan Stadion Emirates milik Arsenal yang berkapasitas 60.000 penonton.
Di kedai Shark Chippy dekat pelabuhan, kesibukan makan siang meningkat pesat pascapertandingan. Petugas kedai, Louisa Smith, menuturkan bahwa melangkah lebih jauh hingga mengangkat trofi Carabao Cup akan menjadi perjuangan yang sangat berat bagi Fleetwood, namun ia tetap mendoakan keberuntungan bagi klubnya di babak selanjutnya.
Sumber: World news | The Guardian







