Dunia

Kenangan Buruk Serbuan Tikus Raksasa di Nigeria

Kenangan Buruk Serbuan Tikus Raksasa di Nigeria

Seorang kolumnis menceritakan pengalaman masa sekolahnya di asrama di Nigeria pada dekade 90-an yang dipenuhi oleh populasi tikus berukuran besar. Ribuan siswi dari berbagai penjuru negeri datang membawa koper berisi perbekalan makanan seperti sereal, gula batu, susu bubuk, dan minuman cokelat.

Kawanan Tikus Raksasa di Asrama

Kebiasaan ceroboh beberapa siswi yang membagikan makanan ringan kepada hewan pengerat tersebut membuat tikus-tikus di sana tumbuh sangat gemuk dan mendapatkan pasokan makanan yang melimpah. Pada senja hari, kawanan tikus tersebut kerap berkumpul hingga enam atau tujuh ekor bertumpuk di atas rumput dekat asrama, mirip sebuah pertemuan gelap.

Hewan-hewan tersebut awalnya akan membubarkan diri ketika didekati manusia, namun lambat laun manusia harus bertepuk tangan dan menghentakkan kaki agar mereka mau beranjak. Berbagai cerita beredar di kalangan para siswi, mulai dari tikus yang tidak acuh ketika diteriaki hingga kisah tentang tikus yang mengigit jari kaki korban sambil meniupkan angin sejuk agar korban tidak terbangun.

Penulis sendiri memiliki pengalaman pernah dikejar oleh dua ekor tikus berukuran besar saat hendak mengambil seember air pada malam hari. Sementara itu, seorang teman di asrama lain mendapati induk tikus beserta anak-anaknya yang masih merah dan tanpa bulu berada di bawah bantalnya.

Adaptasi Alam dan Trauma Jangka Panjang

Tikus-tikus tersebut sebenarnya berada di habitat asli mereka dan beradaptasi dengan kehadiran para siswi, sementara manusia justru menjadi pihak asing di wilayah itu. Menghadapi hama jenis tertentu merupakan bagian dari kehidupan di tempat-tempat yang alamnya belum sepenuhnya rusak.

Kehadiran hewan-hewan tersebut menjadi bayaran atas kebebasan yang dirasakan selama masa sekolah di asrama. Bertahun-tahun kemudian, ketika kawanan tikus mencoba menguasai New York usai masa pembatasan wilayah pandemi, ingatan masa kecil tersebut kembali muncul dan menyisakan trauma tersendiri.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *