Ekonomi

Startup Wonder Incar IPO dan Ekspansi Besar di AS

Startup Wonder Incar IPO dan Ekspansi Besar di AS
Daftar Isi
  1. Model Bisnis Terintegrasi dan Target Otomatisasi
  2. Pendanaan Miliaran Dolar dan Rekam Jejak Pendiri
  3. Ekspansi Wilayah dan Peluncuran Fitur Wonder Create
  4. Tantangan Kualitas dan Rencana Melantai di Bursa

Startup kuliner asal Amerika Serikat, Wonder, merencanakan langkah ekspansi agresif ke wilayah Texas, mengembangkan program restoran berbasis kecerdasan buatan, serta mempertimbangkan penawaran umum perdana atau initial public offering (IPO). Perusahaan yang didirikan oleh pengusaha Marc Lore pada 2018 ini telah mencatatkan lonjakan valuasi dan jumlah gerai secara signifikan dalam kurun waktu kurang dari satu dekade.

Model Bisnis Terintegrasi dan Target Otomatisasi

Wonder menempatkan dirinya sebagai platform teknologi makanan terintegrasi secara vertikal yang menyajikan beragam pilihan kuliner dari berbagai restoran ternama di satu tempat. Pengguna dapat memesan makanan secara langsung di gerai, melalui aplikasi Wonder, atau via platform pihak ketiga seperti Grubhub yang kini telah dimiliki perusahaan. Marc Lore menjelaskan kepada CNBC bahwa konsep ini dirancang untuk membuat makanan berkualitas tinggi lebih mudah diakses masyarakat luas.

Guna mencapai target harga yang lebih terjangkau dibandingkan belanja bahan pangan secara pengiriman, Wonder menghapuskan biaya pengiriman bagi pelanggan yang memesan langsung melalui aplikasinya. Perusahaan juga menolak menaikkan harga menu untuk menutup biaya komisi platform. Selain itu, proses kerja dapur mulai diotomatisasi untuk pembuatan salad dan menu mangkuk, yang nantinya akan diperluas ke pembuatan saus serta minuman. Lore menargetkan proses penyiapan dan pengiriman makanan dapat beroperasi secara otomatis sepenuhnya pada 2040.

Pendanaan Miliaran Dolar dan Rekam Jejak Pendiri

Visi besar Lore telah menarik perhatian para investor global dengan total pendanaan mencapai 3,3 miliar dolar AS hingga saat ini. Investor yang terlibat meliputi DoorDash, divisi modal ventura Alphabet yaitu GV, serta aktris Gwyneth Paltrow. Putaran pendanaan Seri D pada awal tahun ini mengerek valuasi pra-uang Wonder menjadi 9 miliar dolar AS, mendekati nilai penjualan jaringan restoran Subway dua tahun lalu.

Sebelum mendirikan Wonder, Lore memiliki rekam jejak panjang di dunia bisnis digital. Ia mendirikan induk perusahaan Diapers.com yang dijual ke Amazon senilai 545 juta dolar AS pada 2010. Enam tahun kemudian, platform e-commerce Jet.com buatannya dibeli Walmart seharga sekitar 3 miliar dolar AS, di mana ia bertahan hingga 2021 untuk memimpin pertumbuhan perdagangan elektronik Walmart. Di luar bisnis kuliner dan teknologi, Lore juga merupakan pemilik minoritas klub bola basket Minnesota Timberwolves setelah sebelumnya sepakat membeli klub tersebut senilai 1,5 miliar dolar AS bersama legenda bisbol Alex Rodriguez pada 2021, sebelum akhirnya mengurangi porsi sahamnya untuk berfokus pada Wonder.

Dalam memimpin Wonder, Lore telah menghabiskan lebih dari 1 miliar dolar AS untuk akuisisi, termasuk mengambil alih platform pengiriman Grubhub, penyedia logistik Relay, layanan bahan masakan Blue Apron, serta sejumlah restoran populer di New York. Investor dari GV, Dave Munichiello, menyatakan bahwa rekam jejak sukses Lore menjadi alasan utama pihaknya terus menanamkan modal pada proyek yang dipimpin sang pengusaha.

Ekspansi Wilayah dan Peluncuran Fitur Wonder Create

Setelah membuka sekitar 170 gerai di sepanjang wilayah Virginia hingga Massachusetts dalam tiga tahun terakhir, Wonder bersiap memasuki pasar Texas pada tahun depan. Perusahaan menargetkan pembukaan sedikitnya 100 lokasi baru di negara bagian tersebut hingga akhir 2027. Gerai Wonder dibangun tanpa saluran gas atau ventilasi khusus serta menggunakan listrik sepenuhnya, sehingga mempercepat proses renovasi dan perizinan lokasi baru.

Makanan diolah awal di dapur terpusat sebelum dikirim ke setiap gerai untuk dimasak dan disajikan oleh karyawan. Konsep ini menyediakan menu lebih dari dua lusin merek restoran, termasuk Dabba Indian Kitchen, Tejas Barbecue, dan Pop Salad, serta menu kreasi koki ternama seperti Bobby Flay, Michael Symon, dan Marcus Samuelsson yang mendapatkan kompensasi awal dan saham perusahaan. Wonder juga menolak disamakan dengan konsep dapur bayangan (ghost kitchen) karena gerainya menyediakan area makan langsung bagi pelanggan.

Mulai 17 November, Wonder berencana meluncurkan inovasi baru bernama Wonder Create. Melalui program ini, para pembuat konten atau pengusaha dapat membayar biaya langganan 10 dolar AS per bulan untuk mengoperasikan “restoran” virtual milik mereka sendiri dari gerai Wonder dan menerima bagian dari hasil penjualan. Teknologi kecerdasan buatan akan membantu merancang identitas merek, nama, logo, penetapan harga, hingga resep masakan. Selain itu, Wonder sedang menguji platform AI bernama MEL yang dirancang untuk menyusun menu makanan harian sesuai indikator kesehatan penggunanya.

Tantangan Kualitas dan Rencana Melantai di Bursa

Meski mendapatkan dukungan dana besar dari para investor, Wonder masih menghadapi tantangan dalam memikat konsumen secara luas di tengah lesunya industri pengiriman makanan pascapandemi. Beberapa ulasan konsumen di media sosial melontarkan kritik terhadap kualitas makanan dan tingginya harga dibanding porsi yang didapat. Amir Ings, seorang warga Philadelphia berusia 27 tahun, menceritakan ulasannya di TikTok bahwa pesanan takonya seharga 16 dolar AS tergolong biasa saja dan seharusnya dihargai maksimal 8 dolar AS.

Menanggapi hal tersebut, Lore menyampaikan kepada CNBC bahwa perusahaan memantau ribuan ulasan harian terkait rasa, suhu, dan porsi makanan secara ketat guna meningkatkan kualitas masakan seiring pembesaran skala bisnis. Data transaksi dari lembaga riset Indagari menunjukkan Wonder memiliki tingkat retensi pelanggan dan nilai seumur hidup (lifetime value) yang lebih tinggi dibandingkan jaringan restoran kasual seperti Cava dan Sweetgreen, terutama di pasar kompetitif seperti New York.

Sebagai persiapan melantai di bursa saham, Wonder menunjuk Gabrielle Scheibe Rabinovitch sebagai direktur keuangan pada Maret lalu. Laporan dari media The Information menyebutkan perusahaan masih mencatatkan kerugian operasional sejak mengakuisisi Blue Apron dan Grubhub. Direktur Strategi Investasi Renaissance Capital, Avery Marquez, menilai bahwa investor publik saat ini lebih bersikap kritis terhadap startup yang mengejar pertumbuhan dengan biaya tinggi dan akan menuntut langkah nyata menuju profitabilitas sebelum mendukung penawaran saham perdana.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *