Sport

Pierre Sage Dalam Tekanan Usai Kekalahan Crystal Palace

Pierre Sage Dalam Tekanan Usai Kekalahan Crystal Palace

Pelatih Crystal Palace, Pierre Sage, berada dalam tekanan besar setelah timnya menelan kekalahan 0-2 dari Newcastle United di kandang sendiri. Kekalahan kelima dari delapan pertandingan Liga Premier Inggris musim ini membuat klub berjuluk The Eagles tersebut terpuruk di posisi empat bawah klasemen.

Reaksi Pierre Sage Usai Gelombang Cemoohan Suporter

Sorakan cemooh dari para pendukung memenuhi Stadion Selhurst Park seusai laga melawan Newcastle pada Minggu. Hasil buruk tersebut memperpanjang catatan tanpa kemenangan Palace dalam empat pertandingan terakhir di seluruh kompetisi, termasuk kekalahan telak 0-5 dari rival utama mereka, Brighton, pekan lalu.

Sage, yang baru empat bulan menjabat dari kontrak tiga tahunnya untuk menggantikan Oliver Glasner, menanggapi santai cemoohan penonton. “Tidak ada kegaduhan di dalam klub,” ujar Sage dalam konferensi pers seusai pertandingan.

Manajer asal Prancis berusia 47 tahun itu menilai reaksi keras suporter adalah hal wajar ketika tim tidak mendapatkan hasil yang diharapkan. Ia menegaskan fokus utamanya saat ini adalah mencari solusi agar tim dapat bersaing kembali.

“Saya tidak harus meyakinkan orang-orang di sekitar klub. Saya hanya harus meyakinkan para pemain untuk memberikan yang terbaik untuk bersaing dan terus berkembang,” kata Sage. Ia menambahkan bahwa keputusan mengenai masa depannya sepenuhnya berada di tangan pemilik dan pimpinan klub.

Performa Buruk dan Sorotan Pengamat Sepak Bola

Palace baru mengumpulkan tujuh poin dari delapan pertandingan liga awal musim ini. Selain memiliki rekor pertahanan terburuk di Liga Premier Inggris dengan kebobolan 19 gol, mereka juga mencatatkan hasil mengecewakan di ajang Eropa setelah kalah dari mantan klub Sage, Lyon, serta ditahan imbang 2-2 oleh Besiktas.

Sebelumnya, Sage sukses meraih penghargaan pelatih terbaik Ligue 1 setelah membawa Lens finis di peringkat kedua dan menjuarai Piala Prancis. Di bawah asuhannya, Lens dikenal memiliki gaya permainan menekan yang agresif, mencatatkan 426 kali perebutan bola di lini atas pada musim 2025-2026 yang menghasilkan 69 tembakan dan tujuh gol. Namun, skema tersebut belum berjalan efektif bersama Palace.

Kondisi ini memicu kritik dari pengamat sepak bola Prancis, Julien Laurens. Kepada BBC Radio 5 Live, Laurens menilai Sage terlalu ramah untuk menghadapi kerasnya atmosfer Liga Premier Inggris, mencontohkan sikap Sage yang sempat merasa kasihan kepada lawan saat Palace mengalahkan Fulham awal musim ini.

Pandangan serupa disampaikan mantan penyerang Manchester United, Dion Dublin, serta mantan pemain Leeds United, Lucy Ward, kepada BBC Radio 5 Live. Dublin menegaskan bahwa seorang manajer Liga Premier tidak bisa bersikap terlalu baik jika tidak ingin kehilangan jabatan akibat serangkaian hasil buruk.

Crystal Palace dijadwalkan bertandang ke markas Tottenham Hotspur pada Sabtu mendatang, sebelum menjamu Liverpool pada 8 November menjelang jeda internasional. Pertandingan pertama mereka setelah jeda internasional adalah menghadapi sesama tim papan bawah, Coventry City, pada 21 November.

Sumber: BBC Sport

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *