Produk yang diperkaya protein kini semakin diminati oleh kalangan muda, mulai dari minuman bubuk, camilan batangan, hingga puding khusus remaja. Berdasarkan survei Universitas Michigan pada 2024, hampir setengah dari orang tua melaporkan anak remaja mereka yang berusia 13 hingga 17 tahun telah mengonsumsi produk protein dalam setahun terakhir.
Kebutuhan Protein Harian
Protein berfungsi sebagai blok bangunan utama untuk metabolisme, memperbaiki jaringan otot, kulit, dan organ, serta membentuk enzim dan antibodi. Menurut Perkumpulan Nutrisi Jerman (DGE), orang dewasa yang sehat memerlukan 0,8 gram protein per kilogram berat badan setiap hari. Sementara itu, remaja yang masih dalam masa pertumbuhan dianjurkan mengonsumsi 0,9 gram protein per kilogram berat badan.
Meskipun demikian, studi di Jerman antara 2015 dan 2017 menunjukkan bahwa anak-anak dan remaja di sana kerap mengonsumsi protein secara berlebihan. Sekitar separuh dari anak-anak berusia 6 hingga 17 tahun dilaporkan makan protein lebih dari dua kali lipat jumlah rekomendasi harian.
Risiko Kelebihan Protein
Konsumsi protein yang terlalu tinggi dapat berdampak buruk dalam jangka panjang, seperti meningkatkan risiko anak menjadi kelebihan berat badan dan memicu pubertas dini. Selain itu, kelebihan protein membebani kinerja ginjal karena harus mengubah asam amino menjadi urea sebelum diekskresikan melalui urine, terutama jika asupan cairan kurang atau terdapat masalah ginjal bawaan.
Di sisi lain, kebutuhan protein akan meningkat bagi individu yang aktif secara fisik. Menurut DGE, atlet atau orang yang berlatih fisik berat membutuhkan antara 1,2 hingga 2 gram protein per kilogram berat badan, namun anjuran ini hanya berlaku bagi mereka yang berlatih lebih dari lima jam sehari.
Kritik terhadap Produk Protein
Produk bubuk dan batangan protein kerap mengandung pemanis, gula, aditif, perisa, hingga bahan tambahan yang tidak diperlukan. Universitas Olahraga Jerman di Köln bahkan menemukan adanya zat doping pada beberapa produk suplemen pembentuk otot. Konsumsi protein susu pada remaja juga dikhawatirkan dapat memicu produksi sebum berlebih yang memperparah jerawat.
Para ahli turut mengingatkan bahwa suplemen protein cenderung mahal dan dapat membuat remaja mengurangi porsi makanan biasa yang kaya serat, vitamin, serta lemak sehat. DGE menyarankan agar masyarakat, termasuk para atlet, memenuhi kebutuhan nutrisi melalui pola makan alami alih-alih mengandalkan suplemen, kecuali bagi mereka yang memiliki kondisi medis tertentu seperti alergi atau gangguan pencernaan.







