Politikus sayap kiri Luiz Inacio Lula da Silva sukses mengalahkan Senator sayap kanan Flavio Bolsonaro dalam pemilihan presiden Brasil yang berlangsung sengit. Kemenangan ini menandai sebuah kebangkitan luar biasa setelah ia sempat tertinggal pada pemungutan suara putaran pertama yang membakar semangat kubu politik kanan di negara tersebut.
Hasil Perolehan Suara dan Proses Pemilihan
Mahkamah Pemilihan Umum Tinggi Brasil mengumumkan kemenangan Lula pada pukul 21:13 waktu Brasilia setelah ia mengantongi 51 persen suara. Total lebih dari 51,49 juta suara diberikan untuk sang petahana. Sementara itu, Bolsonaro meraih 48,68 persen atau setara dengan 48,8 juta suara, dengan selisih suara di antara kedua kandidat mencapai lebih dari 2,6 juta.
Melalui pencapaian ini, Lula menorehkan sejarah sebagai satu-satunya politikus di era modern Brasil yang mampu membalikkan keadaan setelah kalah pada putaran pertama pemilihan presiden untuk kemudian keluar sebagai pemenang di putaran kedua. Kendati demikian, jalannya pemungutan suara sempat diwarnai tuduhan penekanan pemilih menyusul laporan penghentian transportasi publik di sejumlah wilayah. Sekutu Lula menuding para pendukung Bolsonaro sengaja memangkas layanan transportasi guna melemahkan basis pendukung kelas pekerja sang presiden. Di sisi lain, hujan deras juga melanda kawasan selatan yang dikenal sebagai basis kuat Bolsonaro.
Kedua kubu kampanye akhirnya mengajukan petisi kepada Mahkamah Agung untuk meminta perpanjangan waktu pemilihan, sehingga tempat pemungutan suara di seluruh negeri tetap dibuka dua jam lebih lama hingga pukul 19:00 waktu Brasilia.
Rekor Politik dan Tantangan ke Depan
Kemenangan hari Minggu tersebut memastikan Lula akan mempertahankan kursi kepresidenan di negara terbesar di kawasan Amerika Latin sekaligus mematahkan ambisi kubu sayap kanan regional. Pada usia 80 tahun, mantan pemimpin buruh pabrik logam tersebut akan dilantik pada 5 Januari 2027, memperbarui rekornya sendiri sebagai presiden Brasil tertua yang disumpah sejak kembalinya negara tersebut ke jalur demokrasi. Hasil pemilu ini juga memberikannya masa jabatan keempat yang tidak berturut-turut.
Lula memasuki putaran kedua dengan status sebagai pihak yang tidak diunggulkan setelah tertinggal dari Bolsonaro pada pemungutan suara putaran pertama yang digelar pada 4 Oktober. Pada saat itu, ia hanya meraup 45 persen suara berbanding 47 persen milik sang senator sayap kanan. Namun, dalam beberapa pekan berikutnya, Lula berhasil menggalang dukungan publik melalui isu biaya hidup, termasuk memperjuangkan amendemen konstitusi yang memangkas jam kerja mingguan serta mewacanakan penyediaan transportasi umum gratis pada akhir pekan.
Lula yang memulai karier politiknya pada era 1980-an telah mengikuti pemilihan presiden sebanyak tujuh kali dan sebelumnya pernah memimpin selama dua periode berturut-turut dari tahun 2002 hingga 2010, serta memenangi masa jabatan ketiga pada tahun 2022. Pesaingnya dalam pemilu saat itu adalah mantan Presiden Jair Bolsonaro yang merupakan ayah dari Senator Flavio Bolsonaro. Saat ini, Jair Bolsonaro tengah menjalani hukuman penjara selama 27 tahun atas keterlibatannya dalam rencana kudeta pascakekalahannya dari Lula.
Walaupun berhasil mengukuhkan posisinya sebagai salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah modern Brasil, pemerintahan Lula pada masa jabatan keempatnya diperkirakan akan menghadapi tantangan berat dalam mendorong prioritas legislatif akibat keberadaan Kongres paling kanan dalam sejarah baru Brasil.







