Ibu Negara Amerika Serikat Melania Trump mengumumkan keberhasilannya menengahi gencatan senjata lokal antara Rusia dan Ukraina di kota Oleshky yang mengalami kerusakan parah akibat perang. Pengumuman mengejutkan ini disampaikan di tengah kondisi warga yang terjebak dan persediaan makanan yang semakin menipis di wilayah garis depan tersebut.
Ketentuan Gencatan Senjata dan Evakuasi Warga
Berdasarkan informasi yang dilaporkan AFP pada Sabtu (24/10/2026), gencatan senjata tersebut dijadwalkan mulai berlaku pada 29 Oktober, meskipun kepala militer Rusia menyatakan akan mematuhinya lebih awal mulai pukul 01.00 waktu setempat pada 27 Oktober. Melalui kantornya, diputuskan bahwa penduduk di kota yang diduduki Rusia itu diberikan kebebasan untuk memilih evakuasi ke arah Ukraina atau Rusia.
“Situasi di Oleshky sangat mengerikan. Oleshky adalah kota garis depan perang yang berada di ambang bencana,” ujar istri Presiden AS Donald Trump yang berusia 56 tahun itu dalam pernyataannya.
“Sangat jelas bahwa tanpa intervensi saya, upaya untuk menyalurkan bantuan kemanusiaan ke dalam kota serta mengevakuasi warga lanjut usia akan mustahil dilakukan,” tambahnya.
Tanggapan Para Pemimpin dan Rencana Lanjutan
Pihak Kremlin memberikan sambutan positif terhadap langkah kemanusiaan tersebut, sementara hingga kini belum ada tanggapan langsung dari pihak Ukraina. Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, memuji kontribusi Ibu Negara AS dalam tercapainya kesepakatan di Oleshky dan menyatakan pihak militer sedang mengoordinasikan kerangka waktu gencatan senjata.
Presiden AS Donald Trump turut memuji inisiatif istrinya yang disebut muncul usai kantornya menjalin kontak dengan pihak-pihak terkait. “Yang ingin ia lakukan adalah menyelamatkan anak-anak,” ucap Trump kepada para wartawan, seraya menyebut gagasan agar istrinya ikut serta dalam perundingan damai trilateral bulan depan sebagai ide yang patut dipertimbangkan.
Dalam rencananya, Melania Trump menyebut dirinya bertindak sebagai perantara eksklusif yang bekerja sama dengan pimpinan Rusia dan Ukraina. Pemimpin sipil dari kedua negara nantinya akan mendatangi kota yang hancur untuk menilai kebutuhan bantuan, sementara warga yang mengungsi akan memperoleh dukungan terkoordinasi dan transportasi pilihan.
Proses tersebut juga akan didampingi oleh sebuah organisasi media Amerika yang imparsial untuk mendokumentasikan kegiatan di lapangan dan memastikan keinginan penduduk tetap dihormati, kendati identitas organisasi berita itu tidak dirinci oleh Ibu Negara.
Sumber: News - Detikcom







