Kerangka dinosaurus yang baru diidentifikasi dan sebelumnya sempat disangka sebagai Tyrannosaurus rex muda berhasil terjual seharga USD47,3 juta atau sekitar Rp757 miliar dalam sebuah lelang di New York. Kerangka setinggi tiga meter yang dijuluki “Jodi” tersebut dilelang oleh Sotheby’s menyusul konfirmasi para peneliti setahun lalu bahwa spesimen itu milik genus yang berbeda.
Penemuan dan Karakteristik Fosil
Karnivora dari periode Kapur Akhir ini awalnya diperkirakan hanya akan laku setidaknya USD9 juta saat mulai dilelang pada hari Selasa (15/10). Penjualan ini menyusul pencapaian balai lelang Sotheby’s pada bulan Juli ketika mereka menjual T. rex bernama “Gus” seharga USD50,1 juta. Sotheby’s menyebut “Jodi” sebagai kerangka yang sangat siap untuk dipamerkan dengan sekitar 191 elemen tulang fosil serta bagian tengkorak yang terawetkan dengan indah dan hampir utuh.
Sotheby’s menyampaikan bahwa Nanotyrannus merupakan salah satu dari hanya tiga kerangka sejenis yang diketahui oleh sains. Spesimen tersebut menjadi yang pertama masuk ke pasar sejak keberadaan genusnya dikonfirmasi oleh para peneliti Amerika Serikat pada Oktober lalu. Identitas pembeli yang memenangkan lelang setelah pertarungan sengit selama 12 menit di antara enam pihak yang berminat tidak diungkapkan ke publik.
Megan Jenkins, seorang paleontolog dari University of Portsmouth, menuturkan kepada program Today di BBC Radio 4 bahwa Nanotyrannus sempat diyakini selama waktu yang sangat lama sebagai remaja dari T. rex. Namun, ukurannya jauh lebih kecil dan lebih ramping dengan gigi mirip pisau untuk merobek daging. T. rex dan Nanotyrannus hidup berdampingan pada periode geologi yang sama sekitar 67 juta tahun lalu.
Sebelum genus Nanotyrannus diklasifikasikan, “Jodi” sempat dipamerkan sebagai T. rex muda dalam pameran seni internasional Frieze Masters di London pada Oktober 2023. Kerangka tersebut ditemukan di negara bagian Montana, Amerika Serikat, oleh seorang peternak bernama Jodi Pierson di atas tanah miliknya di Formasi Hell Creek, sebuah situs geologi yang banyak diteliti. Fosil itu kemudian diekskavasi oleh paleontolog komersial Clayton Phipps.
Phipps juga merupakan penemu fosil “Dueling Dinosaurs” yang terkenal. Spesimen yang memperlihatkan sisa-sisa Nanotyrannus dan Triceratops dalam posisi seolah-olah bertempur itu ditemukan berjarak 13 kilometer dari lokasi “Jodi” pada tahun 2006. Penemuan “Dueling Dinosaurs” menjadi sangat krusial bagi riset yang diterbitkan oleh Lindsay Zanno dan James Napoli, yang mengklasifikasikan Nanotyrannus sebagai spesies yang terpisah dari T. rex sekaligus mengakhiri perdebatan selama puluhan tahun.
Perdebatan Ilmiah Seputar Lelang Fosil
Penjualan “Jodi” terjadi di tengah kekhawatiran sejumlah ilmuwan bahwa lelang dapat menandai era baru dalam pengumpulan fosil oleh kalangan super-kaya. Para peneliti mengungkapkan kepada BBC setelah penjualan “Gus” bahwa sisa-sisa purba semacam itu seharusnya dipamerkan di ruang publik agar dapat diteliti secara lebih bebas.
Profesor Steve Brusatte, seorang paleontolog dari University of Edinburgh sekaligus konsultan film Jurassic Park, menilai lelang T. rex pada bulan Juli lalu sebagai hal yang mengkhawatirkan. Ia tidak mengetahui ada museum atau universitas yang mampu menanggung harga setinggi itu dan mengibaratkannya seperti lukisan Mona Lisa yang dimiliki oleh orang super-kaya tanpa bisa dinikmati publik. Ia berharap penjualan semacam itu tidak menjadi tren karena dapat berdampak buruk terhadap penelitian ilmiah dan pendidikan publik.
Menanggapi lelang tersebut, Brusatte menyatakan bahwa sangat memilukan jika “Jodi” nantinya menghilang dari pandangan publik. Ia menyebutkan bahwa dunia baru saja mengetahui keberadaan Nanotyrannus yang nyata, namun kini salah satu kerangka terbaiknya justru jatuh ke tangan penawar tertinggi dan dikhawatirkan lenyap di dalam brankas seorang kolektor pribadi.
Di sisi lain, Megan Jenkins berpandangan bahwa terdapat dua sudut pandang dalam perdebatan ini mengingat banyaknya waktu, tenaga, dan biaya yang dikeluarkan untuk mengekskavasi spesimen-spesimen tersebut. Menurutnya, ia tidak merasa keberatan pihak-pihak yang terlibat ingin menjualnya dengan harga tinggi. Meskipun menjadi prospek yang menakutkan, banyak di antaranya yang pada akhirnya tetap berakhir di ruang publik dan masuk ke museum pada suatu titik.
Sumber: BBC News







