Teknologi

Peretasan Chainalysis: Data dan Token Pengguna Bocor

Peretasan Chainalysis: Data dan Token Pengguna Bocor

Perusahaan analisis blockchain asal Amerika Serikat, Chainalysis, mengonfirmasi bahwa peretas telah memperoleh data pribadi sensitif para penggunanya menyusul insiden pembobolan sistem keamanan jaringan perusahaan.

Data yang berhasil diakses oleh peretas mencakup nama pengguna, identitas pengguna, hash kata sandi, token aktif, alamat email, hingga label peran organisasi pada platform tersebut. Peretasan ini berpotensi memberikan dampak luas mengingat Chainalysis memiliki jajaran klien penting, mulai dari lembaga pemerintah Amerika Serikat seperti FBI, US Immigration and Customs Enforcement (ICE), dan US Air Force, hingga perusahaan swasta besar seperti Microsoft, Coinbase, dan Barclays.

Modus Operasi dan Penggunaan Kecerdasan Buatan

Seperti dilaporkan Ars Technica, Chainalysis mengumumkan insiden peretasan tersebut pada Jumat pekan lalu. Perusahaan menyebutkan bahwa serangan siber yang terjadi pada Oktober tersebut memiliki pola serupa dengan insiden peretasan yang menimpa beberapa platform lain pada bulan yang sama. Pelaku menggunakan teknik peretasan ofensif dengan bantuan agen kecerdasan buatan (AI) untuk mengakses sistem internal serta perangkat operasional Chainalysis secara tidak sah.

Melalui surat elektronik yang dikirimkan kepada para pengguna terdampak, pihak perusahaan sempat menyatakan bahwa sebagian informasi yang diakses—seperti identitas pengguna, nama lengkap, alamat email, dan label peran dalam organisasi—merupakan data yang tidak sensitif. Meski demikian, tidak dijelaskan alasan perusahaan menganggap jenis data tersebut tidak sensitif.

Dalam pembaruan informasi pada Rabu lalu, Chainalysis menjelaskan bahwa insiden ini merupakan bagian dari serangan siber multilini yang masih berlangsung. Salah satu tahap peretasan melibatkan metode on-path attack—yang juga dikenal sebagai adversary-in-the-middle attack—sehingga menyebabkan sebagian kata sandi pengguna terekspos. Serangan jenis ini terjadi ketika peretas berhasil menyusup ke dalam jalur infrastruktur yang menyalurkan lalu lintas data antara dua pihak.

Chainalysis menegaskan bahwa celah keamanan yang menjadi jalur serangan tersebut telah diidentifikasi dan ditutup. Hingga saat ini, pihak perusahaan belum membeberkan titik infrastruktur tempat peretasan terjadi serta belum mengonfirmasi apakah data yang diambil pelaku terlindungi oleh enkripsi TLS atau tidak.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *